SARASEHAN KEWIRAUSAHAAN SOSIAL BAGI UMUM DAN SUKARELAWAN PMI

Satu misi kampoeng Relawan adalah mewujudkan Kewirausahaan Sosial di kalangan sukarelawan PMI. Implementasinya adalah menyelenggarakan Sarasehan Kewirausahaan Sosial dalam kegiatan KBN 2014 di Ruang Theatre STIKes Muhammadiyah Gombong pada Jumat, 15 Agustus 2014 yang akan menghadirkan para pembicara kompeten di bidangnya.

KARYA BAKTI UNTUK NEGERI: KOPDAR ALA KAMPOENG RELAWAN - BAGIAN II

Silaturahmi sangat dianjurkan oleh agama, khususnya Islam. Selain akan memperpanjang umum, juga membawa rejeki. Karya Bakti untuk Negeri (KBN) 2014 di Kebumen oleh Komunitas Sosial Media Kampoeng Relawan akan menjadi ajang silaturahmi sukarelawan PMI se Indonesia yang dirancang membawa banyak nilai tambah.

KARYA BAKTI UNTUK NEGERI: KOPDAR ALA KAMPOENG RELAWAN - BAGIAN I

Sebagai implementasi tujuan berdirinya Komunitas Sosial Media Sukarelawan PMI Kampoeng Relawan yaitu menguatkan upaya untuk kebaikan dan perbaikan organisasi PMI, komunitas yang telah memberi warna khusus bagi PMI masa depan ini akan menyelanggarakan satu kegiatan bersamaan perayaan Idul Fitri 1435H dan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke 69 tahun 2014

LOMBA KREATIVITAS BAGI SUKARELAWAN REMAJA PMI (PMR) MADYA

Lomba Kreativitas bagi PMR Madya setingkat SMP/MTs ini dimaksudkan agar memberi nuansa yang lebih luas dan membuka wawasan baru bagi para Pembina Pangkalan PMR Madya tentang beragam potensi kreatif anggota PMI yang sangat mungkin akan memajukan Pangkalan dan anggotanya

LOMBA KREATIVITAS BAGI PMR MULA SETINGKAT SD

Salah satu cara mengenalkan kegiatan Kepalangmerahan di lingkungan sekolah atau madrasah setingkat SD dan MI adalah menghadirkan pola pembinaan PMR Mula yang cakupan kegiatannya lebih luas dan variatif untuk menguatkan kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah atau Dokter Kecil.

Tampilkan postingan dengan label Tulisan Khusus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan Khusus. Tampilkan semua postingan

05/05/13

MEMANCANG TIANG SELAGI MUDA Bagian I



Jelang sehari memperingati 56 tahun usia Proklamasi Kemerdekaan RI, MBM TEMPO menurunkan Liputan Khusus dengan judul sama. Diawali narasi “ sederet tokoh nasional telah menanamkan tiang prestasinya sejak dini-dalam usia dua puluhan-jauh sebelum negeri ini melahirkan kemerdekaan. Di antara mereka, ada dua yang menarik perhatian : Cipto Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara.

Cipto, anak keluarga Mangunkusumo, lahir di Pecangaan Jepara, Jawa Tengah 4 Maret 1886. Yang menarik dalam diri tokoh ini adalah jujur, tajam berpikir dan rajin. Jiwa nasionalisme dirinya tumbuh ketika menjadi siswa STOVIA, sekolah calon dokter di Jakarta yang menerapkan beragam aturan diskriminatif. Wujud “pemberontakan dirinya” muncul dalam penampilan yang senantiasa berpakaian adat Jawa yang biasa dipakai kalangan masyarakat biasa (surjan lurik) dan merokok kemenyan.  Perlakuan diskriminatif ini justru menjadi sumber utama dalam pidato-pidatonya. Penentangan dirinya terhadap sistem feodal dan kolonial terpancar kuat dalam beragam tulisan di Koran De Locomotief yang jadi corong utama pemerintah Hindia Belanda.

Feodalisme menyebabkan kepincangan-hidup dalam masyarakat. Rakyat dibatasi ruang gerak dan aktivitasnya. Keturunan yang menentukan nasib seseorang, bukan keahlian atau kesanggupannya. Jadi, meski cerdas dan hebat, seorang keturunan masyarakat biasa akan tetap ditinggalkan oleh keturunan bupati atau kalangan ningrat lainnya. Sementara itu, kolonialisme mengedepankan sikap diskriminatif di sektor formal: sekolah, pekerjaan di lingkungan pemerintah dsb. Perjalanan Cipto Mangunkusumo menentang praktik feodal dan kolonial selengkapnya ada juga di sini.

Sifat-sifat penjajah yang ditentang keras oleh Cipto Mangunkusumo kini, setelah 67 tahun Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, sifat-sifat dasar feodalisme muncul kembali dalam bentuk yang sedikit berbeda. Intinya sama, menganggap diri atau kelompoknya sebagai manusia yang lebih: berharga, layak dihormati, mengutamakan bentuk dari pada isi, mengedepankan formalitas  dan berbagai sikap dasar penjajah tanpa ragu dan malu mempertontonkan kepada masyarakat luas.    

19/03/13

Buku Sejarah Bangsaku - Menggali Gundah Penyair Bambang Oeban-Bagian Dua



Layar kaca telah kehilangan warna
cerita sejarah bangsa tiada berguna
musuhnya cuma remote control

Inilah kabar negeriku
cerita sejarah bangsa tersingkir
oleh anak bangsanya sendiri
Warisan suci nenek moyang
dibiarkan menggelandang di bawah jembatan
pada peradaban tehnologi modern

Buku sejarah kebudayaan bangsa,
dibumihanguskan oleh robot penakluk
produk impor atas nama pemujaan
akan selera kemaksiatan

Mesin-mesin waktu terus memburu
menggilas bacaan dan tatanan kebangsaan
Anak bangsa jadi dibutakan sudut pandang
Situasi negeri dibanjiri bacaan dan tontonan
kiriman bangsa asing yang menjajah
tata budaya yang jelas tak sama
Norma susila bangsa dirubah ujudnya
digilas pasar serba bebas !
Inikah cerita tragedi sejarah anak bangsa
Tanggung jawab siapa?



