Satu misi kampoeng Relawan adalah mewujudkan Kewirausahaan Sosial di kalangan sukarelawan PMI. Implementasinya adalah menyelenggarakan Sarasehan Kewirausahaan Sosial dalam kegiatan KBN 2014 di Ruang Theatre STIKes Muhammadiyah Gombong pada Jumat, 15 Agustus 2014 yang akan menghadirkan para pembicara kompeten di bidangnya.
KARYA BAKTI UNTUK NEGERI: KOPDAR ALA KAMPOENG RELAWAN - BAGIAN II
Silaturahmi sangat dianjurkan oleh agama, khususnya Islam. Selain akan memperpanjang umum, juga membawa rejeki. Karya Bakti untuk Negeri (KBN) 2014 di Kebumen oleh Komunitas Sosial Media Kampoeng Relawan akan menjadi ajang silaturahmi sukarelawan PMI se Indonesia yang dirancang membawa banyak nilai tambah.
Sebagai implementasi tujuan berdirinya Komunitas Sosial Media Sukarelawan PMI Kampoeng Relawan yaitu menguatkan upaya untuk kebaikan dan perbaikan organisasi PMI, komunitas yang telah memberi warna khusus bagi PMI masa depan ini akan menyelanggarakan satu kegiatan bersamaan perayaan Idul Fitri 1435H dan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke 69 tahun 2014
Lomba Kreativitas bagi PMR Madya setingkat SMP/MTs ini dimaksudkan agar memberi nuansa yang lebih luas dan membuka wawasan baru bagi para Pembina Pangkalan PMR Madya tentang beragam potensi kreatif anggota PMI yang sangat mungkin akan memajukan Pangkalan dan anggotanya
Salah satu cara mengenalkan kegiatan Kepalangmerahan di lingkungan sekolah atau madrasah setingkat SD dan MI adalah menghadirkan pola pembinaan PMR Mula yang cakupan kegiatannya lebih luas dan variatif untuk menguatkan kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah atau Dokter Kecil.
Jelang sehari memperingati 56 tahun usia Proklamasi
Kemerdekaan RI, MBM TEMPO menurunkan Liputan Khusus dengan judul sama. Diawali
narasi “ sederet tokoh nasional telah menanamkan tiang prestasinya sejak
dini-dalam usia dua puluhan-jauh sebelum negeri ini melahirkan kemerdekaan. Di
antara mereka, ada dua yang menarik perhatian : Cipto Mangunkusumo dan Ki Hajar
Dewantara.
Cipto, anak keluarga Mangunkusumo, lahir di Pecangaan
Jepara, Jawa Tengah 4 Maret 1886. Yang menarik dalam diri tokoh ini adalah
jujur, tajam berpikir dan rajin. Jiwa nasionalisme dirinya tumbuh ketika
menjadi siswa STOVIA, sekolah calon dokter di Jakarta yang menerapkan beragam
aturan diskriminatif. Wujud “pemberontakan dirinya” muncul dalam penampilan
yang senantiasa berpakaian adat Jawa yang biasa dipakai kalangan masyarakat
biasa (surjan lurik) dan merokok kemenyan. Perlakuan diskriminatif ini justru menjadi
sumber utama dalam pidato-pidatonya. Penentangan dirinya terhadap sistem feodal
dan kolonial terpancar kuat dalam beragam tulisan di Koran De Locomotief yang
jadi corong utama pemerintah Hindia Belanda.
Feodalisme menyebabkan kepincangan-hidup dalam
masyarakat. Rakyat dibatasi ruang gerak dan aktivitasnya. Keturunan yang menentukan
nasib seseorang, bukan keahlian atau kesanggupannya. Jadi, meski cerdas dan
hebat, seorang keturunan masyarakat biasa akan tetap ditinggalkan oleh
keturunan bupati atau kalangan ningrat lainnya. Sementara itu, kolonialisme
mengedepankan sikap diskriminatif di sektor formal: sekolah, pekerjaan di
lingkungan pemerintah dsb. Perjalanan Cipto Mangunkusumo menentang praktik feodal dan kolonial selengkapnya ada juga di sini.
Sifat-sifat penjajah yang ditentang keras oleh Cipto
Mangunkusumo kini, setelah 67 tahun Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945,
sifat-sifat dasar feodalisme muncul kembali dalam bentuk yang sedikit berbeda.
Intinya sama, menganggap diri atau kelompoknya sebagai manusia yang lebih:
berharga, layak dihormati, mengutamakan bentuk dari pada isi, mengedepankan formalitas
dan berbagai sikap dasar penjajah tanpa ragu dan malu mempertontonkan kepada masyarakat luas.
