Satu misi kampoeng Relawan adalah mewujudkan Kewirausahaan Sosial di kalangan sukarelawan PMI. Implementasinya adalah menyelenggarakan Sarasehan Kewirausahaan Sosial dalam kegiatan KBN 2014 di Ruang Theatre STIKes Muhammadiyah Gombong pada Jumat, 15 Agustus 2014 yang akan menghadirkan para pembicara kompeten di bidangnya.
KARYA BAKTI UNTUK NEGERI: KOPDAR ALA KAMPOENG RELAWAN - BAGIAN II
Silaturahmi sangat dianjurkan oleh agama, khususnya Islam. Selain akan memperpanjang umum, juga membawa rejeki. Karya Bakti untuk Negeri (KBN) 2014 di Kebumen oleh Komunitas Sosial Media Kampoeng Relawan akan menjadi ajang silaturahmi sukarelawan PMI se Indonesia yang dirancang membawa banyak nilai tambah.
Sebagai implementasi tujuan berdirinya Komunitas Sosial Media Sukarelawan PMI Kampoeng Relawan yaitu menguatkan upaya untuk kebaikan dan perbaikan organisasi PMI, komunitas yang telah memberi warna khusus bagi PMI masa depan ini akan menyelanggarakan satu kegiatan bersamaan perayaan Idul Fitri 1435H dan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke 69 tahun 2014
Lomba Kreativitas bagi PMR Madya setingkat SMP/MTs ini dimaksudkan agar memberi nuansa yang lebih luas dan membuka wawasan baru bagi para Pembina Pangkalan PMR Madya tentang beragam potensi kreatif anggota PMI yang sangat mungkin akan memajukan Pangkalan dan anggotanya
Salah satu cara mengenalkan kegiatan Kepalangmerahan di lingkungan sekolah atau madrasah setingkat SD dan MI adalah menghadirkan pola pembinaan PMR Mula yang cakupan kegiatannya lebih luas dan variatif untuk menguatkan kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah atau Dokter Kecil.
Pro dan kontra pembentukan Jejaring Diaspora Indonesia
(Indonesia Diaspora Network-IDN) mewarnai perjalanan mereka. Di tengah penyelenggaraan
Kongres I Diaspora Indonesia di Los Angeles Convention Center, Amerika Serikat:
6 – 8 Juli 2012 yang menggunakan dua
bahasa: Inggris dan Indonesia dan dibuka dengan lagu Tanah Air oleh anak
penyanyi kondang Broery Pesolima, Laya Pesolima didampingi 3 penyanyi latar,
ada demonstarsi kecil oleh sekelompok orang yang mengatas-namakan kaum
minoritas Kristiani. Meski tidak mengganggu jalannya kongres itu, video
demonstrasi yang ditayangkan You Tube ini menjadi bukti bahwa niat ribuan
diaspora Indonesia untuk menyatukan pikiran, daya dan laku menuju satu Jejaring
Diaspora Indonesia akan mengalami tantangan. Tentang adanya tantangan itu,
inisiator Diaspora Indonesia yakni Dr. Dino Patti Djalal di tengah acara
Lokakarya Nasional Diaspora Indonesia di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Selasa 26 Februari 2013.Tujuh tantangan itu adalah sebagai
berikut:
1.Pertama, adalah diaspora Indonesia harus mengerti dan
memahami semua komunitas diaspora Indonesia.
2.Pemerataan komunitas diaspora Indonesia di seluruh wilayah.
3.Ketiga, anggota diaspora harus mulai bergaul di luar area
komunitas mereka sendiri.
4.Mencari cara untuk dapat memastikan gerakan ini akan bertahan
lama. Menurut Dino, sebuah komunitas diaspora yang sukses adalah komunitas yang
memulai gerakannya diam-diam. Setelah gerakannya dinilai besar, baru kemudian
dipublikasikan.
5.Tidak terjebak menjadi komunitas yang terlalu birokratis. Semua
ide dan jaringan dari para anggota dapat mengalir dengan alami dan tidak
dipaksakan.
6.Harus menghindari konflik internal di antara anggota diaspora
Indonesia.
7.Sementara tantangan ketujuh adalah menghindari keterlibatan
di dunia politik Indonesia.