Gundah penyair Bambang Oeban adalah realita kehidupan saat ini. Ketika tontonan jadi tuntunan. Lihat dan simak program acara di semua saluran televisi.  Monoton dan penuh plagiat. Menghujat sana atau menghakimi sini.  Dari terbit sampai tenggelam matahari dan berganti hari. Saluran yang semula ingin fokus pada sisi edukatif, berubah jadi saluran yang mengklaim sebagai saluran bagi penggemar aliran musik tertentu sebelum diambil alih satu grup perusahaan yang tengah naik daun.  Apalagi kalau bukan untuk alasan kocek dan meraup iklan.

Coba perhatikan di sekeliling kita. Berapa banyak anak dan orangtua (terutama ibu) yang menghabiskan waktu menonton televisi dengan remote control selalu di tangan? Apa yang ditonton dan bagaimana dampaknya buat keluarga? Soal yang ditonton, bisa menu acara apapun. Tetapi dampak yang ditimbulkan akan berbeda-beda, tetapi kita akan sangat mudah mendapati orang-orang yang autis (asyik dengan dirinya, lupa atau menunda tanggung-jawab utama). Jangankan membaca buku sebagai sumber ilmu dan pengetahuan. Memilih program acara yang bukan berita dan gosip selebriti dan sinetron duplikatif opera sabun dan sejenisnya saja sudah agak baik.

Dunia hiburan di jaman modern ini telah menembus dinding budaya, etika, moral dan agama. Filter budaya tak lagi mampu menyaring desakan produk dan jasa teknologi digital. Imbauan atau batasan intenet sehat  hanya sebaris iklan layanan masyarakat sekadar memenuhi anjuran pemerintah bagi penyedia jasa (seperti peringatan pemerintah dalam bungkus rokok!). Dari telepon selular, seorang anak SD kelas I dapat dengan mudah mengakses situs-situs porno atau permainan online yang penuh kekerasan. Bahkan, dalam blog-blog yang sebenarnya berisi hal-hal bermanfaat semisal pemahaman ahlak yang baik, tata cara beragama yang benar dan sejenisnya terselit satu atau beberapa iklan seronok yang menampilkan aurat perempuan secara terbuka.

Dampak teknologi digital terhadap budaya lokal maupun nasional  bukan saka melemahkan, tetapi telah memasuki tahap penghancuran. Lebih parah lagi, para pegiat budaya banyak yang terjebak pada sisi artefak (artifisial)  ketimbang “isi” yang merupakan hasil pergulatan keadaban manusia dalam komunitas nasional. Dalam pertunjukan wayang misalnya, nilai-nilai luhur peradaban manusia yang melatar-belakangi cerita kurang menarik perhatian penonton ketimbang karaoke campursari yang banyak diisi tampilan suara dan gerak sinden atau penyanyi bersuara mendesah serta mengundang selera seksual. Suri teladan pada tokoh-tokoh pewayangan acapkali tertutup gebyar panggung hiburan yang disukai penonton untuk melepas kepenatan hidup.

Teknologi selalu bias terhadap budaya. Produk-produk teknologi memang ditujukan untuk memudahkan dan menurunkan kadar risiko celaka fisik pada manusia. Di sisi lain, produk teknologi selalu membawa sejumlah nilai budaya masyarakat yang menghasilkannya. Seiring dengan masuknya produk dan jasa teknologi digital ke Indonesia dari “peradaban modern”, masuk pula nilai-nilai budaya efisien (murah) dan instan (cepat jadi/matang). Anak-anak perempuan di Indonesia jadi lebih cepat matang karena telah mengalami haid pertama di usia 9 – 10 tahun. Belum genap usia 11, mereka telah merasakan “tanda-tanda kedewasaan”. Organ-organ seksualnya mulai muncul dan menarik perhatian lawan jenis. Hal yang sama juga terjadi pada anak laki-laki. Mereka telah memiliki dorongan seksual yang cukup kuat. Tanda-tanda ini banyak yang lupa dipahami oleh para orang tua karena keasyikan bekerja atau beraktivitas di luar rumah. Bagi yang ada di dalam rumah, banyak juga orang tua yang autis secara sosial. Akibatnya, anak (seolah) dibiarkan tumbuh dan berkembang tanpa pola asuh yang terarah dari orang tuanya. Semakin banyak kasus perkosaan, pelecehan seksual dan beragam bentuk tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bersumber dari autisme tadi.

Kegundahan Bambang Oeban pada praktik “pasar bebas”, bila ditangkap maknanya, bukan  sekadar dalam konteks ekonomi. Tetapi meluas ke sisi-sisi rentan dalam peradaban manusia. Moralitas kini bisa diperdagangkan sebagai komoditas sosial, politik dan budaya.  Bahkan telah masuk ke ruang “sakral “ agama. Apapun bisa diperdagangkan sepanjang “pasar bebas” tetap buka. Akibatnya, pasar bebas telah membumi-hanguskan bangunan yang disebut bangsa Indonesia. Tanggung jawab siapa ? 

01/03/13

Hilangnya Senyum Sang Mentari



Tanah air Indonesia pernah dikenal sebagai sorga, jamrud di katulistiwa. Ketika VOC datang hendak membeli hasil bumi, khususnya rempah-rempah, mereka tertarik untuk “mendalami” bumi Nusantara yang satu diantaranya berisi kelompok manusia congkak yang suka menjajah bangsa sendiri. Kelompok inilah yang difasilitasi VOC agar keinginan menguasai seluruh wilayah dan segala isi tanah air dapat diwujudkan. Mereka terdiri dari raja-raja kecil, kelompok-kelompok yang menentang kekuasaan raja/ratu yang didaulat oleh rakyatnya dan para pelaku kriminal (garong, begal, rampok dan sejenisnya).

Secara kasat mata, Indonesia yang dilintasi garis katulistiwa memang tak pernah kehilangan senyum sang mentari. Tetapi senyum itu kini berubah “cibiran” sejak pagi hingga berganti hari. Dan dalam beberapa hari terakhir, cuaca panas hampir merata di seluruh negeri. Dari ibukota Jakarta, silih berganti muncul berita pemeriksaan dan penahanan para petinggi partai politik oleh KPK. Ada Anas Urbaningrum dari PD yang selama ini berkesan santun dan sederhana harus berurusan dengan lembaga pemberantasan korupsi di Indonesia ini. Ada juga Lutfi Hasan Ishaq dari PKS yang tersangkut kasus impor daging sapi. Dan  banyak kasus serupa yang nampaknya masih menjadi bom waktu. Menunggu giliran meledak atau diledakkan.