Gundah penyair
Bambang Oeban adalah realita kehidupan saat ini. Ketika tontonan jadi tuntunan.
Lihat dan simak program acara di semua saluran televisi. Monoton dan penuh plagiat. Menghujat sana atau
menghakimi sini. Dari terbit sampai
tenggelam matahari dan berganti hari. Saluran yang semula ingin fokus pada sisi
edukatif, berubah jadi saluran yang mengklaim sebagai saluran bagi penggemar
aliran musik tertentu sebelum diambil alih satu grup perusahaan yang tengah
naik daun. Apalagi kalau bukan untuk
alasan kocek dan meraup iklan.
Coba perhatikan di
sekeliling kita. Berapa banyak anak dan orangtua (terutama ibu) yang
menghabiskan waktu menonton televisi dengan remote control selalu di tangan? Apa
yang ditonton dan bagaimana dampaknya buat keluarga? Soal yang ditonton, bisa
menu acara apapun. Tetapi dampak yang ditimbulkan akan berbeda-beda, tetapi
kita akan sangat mudah mendapati orang-orang yang autis (asyik dengan
dirinya, lupa atau menunda tanggung-jawab utama). Jangankan membaca buku
sebagai sumber ilmu dan pengetahuan. Memilih program acara yang bukan berita
dan gosip selebriti dan sinetron duplikatif opera sabun dan sejenisnya saja
sudah agak baik.
Dunia hiburan di
jaman modern ini telah menembus dinding budaya, etika, moral dan agama. Filter
budaya tak lagi mampu menyaring desakan produk dan jasa teknologi digital.
Imbauan atau batasan intenet sehat hanya sebaris iklan layanan masyarakat
sekadar memenuhi anjuran pemerintah bagi penyedia jasa (seperti peringatan
pemerintah dalam bungkus rokok!). Dari telepon selular, seorang anak SD kelas I
dapat dengan mudah mengakses situs-situs porno atau permainan online yang penuh
kekerasan. Bahkan, dalam blog-blog yang sebenarnya berisi hal-hal bermanfaat
semisal pemahaman ahlak yang baik, tata cara beragama yang benar dan sejenisnya
terselit satu atau beberapa iklan seronok yang menampilkan aurat perempuan
secara terbuka.
Dampak teknologi
digital terhadap budaya lokal maupun nasional
bukan saka melemahkan, tetapi telah memasuki tahap penghancuran. Lebih
parah lagi, para pegiat budaya banyak yang terjebak pada sisi artefak
(artifisial) ketimbang “isi” yang
merupakan hasil pergulatan keadaban manusia dalam komunitas nasional. Dalam
pertunjukan wayang misalnya, nilai-nilai luhur peradaban manusia yang
melatar-belakangi cerita kurang menarik perhatian penonton ketimbang karaoke
campursari yang banyak diisi tampilan suara dan gerak sinden atau penyanyi
bersuara mendesah serta mengundang selera seksual. Suri teladan pada
tokoh-tokoh pewayangan acapkali tertutup gebyar panggung hiburan yang disukai
penonton untuk melepas kepenatan hidup.
Teknologi selalu
bias terhadap budaya. Produk-produk teknologi memang ditujukan untuk memudahkan
dan menurunkan kadar risiko celaka fisik pada manusia. Di sisi lain, produk
teknologi selalu membawa sejumlah nilai budaya masyarakat yang menghasilkannya.
Seiring dengan masuknya produk dan jasa teknologi digital ke Indonesia dari
“peradaban modern”, masuk pula nilai-nilai budaya efisien (murah) dan instan
(cepat jadi/matang). Anak-anak perempuan di Indonesia jadi lebih cepat matang
karena telah mengalami haid pertama di usia 9 – 10 tahun. Belum genap usia 11,
mereka telah merasakan “tanda-tanda kedewasaan”. Organ-organ seksualnya mulai
muncul dan menarik perhatian lawan jenis. Hal yang sama juga terjadi pada anak
laki-laki. Mereka telah memiliki dorongan seksual yang cukup kuat. Tanda-tanda
ini banyak yang lupa dipahami oleh para orang tua karena keasyikan bekerja atau
beraktivitas di luar rumah. Bagi yang ada di dalam rumah, banyak juga orang tua
yang autis secara sosial. Akibatnya, anak (seolah) dibiarkan tumbuh dan berkembang
tanpa pola asuh yang terarah dari orang tuanya. Semakin banyak kasus perkosaan,
pelecehan seksual dan beragam bentuk tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)
bersumber dari autisme tadi.
Kegundahan Bambang
Oeban pada praktik “pasar bebas”, bila ditangkap maknanya, bukan sekadar dalam konteks ekonomi. Tetapi meluas
ke sisi-sisi rentan dalam peradaban manusia. Moralitas kini bisa
diperdagangkan sebagai komoditas sosial, politik dan budaya. Bahkan telah masuk ke ruang “sakral “ agama.