Dijelaskan oleh
inisiator, bahwa saat ini masih belum mampu memastikan jumlah dan keberadaan
para diaspora Indonesia itu. Perkiraan angka moderat 6 – 8 juta orang atau
angka optimis sekitar 10 juta orang adalah satu angka prediktif melalui
pengamatan dan hasil interaksi dengan berbagai komunitas diaspora Indonesia
pasca pelaksanaan Kongres I. Hal ini saya anggap masuk akal karena pada sesi
pembukaan yang seorang peserta dari Afrika Selatan yang masih bertalian darah
dengan tokoh penyebaran Islam di sana, Syeh Yusuf yang berasal dari Makassar menceritakan
secara antusias latar belakang diaspora Indonesia di bekas negeri apartheid
itu. Ia seorang politisi dan anggota parlemen. Namanya Dr. Ibrahim Rasul
(seperti nama mantan anggota KPK di jaman pak Bibit Samad jadi ketuanya).
Dalam paparannya
yang cukup panjang tentang misi diaspora “ …we’re moslem, but Indonesian. We’re
Indonesian, but the human being.. that’s enough. It’s our vision “. Sebelum
mengucapkan hal itu, beliau memaparkan kisah perjuangan Syekh Yusuf (Makasar)
dan Tuan Guru dari Tidore di bidang pendidikan dan kesetaraan hak (asasi)
manusia. Yang tak kalah penting dari isi sambutannya ialah cerita para orang
Indonesia di Afrika Selatan dalam mendukung perjuangan bangsa Indonesia melawan
kolonialisme Belanda dan Inggris.
Mengamati
kisah-kisah perjalanan diaspora Indonesia di berbagai belahan penjuru dunia
baik melalui berita on line, reportase televise dan video You Tube, ada satu
kesamaan di antara banyak perbedaan yang mengemuka. Diaspora Indonesia cinta
dan ingin berbuat sesuatu buat Indonesia. Bagi mereka, Indonesia bukan hanya
tanah lahir yang layak dikenang dari sisi manisnya. Tapi ada kepercayaan besar
bahwa Indonesia adalah satu kekuatan yang saat ini masih tercerai-berai. Satu
diantaranya adalah mereka sendiri, diaspora Indonesia. Melalui ikatan batiniah
yang sangat sulit diukur dengan angka baik jumlah orang maupun aset yang
dimiliki, potensi kekuatan yang masih tersimbang dalam masing-masing Diaspora
Indonesia akan coba dipadukan dengan kekuatan yang ada di tanah air, Indonesia
Raya.
Seperti umumnya
sebuah gerakan besar yang diawali dengan gagasan mulia, tentu akan banyak
mengalami tantangan dan hambatan. Bagaimana seorang Henry Dunant yang sudah
mapan secara sosial dan ekonomi pada awalnya dicibir dan ditentang oleh banyak
orang di negerinya, justru mendapat apresiasi tinggi di luar negaranya dalam
menumbuh-kembangkan Gerakan kemanusiaan yang sekarang telah mendunia sebagai
Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional sebagai satu gerakan
yang diakui derajat kepercayaannya sangat tinggi. Konsistensi memelihara nilai
dasar (core value) gerakan dalam mengaktualisasikan
prinsip-prinsip dasar kemanusiaan, kesamaan, kenetralan, kemandirian,
kesukarelaan, kesatuan dan kesemestaan adalah jaminan kepercayaan itu.
Dalam beberapa hal,
gagasan menyelenggarakan Jejaring Diaspora Indonesia memiliki kesamaan dengan
gerakan yang digagas oleh Henry Dunant. Terutama dalam asas kemanusiaan dan
kesamaan. Memang banyak diaspora Indonesia yang dilatarbelakangi masalah
ekonomi atau perbaikan nasib. Tetapi tidak sedikit yang asalnya atau faktor pendorong
utama menjadi diaspora adalah sebagai korban konflik politik dan sosial di
Indonesia. Bagi korban konflik politik,
tantangannya lebih besar dari pada yang menjadi korban konflik sosial. Faktor traumatiknya
juga lebih besar ketimbang yang beralasan ekonomi atau perbaikan nasib dalam
artian umum.