Hilangnya kesederhanaan Anas dan banyak pejabat politik di negeri ini tentu banyak dipengaruhi oleh rusaknya lingkungan perlindungan hukum formal dari hulu sampai hilir. Di lingkungan hulu, kasus tindak pidana pencucian uang yang dilakukan oleh mantan Gubernur Akpol jelas tidak sebanding dengan kasus nenek Ijah yang mencuri makanan untuk mengganjal perut kosongnya. Satu di antara banyak sekali contoh ketidak-adilan sosial. Betapa rusaknya lingkungan sosial dan budaya masyarakat Indonesia oleh perilaku para pemimpinnya.  Irjenpol Djoko Susilo bukan saja telah menghianati amanah orang tuanya yang memberi nama dirinya sebagai lelaki susila. Fakta itu hanya menguatkan dugaan bahwa Polri telah dihuni dan dikendalikan oleh orang-orang “berselera tinggi” serupa Djoko Susilo. Setidaknya, selaku mantan Gubernur Akpol, selera Djoko tentu telah dibaca dan dipahami cukup gamblang oleh orang-orang di sekitarnya. Mulai dari mahasiswa, staf pengajar dan mungkin juga petugas kebersihan di kampus yang mendidik para calon petinggi Polri itu.

Dengan logika sederhana, Anas dan Lutfi tidak sendirian. Dalam kasus Anas misalnya, mantan bendahara PD Nasarudin sejak awal telah mengaitkan tindak pidana korupsi yang dituduhkan kepadanya dengan peran dan posisi Anas. Lalu, bagaimana dengan Djoko yang selama ini berkecimpung di “sarang macan” ? Berbeda dengan Anas, Djoko tidak akan gegabah menyangkut-pautkan dengan para koleganya di Polri. Apalagi membawa nama sang pimpinan. Ia sangat paham tentang hal itu, termasuk risikonya. Tapi, mungkinkah seorang petinggi setingkat Djoko yang berpangkat Irjen (letnan jendral) bekerja sendirian ? Kalaupun ia akan mengaku bekerja sama dengan “orang dalam”, mereka adalah anak buah yang harus menerima perintah atasan tanpa reserve. Jawaban yang lebih jelas mungkin akan nampak di persidangan kelak.

Kasus Djoko mengingatkan kita pada sosok pak Hugeng, mantan Kapolri yang sangat bersahaja. Selaku manusia biasa, pak Hugeng tetap punya kekurangan yang dapat dimaklumi oleh publik adalah sebagai perwujudkan sisi kemanusiaannya. Dan kerinduan atas sosok pemimpin yang tegas serta sederhana  seperti beliau bukan sekadar ekspresi bernuansa nostalgia semata. Sosok polisi yang sederhana dan berwibawa memang bukan hanya ada dalam diri Pak Hugeng. Saat ini, banyak anggota Polri yang jujur dan menjaga sumpahnya sebagai abdi negara. Tak mengejar pangkat dan jabatan, apalagi kekayaan berlimpah ruah dengan memanfaatkan posisinya selaku pelayan dan pelindung masyarakat.

Dalam tulisan saya di “ Catatan Perjalanan Kebangsaan, Renungan Jelang Hari Merdeka”  telah disebut bahwa masyarakat – bangsa Indonesia dijajah kembali bukan oleh bangsa asing, tapi justru dilakukan oleh bangsa sendiri. Ketika dijajah oleh bangsa asing, semua elemen bersatu padu dalam satu asa dan daya agar merdeka dan tetap merdeka. Sebaliknya, di saat penjajahan dilakukan oleh bangsa sendiri dalam beragam bentuk dan skala, elemen-elemen itu tercerai berai. Ada yang berusaha mempertahankan diri agar kelompoknya tetap eksis dengan cara membangun kerajaan-kerajaan kecil di jalanan, kantor-kantor dan di segala tempat. Secara perlahan dan pasti akhirnya mereka mampu mendirikan kembali dinastinya. Mungkin dengan nama dan bentuk lain. Tetapi esensinya sama : menjadi kelompok penguasa melalui jejaring formal maupun non formal. Di dunia politik, mereka menanamkan “para petualang” agar dapat melancarkan misi dan visinya. Begitu juga di bidang sosial dan ekonomi. Bahkan di bidang agama yang semestinya jadi ladang amal ditebar bibit-bibit pemecah belah umat. Ada yang mendapat julukan “jarkoni (bisa ngajar, ra bisa nglakoni = omdo / omong doang atau nato/ no action, talking only dan lain-lain sebutan serupa).

Penjajahan di era modern memang lebih halus dan terselubung beragam jenis tirai: teknologi, ekonomi, budaya dan mungkin juga agama. Penjajahan melalui teknologi misalnya bisa lewat jejaring sosial di internet, piranti lunak dan keras atau yang lainnya. Sedangkan di bidang ekonomi bisa berupa praktik monopoli, kartel dan lain-lain. Praktik-praktik yang di negara asalnya telah banyak ditinggalkan. Indonesia justru mengimpor dan mengaplikasikannya melalui beragam alasan dan tangan. Kemerdekaan ekonomi, sosial dan budaya yang dapat membuat manusia Indonesia bermartabat justru dilemahkan. Akibatnya, tingkat ketergantungan kita pada bangsa asing sulit dihindari. Bahkan bertambah kuat karena kuatnya praktik perilaku menjajah.  

Betapapun berat dan sulit tantangan yang dihadapi, kita masih bisa berharap munculnya senyum sang mentari yang menghangatkan semangat hidup dan menumbuhkan generasi tahu diri sebagai anak – anak Ibu Pertiwi. Yang menyadari bahwa kehidupan sekarang adalah bagian dari perjalanan dari masa lalu. Ketika para syuhada bertaruh nyawa, apalagi sebatas jumlah harta benda dan jabatan untuk merebut dan menegakkan kemerdekaan bangsanya dari cengkeraman asing. Mendudukkan sejajar dengan bangsa-bangsa lain agar derajat kemanusiaannya diakui sama. Karena merdeka bukan hanya teriakan dan genggam buku-buku tangan yang mengepal. Dan kemerdekaan Indonesia adalah tangga menuju puncak kemanusiaan yang adil dan beradab. Haruskah kita mengingkari semua kenyataan itu?