Apapun bisa diperdagangkan sepanjang “pasar bebas” tetap buka. Akibatnya, pasar
bebas telah membumi-hanguskan bangunan yang disebut bangsa Indonesia. Tanggung
jawab siapa ?
Tanah air
Indonesia pernah dikenal sebagai sorga, jamrud di katulistiwa. Ketika VOC
datang hendak membeli hasil bumi, khususnya rempah-rempah, mereka tertarik
untuk “mendalami” bumi Nusantara yang satu diantaranya berisi kelompok manusia congkak
yang suka menjajah bangsa sendiri. Kelompok inilah yang difasilitasi VOC agar
keinginan menguasai seluruh wilayah dan segala isi tanah air dapat diwujudkan.
Mereka terdiri dari raja-raja kecil, kelompok-kelompok yang menentang kekuasaan
raja/ratu yang didaulat oleh rakyatnya dan para pelaku kriminal (garong, begal,
rampok dan sejenisnya).
Secara kasat
mata, Indonesia yang dilintasi garis katulistiwa memang tak pernah kehilangan
senyum sang mentari. Tetapi senyum itu kini berubah “cibiran” sejak pagi hingga
berganti hari. Dan dalam beberapa hari terakhir, cuaca panas hampir merata di
seluruh negeri. Dari ibukota Jakarta, silih berganti muncul berita pemeriksaan
dan penahanan para petinggi partai politik oleh KPK. Ada Anas Urbaningrum dari
PD yang selama ini berkesan santun dan sederhana harus berurusan dengan lembaga
pemberantasan korupsi di Indonesia ini. Ada juga Lutfi Hasan Ishaq dari PKS
yang tersangkut kasus impor daging sapi. Dan banyak kasus serupa yang
nampaknya masih menjadi bom waktu. Menunggu giliran meledak atau diledakkan.
Hilangnya
kesederhanaan Anas dan banyak pejabat politik di negeri ini tentu banyak
dipengaruhi oleh rusaknya lingkungan perlindungan hukum formal dari hulu sampai
hilir. Di lingkungan hulu, kasus tindak pidana pencucian uang yang dilakukan
oleh mantan Gubernur Akpol jelas tidak sebanding dengan kasus nenek Ijah yang
mencuri makanan untuk mengganjal perut kosongnya. Satu di antara banyak
sekali contoh ketidak-adilan sosial. Betapa rusaknya lingkungan sosial dan budaya masyarakat
Indonesia oleh perilaku para pemimpinnya. Irjenpol Djoko Susilo bukan saja telah
menghianati amanah orang tuanya yang memberi nama dirinya sebagai lelaki susila. Fakta itu hanya menguatkan dugaan bahwa Polri telah dihuni dan
dikendalikan oleh orang-orang “berselera tinggi” serupa Djoko Susilo.
Setidaknya, selaku mantan Gubernur Akpol, selera Djoko tentu telah dibaca dan
dipahami cukup gamblang oleh orang-orang di sekitarnya. Mulai dari mahasiswa,
staf pengajar dan mungkin juga petugas kebersihan di kampus yang mendidik para
calon petinggi Polri itu.
Dengan logika
sederhana, Anas dan Lutfi tidak sendirian. Dalam kasus Anas misalnya, mantan bendahara
PD Nasarudin sejak awal telah mengaitkan tindak pidana korupsi yang dituduhkan
kepadanya dengan peran dan posisi Anas. Lalu, bagaimana dengan Djoko yang
selama ini berkecimpung di “sarang macan” ? Berbeda dengan Anas, Djoko tidak
akan gegabah menyangkut-pautkan dengan para koleganya di Polri. Apalagi membawa
nama sang pimpinan. Ia sangat paham tentang hal itu, termasuk risikonya. Tapi,
mungkinkah seorang petinggi setingkat Djoko yang berpangkat Irjen (letnan
jendral) bekerja sendirian ? Kalaupun ia akan mengaku bekerja sama dengan “orang dalam”,
mereka adalah anak buah yang harus menerima perintah atasan tanpa reserve.
Jawaban yang lebih jelas mungkin akan nampak di persidangan kelak.
Kasus Djoko
mengingatkan kita pada sosok pak Hugeng, mantan Kapolri yang sangat bersahaja.