Di balik sejumlah
tantangan yang diidentifikasikan oleh penggagasnya di atas tentu ada peluang
yang dapat menambah bobot kekuatan (potensi kekuatan) mereka. Anggap dan
perlakukan tantangan itu sebagai peringatan dini atau upaya mitigasi sebelum
berubah menjadi bencana. Dan saya yakin mereka telah mengetahui serta
mengantisipasi semua tantangan itu dengan cermat. Jebakan-jebakan pragmatis
yang bernuansa politik seperti permintaan menjadi satu daerah pemilihan khusus saya
yakin akan dihindari sebagai satu tema besar untuk sementara waktu. Pada
tataran wacana, hal itu sangat dimungkinkan mendapat tempat. Tapi, menjadikan
wacana itu sebagai satu keputusan konkret dan mendesak dalam Kongres II
Diaspora Indonesia yang bertema “Pulang Kampung” di Jakarta bulan Agustus
mendatang, nampaknya akan sulit diwujudkan. Terutama bagi korban konflik
politik nasional maupun lokal.
Keprihatinan anak-anak negeri di mana pun atas situasi Indonesia
hari ini, mengutip Immanuel Kant, mencerminkanempirical apperception. Perasaan getir
warga bangsa melampaui apa yang dibayangkan kalangan elite. Maka, ketimbang
berharap kepada negara yang berpilin dengan ragam kompleksitas, inisiatif
berupa gerakan-gerakan kecil berkualitas, berdaya jangkau mondial, dapat
disodorkan sebagai alternatif keluar dari perangkap kejumudan struktural.
Kutipan tulisan Kordinator Forum Menjadi Indonesia, Suwidi Tono tentang dilema Diaspora Indonesiadi atas adalahfaktor pemicu saya untuk menelisik perjalanan gerakan mudik Indonesia terbesar di dunia menjadi serangkaian tulisan mengenai kehidupan, penghidupan dan beragam sisi menarik lainnya dari orang-orang yang memiliki keterkaitan batin dengan tanah air dan budaya Indonesia dari seluruh penjuru dunia. Gerakan mudik semacam ini menggapai sukses di RR Cina, India dan berbagai negara lainnya. Melalui tulisan ini, saya berharap ada pencerahan atas berbagai hal yang akan mengubah citra Indonesia di mata dunia. Karena gerakan ini lebih menyentuh sisi kemanusiaan dan budaya. Semoga.
Istilah Diaspora
Istilahdiaspora, dalam situs Wikipedia ini, berasal dari bahasa Yunani kunoδιασπορά, berarti penyebaran atau
penaburan benih. Ha ini digunakan (tanpa huruf besar) untuk merujuk kepada
bangsa atau penduduketnismanapun yang terpaksa atau terdorong untuk meninggalkantanah airetnis tradisional mereka; penyebaran
mereka di berbagai bagian lain dunia, dan perkembangan yang dihasilkan karena
penyebaran dan budaya mereka.
Mulanya, istilahDiaspora(dengan huruf besar) digunakan oleh
orang-orang Yunani untuk merujuk kepada warga suatu kota kerajaan yang
bermigrasi ke wilayah jajahan dengan maksud kolonisasi untuk mengasimilasikan
wilayah itu ke dalam kerajaan.
Pada abad ke-20 khususnya telah terjadi krisis pengungsi etnis
besar-besaran, karena peperangan dan bangkitnya nasionalisme, fasisme, komunisme dan rasisme serta karena berbagai bencana alam
dan kehancuran ekonomi. Pada paruh pertama abad ke-20
ratusan juta orang terpaksa mengungsi di seluruh Eropa,
Asia, dan Afrika Utara. Banyak dari para pengungsi ini mampu bertahan hidup dari faktor kelaparan atau perang, kemudian pergi ke benua Amerika.
Diaspora Indonesia
Pergolakan politik
selalu menimbulkan korban, terutama pada orang-orang yang sama sekali tak
pernah tahu kepentingan yang ada di dalamnya. Pengiriman sejumlah mahasiswa di
negara-negara Eropa Timur oleh Presiden Soekarno sebagai upaya memajukan
kehidupan dan penghidupan bangsa pada tahun 1956 adalah satu diantaranya.
Gagasan Bung Karno itu diilhami oleh keberhasilan Jepang yang melakukan hal
serupa dan gemilang. Sementara itu, meletusnya peristiwa Gerakan
30 September 1965 (G 30 S) yang selama ini diidentifikasikan (cenderung
diindoktrinasikan) sebagai perbuatan kaum komunis lewat partai mereka (PKI)
menjadi penyebab utama sebagian mahasiswa dan ilmuwan tadi memutuskan tidak
kembali ke tanah air. Ada yang menetap di negara itu, ada juga yang menjadi
imigran di berbagai negara.