Tanpa merdeka kita hina
karena merdeka itu benar adanya
Bukan pemberian manusia
apalagi dari tangan penjajah
dan mereka itu angkara
tak pernah membiarkan
setiap jejak langkah tuk kuatkan
asa jadi nyata
Haruskah kita berpaling dan membuang muka ?
sebagai anak-anak Ibu Pertiwi
yang setiap saat menerima sinarnya
Air susu bukan tuba….

Jagalah senyumnya
Sang mentari sejuk di ujung pagi
hangat di puncak hari
Dan meredup sampai berganti hari
Selama hayat dikandung badan

24/07/12

Catatan Perjalanan Kebangsaan, Renungan Jelang Hari Merdeka



Perjalanan Indonesia mewujudkan diri sebagai Bangsa merdeka yang bersatu, adil dan makmur semakin terseok dalam ketidak-berdayaan karena anak-anaknya kian menjauh dari jati dirinya. Bung Karno pernah berujar “ jas merah.. jangan lupakan sejarah”. Sejarah sebagai alur cerita perjalanan hidup manusia mengandung beragam makna. Ada yang mengangkat sisi obyektif agar menjadi bahan pembelajaran tentang kejujuran dan kearifan. Ada pula yang mengedepankan sisi subyektif karena kapasitas pengetahuan dan pengalaman yang sangat terbatas, penonjolan diri berlebihan atau pelibatan faktor emosional yang begitu mendalam.

Dalam satu kesempatan diskusi antar unsur DHC 45 setempat, saya (mewakili ex Tentara Pelajar) pernah melontarkan pendapat yang kemudian dinilai menohok. Bahwa sesungguhnya umur negara Indonesia hanya 5 (lima) tahun yaitu dari 1945 – 1950. Selebihnya kita dijajah oleh bangsa sendiri. Meski tidak ada tanggapan baik sanggahan maupun pertanyaan, saya telah menyiapkan jawaban yang ringkasannya sebagai berikut.

1.      Masa pemerintahan Presiden Soekarno yang dipopularkan dengan sebutan Orde Lama (orla) 1950 – 1965 adalah fase transisional. Masih diliputi oleh suasana heroisme patriotik, Bung Karno dan para pemuka politik nasional melakukan banyak eksperimen untuk meyakinkan bantuk ideal Indonesia yang memiliki beragam sumber daya. Kompromi politik dengan para petinggi NIT (Negara Indonesia Timur) menimbulkan adanya UUDS 1950 dan RIS (Republik Indonesia Serikat) yang berumur sekitar satu dasawarsa. Karena dinilai makin menyimpang dari cita – cita Proklamasi 17-8-1945, muncul  Dekrit Presiden 1959 yang intinya berisi keputusan mengembalikan UUD 1945 dan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Lima tahun berikutnya, kekuasaan Soekarno selaku Presiden dihentikan paksa yang konon karena Supersemar. Peristiwa ini masih menyisakan beberapa pertanyaan besar dan luka teramat dalam bagi sebagian orang. 

2.      Jendral Soeharto yang menjadi figur sentral di masa Orde Baru berkuasa selama hampir empat dasawarsa cenderung narsistik. “Gue banget” istilah popularnya. Sampai hal mendasar yakni Pancasila yang menjadi dasar negara, filosofi ( core values ) bangsa dan pedoman hidup bermasyarakat Indonesia tak luput dari hal itu. Muncul gerakan indoktrinasi massal melalui P4, menina-bobokan dengan beragam subsidi, memisahkan dunia pendidikan dari induknya (kebudayaan) yang menyebabkan proses erosi mental dan moral kebangsaan secara sistemik. Dan yang sangat ekslusif adalah reinkarnasi budaya feodalistik dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Pegawai Negeri Sipil dan sejenisnya dikondisikan sebagai ambtenaar (pegawai pemerintah), bukan abdi negara. Tidak mengherankan jika perilaku para petinggi di lingkungan pemerintah (dan dunia politik) cenderung menjadi penguasa. Bukan pemimpin. Imbasnya tentu saja sampai ke lapisan terbawah. Praktik KKN adalah wujud nyatanya.

3.      Periode terakhir yang dipopularkan dengan istilah Orde Reformasi tak jauh berbeda dari dua fase perjalanan sejarah kebangsaan sebelum itu. Kesan sebagai ajang “balas dendam” semakin hari kian menampakkan diri secara telanjang. Dunia politik yang begitu diagungkan, banyak diisi oleh para petualang yang enggan bersusah payah memahami konsep dasar kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang diinginkan oleh para pendiri Indonesia Merdeka. Partai tak pernah diusahakan secara bersungguh-sungguh selaku “ pusat pendidikan politik “ masyarakat oleh para pengurusnya. Ia tak lebih dari sekadar “ kendaraan menuju puncak kekuasaan”. Omong kosong untuk yang memastikan adanya “basis politik”. Kalaupun ada, mereka adalah  “kantong suara” yang setiap saat bisa bolong karena minimnya pemeliharaan. Lebih khusus lagi, hal itu hanya terjadi dalam partai tertentu yang memiliki kadar militansi tinggi.
 
Jelang usia republik ini 67 tahun, beraneka upaya untuk memelihara cita-cita kemerdekaan Bangsa Indonesia memang terus dan akan selalu dilakukan oleh beragam kalangan dengan berbagai macam bentuk dan isinya. Tapi ada satu hal penting yang selalu menjadi ganjalan yakni ketika upaya yang ingin diwujudkan atau sedang diusahakan itu bermotif perebutan kekuasaan dalam segala bentuknya kecuali di bidang kebudayaan. Karena budaya adalah representasi kehendak atas keutamaan budi pekerti, tumbuh dari kesadaran hakiki dan berkembang dalam ruang-ruang  kalbu. Dalam dan sangat luas. Semoga.

10/07/11

Perempuan Perkasa - Prolog

Catatan kecil:
Tulisan ini untuk mengenang almarhumah Ibu Atiatoen Wirjosoemarto, ibu kandung dan idolaku yang wafat setahun lalu (26 Juli 2010). Persis di malam Nisfu Sya'ban 1432H.

Prolog:

Hari menjelang sore. Seperti biasa, aku duduk di depan layar komputer. Mengamati berita yang terus bergerak sangat cepat di luaran sana. Sementara tak ada hal menarik dari semua situs berita yang kubaca. Hanya umpat, caci maki, deret orang autis dan semua membuat bosan.