Selaku manusia biasa, pak Hugeng tetap punya kekurangan yang dapat dimaklumi
oleh publik adalah sebagai perwujudkan sisi kemanusiaannya. Dan kerinduan atas sosok
pemimpin yang tegas serta sederhana seperti
beliau bukan sekadar ekspresi bernuansa nostalgia semata. Sosok polisi yang
sederhana dan berwibawa memang bukan hanya ada dalam diri Pak Hugeng. Saat ini,
banyak anggota Polri yang jujur dan menjaga sumpahnya sebagai abdi negara. Tak
mengejar pangkat dan jabatan, apalagi kekayaan berlimpah ruah dengan
memanfaatkan posisinya selaku pelayan dan pelindung masyarakat.
Dalam tulisan
saya di “ Catatan Perjalanan Kebangsaan, Renungan Jelang Hari Merdeka” telah disebut bahwa masyarakat – bangsa Indonesia
dijajah kembali bukan oleh bangsa asing, tapi justru dilakukan oleh bangsa
sendiri. Ketika dijajah oleh bangsa asing, semua elemen bersatu padu dalam satu
asa dan daya agar merdeka dan tetap merdeka. Sebaliknya, di saat
penjajahan dilakukan oleh bangsa sendiri dalam beragam bentuk dan skala,
elemen-elemen itu tercerai berai. Ada yang berusaha mempertahankan diri agar
kelompoknya tetap eksis dengan cara membangun kerajaan-kerajaan kecil di
jalanan, kantor-kantor dan di segala tempat. Secara perlahan dan pasti akhirnya
mereka mampu mendirikan kembali dinastinya. Mungkin dengan nama dan bentuk
lain. Tetapi esensinya sama : menjadi kelompok penguasa melalui jejaring formal
maupun non formal. Di dunia politik, mereka menanamkan “para petualang” agar
dapat melancarkan misi dan visinya. Begitu juga di bidang sosial dan ekonomi. Bahkan
di bidang agama yang semestinya jadi ladang amal ditebar bibit-bibit pemecah
belah umat. Ada yang mendapat julukan “jarkoni (bisa ngajar, ra bisa nglakoni =
omdo / omong doang atau nato/ no action, talking only dan lain-lain sebutan
serupa).
Penjajahan di
era modern memang lebih halus dan terselubung beragam jenis tirai: teknologi,
ekonomi, budaya dan mungkin juga agama. Penjajahan melalui teknologi misalnya
bisa lewat jejaring sosial di internet, piranti lunak dan keras atau yang
lainnya. Sedangkan di bidang ekonomi bisa berupa praktik monopoli, kartel dan
lain-lain. Praktik-praktik yang di negara asalnya telah banyak ditinggalkan. Indonesia
justru mengimpor dan mengaplikasikannya melalui beragam alasan dan tangan. Kemerdekaan
ekonomi, sosial dan budaya yang dapat membuat manusia Indonesia bermartabat
justru dilemahkan. Akibatnya, tingkat ketergantungan kita pada bangsa asing
sulit dihindari. Bahkan bertambah kuat karena kuatnya praktik perilaku
menjajah.
Betapapun berat
dan sulit tantangan yang dihadapi, kita masih bisa berharap munculnya senyum
sang mentari yang menghangatkan semangat hidup dan menumbuhkan generasi tahu
diri sebagai anak – anak Ibu Pertiwi. Yang menyadari bahwa kehidupan sekarang
adalah bagian dari perjalanan dari masa lalu. Ketika para syuhada bertaruh
nyawa, apalagi sebatas jumlah harta benda dan jabatan untuk merebut dan
menegakkan kemerdekaan bangsanya dari cengkeraman asing. Mendudukkan sejajar
dengan bangsa-bangsa lain agar derajat kemanusiaannya diakui sama. Karena
merdeka bukan hanya teriakan dan genggam buku-buku tangan yang mengepal. Dan
kemerdekaan Indonesia adalah tangga menuju puncak kemanusiaan yang adil dan
beradab. Haruskah kita mengingkari semua kenyataan itu?
Perjalanan
Indonesia mewujudkan diri sebagai Bangsa merdeka yang bersatu, adil dan makmur
semakin terseok dalam ketidak-berdayaan karena anak-anaknya kian menjauh dari
jati dirinya. Bung Karno pernah berujar “ jas merah.. jangan lupakan sejarah”.
Sejarah sebagai alur cerita perjalanan hidup manusia mengandung beragam makna. Ada
yang mengangkat sisi obyektif agar menjadi bahan pembelajaran tentang kejujuran
dan kearifan. Ada pula yang mengedepankan sisi subyektif karena kapasitas
pengetahuan dan pengalaman yang sangat terbatas, penonjolan diri berlebihan
atau pelibatan faktor emosional yang begitu mendalam.
Dalam
satu kesempatan diskusi antar unsur DHC 45 setempat, saya (mewakili ex Tentara
Pelajar) pernah melontarkan pendapat yang kemudian dinilai menohok. Bahwa
sesungguhnya umur negara Indonesia hanya 5 (lima) tahun yaitu dari 1945 – 1950.