Hal serupa terjadi
pula pada peristiwa kerusuhan massa pada Mei – September 1998 di berbagai
tempat di Indonesia. Tak hanya di kota-kota besar: Jakarta, Surabaya dan Solo. Di kota kecil dan miskin seperti Kebumen mengalami hal serupa. Peristiwa kelam dalam sejarah peradaban manusia Indonesia modern tentu tak akan melupakan Tragedi Semanggi dan Trisakti yang menimbulkan korban jiwa dan harta
benda, sepertinya menjadi pengulangan atas peristiwa sejarah hitam pergolakan
elit politik seperti di masa kejatuhan Bung Karno sebagai Presiden RI dan Pemimpin Besar Revolusi. Jika di masa akhir pemerintahan Bung Karno yang “dituduh
sebagai dalang” adalah PKI dan Dewan Revolusi, peristiwa tragis 1998 tak pernah
jelas siapa dalangnya.
Ilustrasi di atas
menggambarkan betapa besar pengorbanan yang harus ditanggung oleh orang awam
untuk “membayar” sebuah perubahan peta politik di negeri ini. Para korban
pergolakan atau konflik politik yang terpaksa harus meninggalkan masa lalunya
di tanah kelahiran, Ibu Pertiwi Indonesia, dan masih memiliki perasaan
bertumpah darah Indonesia itu ada yang
masih berstatus WNI atau telah jadi WNA. Orang-orang itu biasa disebut dengan diaspora.
Satu diantaranya adalah artis kondang Taiwan kelahiran Bogor dan besar di
Jakarta, Margareth Wang. Ia terpaksa meninggalkan Indonesia di awal
peristiwa kerusuhan massa Mei 1998 di tengah santernya isu sentimen sosial
“anti China”.
Diaspora Indonesia difasilitasi kehadirannya oleh Dr.Dino Patti Djalal yang menjabat
sebagai Duta besar RI di Amerika Serikat. Gagasan menghadirkan diaspora
Indonesia dicatat sebagai peristiwa bersejarah bagi jutaan orang Indonesia yang
hidup di berbagai belahan dunia. Dalam berbagai proyeksi masa depan Indonesia di abad
ke-21, ada satu faktor yang sering luput dalam kalkulasi bangsa : diaspora
Indonesia. "Diaspora" disini merujuk pada semua orang di luar
negeri yang berdarah, berjiwa dan berbudaya Indonesia - baik yang masih WNI
maupun yang sudah menjadi WNA. Selama ini, belum ada pendekatan dan
atensi sistematis dari Indonesia terhadap kelompok diaspora ini.Yang pasti, jumlah
diaspora Indonesia jauh lebih banyak dari yang diperkirakan, dan jauh lebih
besar dari jumlah WNI di luar negeri yang tahun 2010 tercatat sekitar 3 juta
orang. Yang menarik, diaspora Indonesia - apakah WNI maupun WNA -
mempunyai brain poweryang
luar biasa. Selama di AS, saya tak kunjung habis bertemu inovator,
entrepreneur, pelopor, edukator dari diaspora Indonesia. Karena itu,
"diaspora Indonesia" lebih dari sekedar perantau, namun suatu
komunitas besar yang padat ilmu, ide, modal dan jaringan. Saya
percaya, secara hitungan kasar, jumlah diaspora Indonesia paling tidak 2 kali
jumlah penduduk Singapura, dengan pendapatan per kapita 5 kali lipat per kapita
di Indonesia. Itulah penggalan Catatan Penggagas yang membuka cakrawala dan minat saya untuk menelisik lebih dalam apa, siapa dan bagaimana kiprah mereka. Begitu juga dengan pengklasifikasian identitas diaspora Indonesia yang menambah keyakinan atas potensi besar mereka.
Terlebih dengan munculnya Dekarasi Diaspora Indonesia yang muncul di akhir Kongres Diaspora Indonesia ( Congress of Indonesia Diaspora ) yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar RI di Los Angeles Amerika Serikat pada 6 - 8 Juli 2012 lampau. Isi deklarasi itu secara lengkap adalah sebagai berikut:
Deklarasi Diaspora
Indonesia
Kami diaspora
Indonesia.