Tiba-tiba ada suara memanggil namaku. Saat kudekati, lantai kamar ibuku memerah  bersimbah darah. Tanpa keluh kesah dan nada kesakitan, dalam segenap rasa berkecamuk, kuangkat tubuhnya di pembaringan. Dalam sekejap, semua perhatianku tertuju untuk memberi pertolongan pertama seperti biasa aku lakukan.

Mukanya sangat pucat, lebih dari dua liter darah segar mengalir dari luka yang selama ini selalu disembunyikan dalam ketegaran.
Wajah istriku memancarkan kepanikan luar biasa. Ia memang tak tahan dengan luka berdarah yang terus mengalir. Sambil menggunting semua pakaian dan menguatkan semangat, tangan dan mulutku terus bekerja. Akhirnya, semua ilmu dan pengalaman yang selama ini kudapatkan di jalan, tempat-tempat bencana alam dan lain-lain ajang pengabdianku bagi kemanusiaan memberi manfaat. Tak pernah tahu nama atau istilahnya. Kurasa, kami telah melakukan pertolongan pertama gawat darurat buat sang ibu tercinta.

Panik sempat juga menimpa diriku, saat kuperiksa semua tanda vital menunjuk negatif. Tak ada nafas yang keluar dari hidung. Denyut nadi hilang dan degup jantung tak terlihat lagi. Dalam sisa kesadaran dan tenaga, ku lakukan langkah yang paling kuhindari bila tidak sangat terpaksa: Resusitasi Jantung dan Paru (CPR). Langkah pertama gagal, juga yang kedua.  Sebuah keajaiban terjadi. Mahasuci Allah, dzat yang membolak-balikkan hati manusia !.
Mata tajam perempuan perkasa itu membuka perlahan, menatapku penuh makna. Saat itulah segala kesombonganku sirna. Seluruh otot dan tulangku berasa lepas satu persatu dari tubuh. Sujud syukur kepada Illahi Robbi, penguasa alam semesta dan pemilik semua yang ada di dalamnya. Satu pelajaran kehidupan yang takkan pernah kulupa. Bahwa manusia itu hanya bisa berusaha. Dan berharap pertolongan Sang Mahaperkasa lewat doa serta permohonan ampun atas segala kelemahan manusia.

Aku terduduk lemas tanpa daya
Saat segala upaya dan rencana
telah  berlalu sangat nyata
nampak sia-sia dan putus asa
begitu dekat dengan kematian
yang kukira telah terjadi
pada jasad ibuku tercinta

Tapi .. Engkau berkehendak,
maka jadilah yang tak pernah mampu
kujangkau dengan tenaga dan pikiran
Ibu..
Aku belajar lagi darimu
bahwa ihlas itu daya tiada terhingga
yang menghancurkan karang-karang kesombongan
rasa kuat dan digjaya

Ibu…
Engkau selalu berpesan,
Bukan yang banyak itu baik,
tapi yang baik pastilah yang banyak
Sepanjang niatmu tulus
dan langkah kakimu selalu di jalan itu
berjalanlah ke depan tanpa bimbang dan ragu

Ibu..
Ketika engkau dipanggil menghadap Sang Mahakuasa
dalam sakitmu bertahun sepi
yang menanggung hidup sarat amanat
pada luka yang teramat dalam
di antara bayang-bayang biadab
kasihmu tiada kau tanggalkan
dan semangat hidupmu yang membara
bagai api abadi tiada kan padam

Selamat menempuh jalan terbaik
Meniti jembatan amal baik dan buruk
yang tak bertepi
dalam bimbingan pahala yang berhimpun
pada ihlasmu yang terpelihara
Semoga surga abadi itu jadi tempatmu
Tinggal bersama sungai amal
dan taman hatimu

Ibu…
Terima kasihku tiada terhingga
Dalam doa yang selalu kupanjatkan
ketika bersimpuh, sujud di hadapanNya
Kau memang perempuan perkasa
idola dari semua idola
Semoga bahagia abadi senantiasa.
Amien ya robbal ‘alamin.

Kebumen, 10 Juli 2011



25/03/11

Sederhana tapi Muanis

Banyak tanaman murah yang tumbuh dan menghadirkan keindahan di sekitar kita. Bunga sepatu yang punya banyak corak dan warna contohnya. Juga beberapa jenis tanaman yang mudah dipelihara.

Anggrek Bulan bergelantungan

Bunga Sepatu Kuning

Bunga Sepatu Merah

Bunga Oranye



01/04/10

Markas Darurat Tentara Pelajar di Front Barat pada Perang Kemerdekaan I - 1947: Bagian 2


GUGURNYA RIDWAN DAN ACHMAD

Saat menunggu kedatangan pasukan Djokonomo, induk pasukan mendapat serangan dari sebelah Utara. Dengan keberanian luar biasa, saudara Ridwan yang bersenjata brend gun melakukan perlawanan hebat untuk menggagalkan gerakan masuk tentara Belanda ke desa Sidobunder dalam serangan yang bergelombang.
Gelombang pertama dan kedua dapat digagalkan, tapi pada kesempatan berikutnya saudara Ridwan gugur ditembus peluru musuh. Saudara Koenarso Kampret yang ada di dekatnya sempat mengamankan senjata Ridwan.

Saudara Achmad, seorang kurir yang masih sangat muda dari MBT (Markas Besar Tentara-penyunting), karena kemalaman pada 1 September 1947 memaksa dirinya tidur di markas induk. Pagi harinya setelah shalat Subuh, ia melaporkan kedatangan kepada Komandan Seksi, menyatakan ingin bergabung dengan seksi 321 dan minta dipersenjatai. Pertama, ia diberi sejumlah granat gombyok oleh mas Anggoro, tapi ditolak. Akhirnya, Komandan Seksi 321 ini merelakan senjata andalan sebuah karabijn pendek hasil perebutan dengan tentara Jepang di Kotabaru (Jogja-peny) kepada Achmad. Sementara dirinya mengalah dengan bersenjatakan granat yang akan diberikan kepada Achmad. Setelah bergabung, Achmad ikut menahan gelombang serangan itu yang akhirnya membuat pemuda itu gugur dalam menjalankan tugas.