Selebihnya kita dijajah oleh bangsa sendiri. Meski tidak ada tanggapan baik
sanggahan maupun pertanyaan, saya telah menyiapkan jawaban yang ringkasannya
sebagai berikut.
1.Masa pemerintahan Presiden Soekarno yang
dipopularkan dengan sebutan Orde Lama (orla) 1950 – 1965 adalah fase
transisional. Masih diliputi oleh suasana heroisme patriotik, Bung Karno dan
para pemuka politik nasional melakukan banyak eksperimen untuk meyakinkan
bantuk ideal Indonesia yang memiliki beragam sumber daya. Kompromi politik
dengan para petinggi NIT (Negara Indonesia Timur) menimbulkan adanya UUDS 1950
dan RIS (Republik Indonesia Serikat) yang berumur sekitar satu dasawarsa.
Karena dinilai makin menyimpang dari cita – cita Proklamasi 17-8-1945,
muncul Dekrit Presiden 1959 yang intinya
berisi keputusan mengembalikan UUD 1945 dan NKRI (Negara Kesatuan Republik
Indonesia). Lima tahun berikutnya, kekuasaan Soekarno selaku Presiden
dihentikan paksa yang konon karena Supersemar. Peristiwa ini masih menyisakan
beberapa pertanyaan besar dan luka teramat dalam bagi sebagian orang.
2.Jendral Soeharto yang menjadi figur sentral
di masa Orde Baru berkuasa selama hampir empat dasawarsa cenderung narsistik.
“Gue banget” istilah popularnya. Sampai hal mendasar yakni Pancasila yang
menjadi dasar negara, filosofi ( core values ) bangsa dan pedoman hidup
bermasyarakat Indonesia tak luput dari hal itu. Muncul gerakan indoktrinasi
massal melalui P4, menina-bobokan dengan beragam subsidi, memisahkan dunia
pendidikan dari induknya (kebudayaan) yang menyebabkan proses erosi mental dan
moral kebangsaan secara sistemik. Dan yang sangat ekslusif adalah reinkarnasi
budaya feodalistik dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Pegawai Negeri
Sipil dan sejenisnya dikondisikan sebagai ambtenaar (pegawai pemerintah),
bukan abdinegara. Tidak mengherankan jika perilaku para petinggi di
lingkungan pemerintah (dan dunia politik) cenderung menjadi penguasa. Bukan
pemimpin. Imbasnya tentu saja sampai ke lapisan terbawah. Praktik KKN adalah
wujud nyatanya.
3.Periode terakhir yang dipopularkan dengan istilah
Orde Reformasi tak jauh berbeda dari dua fase perjalanan sejarah kebangsaan
sebelum itu. Kesan sebagai ajang “balas dendam” semakin hari kian menampakkan
diri secara telanjang. Dunia politik yang begitu diagungkan, banyak diisi oleh
para petualang yang enggan bersusah payah memahami konsep dasar kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang diinginkan oleh para pendiri
Indonesia Merdeka. Partai tak pernah diusahakan secara bersungguh-sungguh
selaku “ pusat pendidikan politik “ masyarakat oleh para pengurusnya. Ia tak
lebih dari sekadar “ kendaraan menuju puncak kekuasaan”. Omong kosong untuk yang
memastikan adanya “basis politik”. Kalaupun ada, mereka adalah “kantong suara” yang setiap saat bisa bolong
karena minimnya pemeliharaan. Lebih khusus lagi, hal itu hanya terjadi dalam
partai tertentu yang memiliki kadar militansi tinggi.
Jelang
usia republik ini 67 tahun, beraneka upaya untuk memelihara cita-cita
kemerdekaan Bangsa Indonesia memang terus dan akan selalu dilakukan oleh
beragam kalangan dengan berbagai macam bentuk dan isinya. Tapi ada satu hal
penting yang selalu menjadi ganjalan yakni ketika upaya yang ingin diwujudkan
atau sedang diusahakan itu bermotif perebutan kekuasaan dalam segala bentuknya
kecuali di bidang kebudayaan. Karena budaya adalah representasi kehendak atas
keutamaan budi pekerti, tumbuh dari kesadaran hakiki dan berkembang dalam
ruang-ruang kalbu. Dalam dan sangat
luas. Semoga.
Catatan kecil:
Tulisan ini untuk mengenang almarhumah Ibu Atiatoen Wirjosoemarto, ibu kandung dan idolaku yang wafat setahun lalu (26 Juli 2010). Persis di malam Nisfu Sya'ban 1432H.