Kami tersebar di
lima benua, terdiri dari warganegara Indonesia dan warga bangsa-bangsa dunia
yang berketurunan Indonesia.
Kami merupakan
komunitas-komunitas yang besar dan beragam dan terikat oleh tali hubungan dan
rasa kecintaan terhadap Indonesia.
Kami terdiri dari
para profesional, buruh, perawat, awak kapal, insinyur, arsitek, guru,
mahasiswa, politikus dan aktivitis, artis, wiraswasta, inovator, atlit, pemuka
agama, pemuda, ibu rumah tangga dan banyak lagi.
Kami berkumpul di
Los Angeles untuk menumbuhkan dan mengembangkan persaudaraan dengan diaspora
Indonesia di seluruh dunia, dan untuk menghubungkan sesama diaspora guna
memperbaharui dan memperkuat keterikatan dengan Indonesia.
Dengan ini kami
menyatakan:
Kami bertekad untuk
membangun sebuah komunitas global diaspora Indonesia. Untuk tujuan ini, kami
membentuk Network Diaspora Indonesia.
Kami bertekad untuk
bersinergi dengan Indonesia. Menjawab himbauan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono kepada Kongres, dan diperkuat oleh kehadiran anggota parlemen,
pemimpin masyarakat madani dan wiraswasta Indonesia, kami siap dan berkomitmen
untuk mengembangkan kemitraan dan kerjasama yang dinamis untuk kesejahteraan
bersama dengan Indonesia.
Kami berbesar hati
dengan kemajuan demokrasi, ekonomi, posisi internasional Indonesia dan budaya
Indonesia yang semakin men-dunia, dan kami percaya bahwa Indonesia akan
mengatasi tantangan yang masih ada, seperti memajukan kesejahteraan umum,
meningkatkan good governance, dan menegakkan hukum.
Kami menaruh
harapan tinggi pada masa depan cerah Indonesia yang penuh potensi, dan kami
terus percaya pada nilai-nilai Indonesia terbaik : toleransi dan harmoni,
bhineka tunggal ika, pluralisme, dan tradisi yang menghormati lingkungan.
Kami berpandangan
bahwa warisan nilai-nilai yang penuh kearifan ini perlu selalu dilestarikan
karena tanpa ini Indonesia akan kehilangan makna. Kami akan berupaya
keras untuk bersama-sama melestarikan nilai-nilai tersebut.
Kami meyakini bahwa
abad ke-21 akan menjadi abad terbaik untuk Indonesia. Untuk memenuhi harapan ini, Indonesia harus
percaya diri, adaftif, terbuka pada ide-ide baru, meritokratis, dan secara
cerdas mengelola kekayaan sumber daya alam, sumber daya manusia dan warisan
budayanya.
Diaspora Indonesia
akan menjadi penghubung (HUB) untuk gagasan, solusi, sumber-daya dan jaringan
guna membangun kesejahteraan bersama, dan kami akan menjadi suatu
kekuatan untuk perdamaian dan kemajuan.
Kami akan
mempromosikan budaya Indonesia.
Kami akan
menyebarluaskan visi ini dan bekerjasama dengan komunitas diaspora Indonesia
lainnya, dan akan berupaya untuk terus tumbuh bersama dan membantu satu sama
lain.
Ini merupakan babak
baru bagi Indonesia, dan diaspora Indonesia.
Kami mengundang
semua diaspora Indonesia untuk maju bersama kami.
Los Angeles, 8 Juli 2012
Peirstiwa bersejarah
Banyak hal menarik dari sebuah deklarasi itu. Kepercayaan atas nilai-nilai terbaik Indonesia : harmoni, bhineka tunggal ika, tradisi yang menghormati lingkungan yang penuh kearifan ini perlu dilestarikan dengan makna. Nilai-nilai yang justru tengah mengalami degradasi maknawi di dalam negeri. Budaya sinis ( cultureof cinism ) atas "nasib", kondisi aktual dan faktual Bangsa Indonesia yang sarat caci maki dan curiga karena dampak pertikaian elit politik yang tak pernah dewasa memahami kearifan itu. Persis seperti sinyalemen sastrawan Bambang Oeban yang diekspresikan dalam Sajak Tembang Negeri Jajahan. (bersambung)