Setelah Regu 1 datang melapor, Komandan Seksi 321 segera memerintahkan pasukannya untuk memulai pergerakan mundur. Sdr. Hapto merelakan diri sebagai penunjuk jalan, diikuti Pramono dan Kusdradjat. Sementara itu, mas Anggoro dan Fuad Sahil menelusuri jalan ke arah Timur. Sisa pasukan dibagi dua bergerak di antara rumah-rumah penduduk ke Timur di kedua sisi jalan. Dengan tenang sdr Hapto mendekati regu Maulwi Saelan. Mereka mamberi isyarat bahwa keadaan masih aman dan pasukan dapat mengikutinya ke arah Timur. Mungkin salah pengamatan karena baju seragam dan warna kulit sama dengan pasukan Belanda yang berasal dari KNIL, sebenarnya kedudukan mereka telah dikepung oleh tentara musuh. Sehingga pasukan kita telah terperangkap dalam wilayah yang telah dikuasi tentara Belanda. Pertempuran seorang demi seorang (tidak berkelompok dalam regu-penyunting) tak terhindarkan. Pada saat itu Hapto dan Pramono gugur. Komandan Seksi dan sisa pasukan yang mengikutinya ke arah Timur masih sempat berlindung di sudut desa untuk menyusun ulang kekuatan yang ada sambil mencari informasi tentang teman-teman yang jadi korban. Serta kedudukan tentara Belanda pada waktu itu. Dalam waktu yang relatif singkat, telah berkumpul 11 orang yang terdiri dari Kusdradjat, Rinanto, Fuad Sahil, Djokonomo dan selebihnya adalah anggota TNI. Melihat situasi yang tidak memungkinkan pasukan untuk bertahan lebih lama, pasukan ini bergerak ke arah Timur dengan pimpinan Djokonomo.

Setelah memasuki desa pertama, pasukan kecil ini tiba-tiba dihujani tembakan mortir. Dengan pelan dan berhati-hati akhirnya mereka dapat memasuki daerah yang dikuasi oleh pasukan kita dari  Angkatan Oemat Islam (AOI). Mereka kemudian dikepung oleh pasukan AOI dalam jumlah besar dan bersenjata detonator dengan maksud akan merampas senjata yang dibawa pasukan kecil ini. Karena emosional, Djokonomo segera menarik pelatuk standgun-nya. Tapi segera dicegah oleh mas Anggoro selaku Komandan Seksi. Kemudian ia meminta kepada anggota pasukan AOI untuk mempertemukan dirinya dengan pimpinannya. Tapi tidak ada tanggapan sama sekali. Mereka tetap terdiam. Akhirnya, mas Anggoro minta untuk diantar ke masjid guna menunaikan shalat Maghrib. Karena yang muslim hanya dua orang, anggota pasukan lainnya diperintahkan mengikuti saja gerakan teman yang ditunjuk menjadi imam.

Setelah usai menunaikan shalat Maghrib, datang hidangan. Akhirnya pak kyai yang menjadi pimpinan pasukan AOI itu menghampiri pasukan kecil ini. Beliau meminta senjata yang kita bawa untuk diserahkan kepada mereka agar dapat memperkuat pertahanan pasukan AOI. Dengan cara halus, permintaan itu ditolak dan Komandan Seksi berjanji akan menggantinya dengan sekotak granat tangan yang bias diambil di markas Tentara Pelajar di Karanganyar. Sesampai di markas, janji itu dipenuhi dan terjadilah hujan tangis. Banyak anggota TP yang gugur di medan laga sekitar desa Sidobunder.


Pertahanan Pasukan PERPIS

Pasukan pelajar Sulwesi pimpinan Maulwi Saelan mengalami keadaan serupa. Mereka terpaksa mengundurkan diri, bertempur secara individual dan tercerai berai karena kurang mengenal medan. Pos mereka yang menghadap jalan menuju Karanganyar dilengkapi senjata yang cukup kuat. Sekitar jam lima pagi, Maulwi dengan teropongnya melihat sejumlah besar tentara Belanda yang tengah bergerak di jalan antara Karang ayar dan Puring kea rah desa Sidobunder. Waktu itu seorang pelajar Timor bernama Herman Fernandez bertindak selaku penembak senapan mesin. Maulwi memerintahkan La Sinrang untuk menghubungi Anggoro agar brendgun ditarik ke depan. Beberapa saat sehabis Subuh, pecahlah kontak senjata dam hujan mortir. Dari arah Gombong terdengar dentuman meriam yang pecahan pelurunya berjatuhan di kiri dan kanan pertahanan pasukan TP.
Tiba-tiba Tajudin tertembak senjata musuh dan sempat berteriak “ BAHSAMA”. Aba-aba mundur diteriakkan dan pasukan ini tak sempat memberitahu pasukan Anggoro. La Sinrang, La Indi, Losung dan Herman Fernandez terpisah dari induk pasukannya. Setelah melewati persawahan yang tergenang air setinggi dada, mereka mencapai kebun kelapa. Di sini terjadi kontak tembak jarak dekat dengan pasukan Belanda yang datang dari arah Puring di bawah pimpinan seorang opsir.
Losung dan La Indi gugur di tempat itu karena kehabisan peluru dan tertembak. Dalam persembunyian di antara semak-semak, La Sinrang dan Herman Fernandez mendengar teriakan Losung:
“ Jangan tembak oom… peluru habis”
Terdengar suara lain, “ Cukimai Kawanua… budak Soekarno”, lalu terdengar rentetan tembakan.
Herman Fernandez kepergok seorang opsir Belanda yang berteriak:
“ God verdom zeg Ambonese. Angkat tangan…!”.
Herman Fernandez membalas teriakan: “ Inlander….”, dan terdengar senjata La Sinrang yang pelurunya tinggal sebutir menyalak, menembus dada opsir Belanda yang segera roboh.
Kedua anggota Tentara Pelajar ini lari berpencar. La Sinrang menemukan standgun yang disangka milik teman yang gugur dan membuang senjata laras panjangnya karena habis peluru. Tiba-tiba dari arah Puring muncul anggota pasukan Belanda lainnya yang berteriak: “ Angkat tangan…. “.
Setelah mengetahui senjata di tangannya juga tanpa peluru, La Sinrang membalas dengan teriakan lain” Tak ada peluru…”. Meski dihujani tembakan oleh tentara Belanda itu, terjadi keanehan. Tak ada satu pelurupun yang mengenai tubuhnya. Melihat kejadian itu, salah satu tentara Belanda mendekat dan memukul tubuh La Sinrang. Ia jatuh dan segera diikat. Diseret menyeberang sungai dan dibawa truk menuju Gombong. Kejadian ini disaksikan oleh beberapa orang penduduk yang diantaranya adalah Rasikun alias Ana mat Mu’sin, Kepala Desa Sidobunder saat ini (sekitar tahun 1984 – penyunting ).
La Sinrang pertama kali ditahan di bagian belakang bersama anggota BPRI (barisan Pemberontak RI) dan ALRI Sumpyuh.
Seorang juru rawat putri yang mengobati lukanya pernah bertanya kepada La Sinrang: “ Bung dari TP ? “ yang dijawab “ Ya…”. Kemudian juru rawat itu meneruskan, “ nanti saya akan obati bung.. keluarga saya ada di Jogja”.