Prolog:
Hari menjelang
sore. Seperti biasa, aku duduk di depan layar komputer. Mengamati berita yang
terus bergerak sangat cepat di luaran sana. Sementara tak ada hal menarik dari
semua situs berita yang kubaca. Hanya umpat, caci maki, deret orang autis dan
semua membuat bosan.
Tiba-tiba ada suara
memanggil namaku. Saat kudekati, lantai kamar ibuku memerah bersimbah darah. Tanpa keluh kesah dan nada
kesakitan, dalam segenap rasa berkecamuk, kuangkat tubuhnya di pembaringan.
Dalam sekejap, semua perhatianku tertuju untuk memberi pertolongan pertama
seperti biasa aku lakukan.
Mukanya sangat
pucat, lebih dari dua liter darah segar mengalir dari luka yang selama ini
selalu disembunyikan dalam ketegaran.
Wajah istriku
memancarkan kepanikan luar biasa. Ia memang tak tahan dengan luka berdarah yang
terus mengalir. Sambil menggunting semua pakaian dan menguatkan semangat, tangan
dan mulutku terus bekerja. Akhirnya, semua ilmu dan pengalaman yang selama ini
kudapatkan di jalan, tempat-tempat bencana alam dan lain-lain ajang
pengabdianku bagi kemanusiaan memberi manfaat. Tak pernah tahu nama atau
istilahnya. Kurasa, kami telah melakukan pertolongan pertama gawat darurat buat
sang ibu tercinta.
Panik sempat juga menimpa diriku, saat kuperiksa semua tanda vital menunjuk negatif. Tak ada
nafas yang keluar dari hidung. Denyut nadi hilang dan degup jantung tak
terlihat lagi. Dalam sisa kesadaran dan tenaga, ku lakukan langkah yang paling
kuhindari bila tidak sangat terpaksa: Resusitasi Jantung dan Paru (CPR). Langkah
pertama gagal, juga yang kedua. Sebuah
keajaiban terjadi. Mahasuci Allah, dzat yang membolak-balikkan hati manusia !.
Mata tajam perempuan
perkasa itu membuka perlahan, menatapku penuh makna. Saat itulah segala
kesombonganku sirna. Seluruh otot dan tulangku berasa lepas satu persatu dari
tubuh. Sujud syukur kepada Illahi Robbi, penguasa alam semesta dan pemilik
semua yang ada di dalamnya. Satu pelajaran kehidupan yang takkan pernah kulupa.
Bahwa manusia itu hanya bisa berusaha. Dan berharap pertolongan Sang
Mahaperkasa lewat doa serta permohonan ampun atas segala kelemahan manusia.
Banyak tanaman murah yang tumbuh dan menghadirkan keindahan di sekitar kita. Bunga sepatu yang punya banyak corak dan warna contohnya. Juga beberapa jenis tanaman yang mudah dipelihara.
Saat menunggu
kedatangan pasukan Djokonomo, induk pasukan mendapat serangan dari sebelah
Utara. Dengan keberanian luar biasa, saudara Ridwan yang bersenjata brend gun
melakukan perlawanan hebat untuk menggagalkan gerakan masuk tentara Belanda ke
desa Sidobunder dalam serangan yang bergelombang.
Gelombang pertama dan
kedua dapat digagalkan, tapi pada kesempatan berikutnya saudara Ridwan gugur
ditembus peluru musuh. Saudara Koenarso Kampret yang ada di dekatnya sempat
mengamankan senjata Ridwan.
Saudara Achmad,
seorang kurir yang masih sangat muda dari MBT (Markas Besar
Tentara-penyunting), karena kemalaman pada 1 September 1947 memaksa dirinya
tidur di markas induk. Pagi harinya setelah shalat Subuh, ia melaporkan
kedatangan kepada Komandan Seksi, menyatakan ingin bergabung dengan seksi 321
dan minta dipersenjatai. Pertama, ia diberi sejumlah granat gombyok oleh mas
Anggoro, tapi ditolak. Akhirnya, Komandan Seksi 321 ini merelakan senjata
andalan sebuah karabijn pendek hasil perebutan dengan tentara Jepang di
Kotabaru (Jogja-peny) kepada Achmad. Sementara dirinya mengalah dengan
bersenjatakan granat yang akan diberikan kepada Achmad. Setelah bergabung,
Achmad ikut menahan gelombang serangan itu yang akhirnya membuat pemuda itu
gugur dalam menjalankan tugas.
Setelah Regu 1 datang
melapor, Komandan Seksi 321 segera memerintahkan pasukannya untuk memulai
pergerakan mundur. Sdr. Hapto merelakan diri sebagai penunjuk jalan, diikuti
Pramono dan Kusdradjat. Sementara itu, mas Anggoro dan Fuad Sahil menelusuri
jalan ke arah Timur. Sisa pasukan dibagi dua bergerak di antara rumah-rumah
penduduk ke Timur di kedua sisi jalan. Dengan tenang sdr Hapto mendekati regu
Maulwi Saelan. Mereka mamberi isyarat bahwa keadaan masih aman dan pasukan
dapat mengikutinya ke arah Timur. Mungkin salah pengamatan karena baju seragam
dan warna kulit sama dengan pasukan Belanda yang berasal dari KNIL, sebenarnya
kedudukan mereka telah dikepung oleh tentara musuh. Sehingga pasukan kita telah
terperangkap dalam wilayah yang telah dikuasi tentara Belanda. Pertempuran
seorang demi seorang (tidak berkelompok dalam regu-penyunting) tak
terhindarkan. Pada saat itu Hapto dan Pramono gugur. Komandan Seksi dan sisa
pasukan yang mengikutinya ke arah Timur masih sempat berlindung di sudut desa
untuk menyusun ulang kekuatan yang ada sambil mencari informasi tentang
teman-teman yang jadi korban. Serta kedudukan tentara Belanda pada waktu itu.
Dalam waktu yang relatif singkat, telah berkumpul 11 orang yang terdiri dari
Kusdradjat, Rinanto, Fuad Sahil, Djokonomo dan selebihnya adalah anggota TNI.
Melihat situasi yang tidak memungkinkan pasukan untuk bertahan lebih lama,
pasukan ini bergerak ke arah Timur dengan pimpinan Djokonomo.
Setelah memasuki desa
pertama, pasukan kecil ini tiba-tiba dihujani tembakan mortir. Dengan pelan dan
berhati-hati akhirnya mereka dapat memasuki daerah yang dikuasi oleh pasukan
kita dari Angkatan Oemat Islam (AOI).
Mereka kemudian dikepung oleh pasukan AOI dalam jumlah besar dan bersenjata
detonator dengan maksud akan merampas senjata yang dibawa pasukan kecil ini.
Karena emosional, Djokonomo segera menarik pelatuk standgun-nya. Tapi segera
dicegah oleh mas Anggoro selaku Komandan Seksi. Kemudian ia meminta kepada
anggota pasukan AOI untuk mempertemukan dirinya dengan pimpinannya. Tapi tidak
ada tanggapan sama sekali. Mereka tetap terdiam. Akhirnya, mas Anggoro minta
untuk diantar ke masjid guna menunaikan shalat Maghrib. Karena yang muslim
hanya dua orang, anggota pasukan lainnya diperintahkan mengikuti saja gerakan
teman yang ditunjuk menjadi imam.
Setelah usai
menunaikan shalat Maghrib, datang hidangan. Akhirnya pak kyai yang menjadi
pimpinan pasukan AOI itu menghampiri pasukan kecil ini. Beliau meminta senjata
yang kita bawa untuk diserahkan kepada mereka agar dapat memperkuat pertahanan
pasukan AOI. Dengan cara halus, permintaan itu ditolak dan Komandan Seksi
berjanji akan menggantinya dengan sekotak granat tangan yang bias diambil di
markas Tentara Pelajar di Karanganyar. Sesampai di markas, janji itu dipenuhi
dan terjadilah hujan tangis. Banyak anggota TP yang gugur di medan laga sekitar
desa Sidobunder.
Pertahanan Pasukan
PERPIS
Pasukan pelajar
Sulwesi pimpinan Maulwi Saelan mengalami keadaan serupa. Mereka terpaksa mengundurkan
diri, bertempur secara individual dan tercerai berai karena kurang mengenal
medan. Pos mereka yang menghadap jalan menuju Karanganyar dilengkapi senjata
yang cukup kuat. Sekitar jam lima pagi, Maulwi dengan teropongnya melihat
sejumlah besar tentara Belanda yang tengah bergerak di jalan antara Karang ayar
dan Puring kea rah desa Sidobunder. Waktu itu seorang pelajar Timor bernama
Herman Fernandez bertindak selaku penembak senapan mesin. Maulwi memerintahkan
La Sinrang untuk menghubungi Anggoro agar brendgun ditarik ke depan. Beberapa
saat sehabis Subuh, pecahlah kontak senjata dam hujan mortir. Dari arah Gombong
terdengar dentuman meriam yang pecahan pelurunya berjatuhan di kiri dan kanan
pertahanan pasukan TP.