Pemeriksaan oleh Tentara Belanda

Setelah lukanya membaik, La Sinrang segera diinterograsi :
“ apakah anda kenal (Herman) Fernandez..”, Tanya tentara Belanda
“ ya..” jawab La Sinrang.
Selang waktu sekitar dua minggu, La Sinrang dipindahkan ke tempat tahanan lain. Di situlah ia bertemu Herman Fernandez . Mereka kemudian berpelukan layaknya sahabat yang berpisah lama.
Ketika dibawa ke kantor MP (Militaire Politie/ Polisi Militer) untuk diperiksa, disaksikan oleh seorang pastor Belanda dan seorang lain yang bertugas mengambil foto, Herman Fernandez yang fasih berbahasa Belanda dan La Sinrang mendapat pukulan beberapa kali oleh anggota MP itu setelah pastor dan juru foto pergi meninggalkan tempat pemeriksaan itu. Mereka dimaki dengan kata-kata : “ Anjing Soekarno…!”.
La Sinrang ditanya: “ apa kamu yang tembak sersan NEX..?”.
“ tidak tahu.. karena pertempuran..”, jawab La Sinrang. Ia segera tahu bahwa ada empat tentara Belanda yang ditembak mati dirinya : seorang kapten Belanda dan tiga orang lainnya dari suku Ambon dan Timor.
Saat ditanyakan, “ senang mana Negara Indonesia Timur atau Jogja”, Herman Fernandez dengan lantang menjawab :
“ Kami kenal dan kami pertahankan hanya satu, Negara Republik Indonesia”. Setelah pernyataan itu, kedua anggota TP ini dipukul berkali-kali. Kemudian keduanya secara resmi dihadapkan di pengadilan militer Belanda di Gombong.


PESAN HERMAN FERNANDEZ KEPADA LA SINRANG DALAM TAWANAN TENTARA BELANDA

Herman Fernandez bercerita kepada La Sinrang bahwa dirinya disangka keras sebagai penembak Kapten NEX ( semacam wajib militer di Tentara Belanda – penyunting) karena jenis senjata yang dipegangnya (ketika ditangkap) laras panjang dan La Sinrang memegang stendgun.
“ Tapi tak mengapa.. adik (La Sinrang) jangan takut mati. Mati ditembak Belanda lebih baik dari pada mati konyol”, kata Herman Fernandez.
“ Mungkin saya tak kan hidup lama lagi. Pastor Belanda telah memberi kitab dan menyuruh saya akan segera bersembahyang”.
“Pastor pernah menawarkan pertolongan jika saya mau mengakui sangkaan itu. Tapi saya selalu menolaknya”
“Saya sering bermimpi buruk. Adik saya doakan agar tetap selamat..”
“Kalau nanti saya mati ditembak, tolong sampaikan salam kepada teman-teman dan tunangan saya yang ada di asrama Katholik Magelang”, kata Herman Fernandez dengan tabah.

Suatu malam, La Sinrang mendengar kabar bahwa Herman Fernandez dibawa pergi oleh tentara Belanda dan tidak kembali lagi. Sementara itu, dirinya dua kali dipindahkan sebagai tawanan di Sumpyuh dan Banyumas. Atas ijin Tuhan Yang Maha Kuasa, dalam pemeriksaan lanjutan dan sangat menentukan, ia ditolong seorang anggota Tentara Belanda asal pulau Buton bernama Lambia yang memberi kesaksian meringankan. Akhirnya La Sinrang urung dieksekusi mati.


Pasukan Maulwi Saelan Lolos dari Lubang Jarum

Setelah mengetahui tentang kabar anak buahnya banyak yang gugur di medan laga Sidobunder dan kehabisan peluru, Maulwi Saelan mencari jalan untuk meloloskan diri dari pembantaian tentara Belanda. Karena postur tubuh dan warna kulitnya yang kuning langsat, ia berpikir dapat mengelabuhi patroli Belanda dengan cara bertelanjang dada dan mengibarkan baju di antara pematang sawah. Seolah mereka tengah mengejar gadis desa layaknya para sinyo Belanda. Taktik ini ternyata jitu.

Jam 12.45, dua anggota TP yakni Soemitro dan Wahju Widodo bertemu dua orang desa berpakaian tani yang sedang memikul usungan di jalan sebelum masuk desa Tegalsari. Ternyata yang mereka usung adalah jenasah Sorjoharjono. Selang waktu spuluh menit berikutnya, kedua anggota TP ini berpapasan dengan dua pengusung lain di desa Tegalsari. Di dalamnya terdapat tubuh Alex Rumambi yang terluka parah dengan lubang bekas tertembus peluru dan banyak sayatan di sekujur tubuh.

Sesampai di markas TP Karanganyar, Maulwi Saelan diperintahkan kembali ke desa Sidobunder untuk menemukan jenasah para pejuang. Didampingi anggota International Brigade dari India dan sejumlah anggota TP, ia berangkat. Tetapi karena situasinya masih rawan dengan sejumlah tentara Belanda yang sering berpatroli serta sawah yang tergenang air, pencarian itu ditunda sampai esok hari.
Tanggal 3 September 1947, ditemukan sejumlah  jenasah pejuang yang berserakan di sawah dan pekarangan penduduk. Setelah dikumpulkan dan dibungkus dengan daun pisang, semua jenasah itu diangkut dengan usungan bambu dan dibawa ke desa Sugihwaras menggunakan perahu-perahu rakyat. Kemudian semuanya dipindahkan ke markas Karanganyar untuk disemayamkan dan menunggu kedatangan kereta api yang akan membawanya ke Jogja.unakan perahu-perahu rakyat. Kemudian semuanya dipindahkan ke markas Karangayadibungkus dengan daun pisatuasinya masih rawa     




Staf Putri: Tugas Penting di Balik Layar

Markas Pusat Tentara Pelajar di Jogja memiliki Staf Putri yang dipimpin oleh Sri Daruni, pelajar SMA B Kotabaru. Mbak Daruni, begitu panggilan yang biasa diberikan kepada beliau, sebagaimana dituturkan oleh Atiatoen yang saat itu selaku anggota staf dan siswi di Sekolah Guru Putri (SGP) adalah “kanca wingking” – nya anggota TP laki-laki yang berlaga di garis depan. Ada dua hal yang biasa mereka urus yakni dapur umum dan kepalang-merahan. Untuk angkatan pertama dan kedua, anggota staf putri diberikan pelatihan dasar kemiliteran seperti baris berbaris, mengenal dan menggunakan beberapa senjata serta bela diri militer. Sesuai ingatan Atiatoen, ada beberapa nama siswi SGP yang pernah mengikuti latihan dasar kemiliteran di Militair Academie (MA) Kotabaru Jogjakarta yaitu Retno Sriningsih, Retno Triningsih, Oemijatoen dan Koeshartini yang pernah bersamanya ditugaskan di rumah sakit darurat PMI Mojoagung Mojokerto Jawa Timur bersama teman-teman dari Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) membantu perawatan korban pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Demikian pula penugasan di Markas Darurat Tentara Pelajar di lingkungan Gereja Kristen Jawa jalan stasiun Kebumen pada Perang Kemerdekaan I tahun 1947. Markas yang dipimpin Moedojo (mahasiswa HESP di sekolah tinggi hukum yang sekarang bernama Universitas Gadjahmada) dan wakilnya Tjiptardjo yang pelajar Sekolah Menengah Teknik (STM Jetis Jogjakarta). Kantor markas berada di sebuah rumah di kanan gereja yang sekarang dipakai untuk kantor pemasaran produk rangka baja. Sementara itu, rumah dinas kapandhitan yang saat itu dikelola bapak Pendeta Reksodihardjo digunakan sebagai asrama di bagian aula dan dapur umum di bangunan sayapnya. Secara kebetulan, keluarga bapak Reksodihardjo memiliki kedekatan hubungan dengan keluarga Atiatoen. Selain menjadi pelanggan beras yang dijual oleh almarhumah ibu kandung dan mesin jahit yang disediakan oleh ayahnya, Moch. Djadjuli, dua kakak kandung Atiatoen yakni Affandi yang akrab disapa Pandi Gondhek dan Achmad Dimjatie (letnan TRI, penguasa militer di Front Barat) adalah teman bermain putra bapak pendeta Reksodihardjo yang bernama Agustinus. Karena itu, penugasan Atiatoen di markas darurat TP ini mendapat dukungan penuh dari keluarga pendeta Reksodihardjo. Di antaranya adalah mempekerjakan tukang masak keluarga bernama Fathonah dan seorang tukang kebun gereja yang ditugaskan menanak nasi, membersihkan lingkungan yang dipakai asrama dan dapur serta mencari kayu bakar.

Selama menjalankan tugas di markas darurat ini, Atiatoen dibantu oleh beberapa teman sesama siswi SGP asal Kebumen yaitu Rasini dan Oemijaton (adik kandung Martono, Komandan Detasemen III TP Jogja, mantan Menteri Transmigrasi), Oemi Wasilah (mantan Kepala SD N 5 Kebumen) dan Haryati yang rumahnya dekat gereja. Ia bertugas sepanjang masa libur kenaikan kelas sekitar pertengahan Juli – pertegahan September 1947. Sementara itu, markas darurat telah dioperasikan sekitar tiga minggu sebelumnya.

Menjelang akhir Agustus 1947, terjadi pengerahan pasukan TP secara besar-besaran ke arah Barat kota Kebumen membantu pemusatan kekuatan tempur pasukan TRI yang dipimpin oleh Letnan Achmad Dimjatie di sekitar wilayah Gombong Selatan (Kuwarasan, Puring dan Buayan). Selain dari Jogja yang dikerahkan dari Markas Pusat di Tugu Kulon, pasukan TP diperkuat oleh TGP, TP Solo, SA/CSA, TRIP dan TP Purworejo. Tentu saja dari markas TP Kebumen yang sekarang menjadi SMP Muhammadiyah 1 saat itu dipimpin Sadar, Samijo dan David Sulistjo juga mengerahkan pasukannya. Kebanyakan dari mereka adalah para siswa Sekolah Teknik (sekarang SMP N 7 Kebumen) dari berbagai daerah. Tidak hanya sekitar Kedu dan Banyumas. Tapi banyak juga yang berasal dari luar Pulau Jawa seperti Flores dan Ambon.

Menurut penuturan Atiatoen, seminggu menjelang pertempuran besar di sekitar Sidobunder, hampir setiap hari Markas Pusat TP di Jogja mengirim dua sampai tiga gerbong pasukan. Ada yang berasal dari Pelajar Kalimantan, Sulawesi (PERPIS) dan pelajar dari berbagai daerah di Indonesia (kecuali Papua) yang tengah menjalani studi di Jogjakarta.  Dari banyak anggota TP yang singgah di asrama dan mengambil jatah makan di dapur umum, ada tiga nama yang sangat diingatnya. Pertama, seorang yang disebut Lowo. Ia diingat karena sikapnya yang urakan dan suka mengganggu teman-teman putrinya di dapur umum. Alex Rumambi yang berperawakan pendek dan pendiam. Tapi disegani oleh rekan-rekannya. Dan satu lagi adalah seorang pelajar Kalimantan yang membantu dirinya memetik nangka di halaman belakang rumahnya untuk persediaan sayur, menu malam nanti. Sampai sekarang, ia tak mengenal nama pelajar Kalimantan ini. Dari keterangan kakak kandungnya, Pandi Gondhek, ia bernama Losung. Jika benar keterangan itu, kebersamaan memetik nangka adalah kesempatan pertemuan terakhir. Karena Losung merupakan salah satu korban yang gugur pada pertempuran di desa Sidobunder.
Google Pagerank
totokaryantowirjosoemarto. Diberdayakan oleh Blogger.