Tiba-tiba Tajudin
tertembak senjata musuh dan sempat berteriak “ BAHSAMA”. Aba-aba mundur diteriakkan
dan pasukan ini tak sempat memberitahu pasukan Anggoro. La Sinrang, La Indi,
Losung dan Herman Fernandez terpisah dari induk pasukannya. Setelah melewati
persawahan yang tergenang air setinggi dada, mereka mencapai kebun kelapa. Di
sini terjadi kontak tembak jarak dekat dengan pasukan Belanda yang datang dari
arah Puring di bawah pimpinan seorang opsir.
Losung dan La Indi
gugur di tempat itu karena kehabisan peluru dan tertembak. Dalam persembunyian
di antara semak-semak, La Sinrang dan Herman Fernandez mendengar teriakan
Losung:
“ Jangan tembak oom…
peluru habis”
Terdengar suara lain,
“ Cukimai Kawanua… budak Soekarno”, lalu terdengar rentetan tembakan.
Herman Fernandez
kepergok seorang opsir Belanda yang berteriak:
“ God verdom zeg
Ambonese. Angkat tangan…!”.
Herman Fernandez
membalas teriakan: “ Inlander….”, dan terdengar senjata La Sinrang yang pelurunya
tinggal sebutir menyalak, menembus dada opsir Belanda yang segera roboh.
Kedua anggota Tentara
Pelajar ini lari berpencar. La Sinrang menemukan standgun yang disangka milik
teman yang gugur dan membuang senjata laras panjangnya karena habis peluru. Tiba-tiba
dari arah Puring muncul anggota pasukan Belanda lainnya yang berteriak: “
Angkat tangan…. “.
Setelah mengetahui
senjata di tangannya juga tanpa peluru, La Sinrang membalas dengan teriakan
lain” Tak ada peluru…”. Meski dihujani tembakan oleh tentara Belanda itu,
terjadi keanehan. Tak ada satu pelurupun yang mengenai tubuhnya. Melihat
kejadian itu, salah satu tentara Belanda mendekat dan memukul tubuh La Sinrang.
Ia jatuh dan segera diikat. Diseret menyeberang sungai dan dibawa truk menuju
Gombong. Kejadian ini disaksikan oleh beberapa orang penduduk yang diantaranya
adalah Rasikun alias Ana mat Mu’sin, Kepala Desa Sidobunder saat ini (sekitar
tahun 1984 – penyunting ).
La Sinrang pertama
kali ditahan di bagian belakang bersama anggota BPRI (barisan Pemberontak RI)
dan ALRI Sumpyuh.
Seorang juru rawat
putri yang mengobati lukanya pernah bertanya kepada La Sinrang: “ Bung dari TP
? “ yang dijawab “ Ya…”. Kemudian juru rawat itu meneruskan, “ nanti saya akan
obati bung.. keluarga saya ada di Jogja”.
Pemeriksaan oleh
Tentara Belanda
Setelah lukanya
membaik, La Sinrang segera diinterograsi :
“ apakah anda kenal
(Herman) Fernandez..”, Tanya tentara Belanda
“ ya..” jawab La
Sinrang.
Selang waktu sekitar
dua minggu, La Sinrang dipindahkan ke tempat tahanan lain. Di situlah ia
bertemu Herman Fernandez . Mereka kemudian berpelukan layaknya sahabat yang
berpisah lama.
Ketika dibawa ke
kantor MP (Militaire Politie/ Polisi Militer) untuk diperiksa, disaksikan oleh
seorang pastor Belanda dan seorang lain yang bertugas mengambil foto, Herman
Fernandez yang fasih berbahasa Belanda dan La Sinrang mendapat pukulan beberapa
kali oleh anggota MP itu setelah pastor dan juru foto pergi meninggalkan tempat
pemeriksaan itu. Mereka dimaki dengan kata-kata : “ Anjing Soekarno…!”.
La Sinrang ditanya: “
apa kamu yang tembak sersan NEX..?”.
“ tidak tahu.. karena
pertempuran..”, jawab La Sinrang. Ia segera tahu bahwa ada empat tentara
Belanda yang ditembak mati dirinya : seorang kapten Belanda dan tiga orang
lainnya dari suku Ambon dan Timor.
Saat ditanyakan, “
senang mana Negara Indonesia Timur atau Jogja”, Herman Fernandez dengan lantang
menjawab :
“ Kami kenal dan kami
pertahankan hanya satu, Negara Republik Indonesia”. Setelah pernyataan itu,
kedua anggota TP ini dipukul berkali-kali. Kemudian keduanya secara resmi
dihadapkan di pengadilan militer Belanda di Gombong.
PESAN HERMAN FERNANDEZ
KEPADA LA SINRANG DALAM TAWANAN TENTARA BELANDA
Herman Fernandez
bercerita kepada La Sinrang bahwa dirinya disangka keras sebagai penembak
Kapten NEX ( semacam wajib militer di Tentara Belanda – penyunting) karena
jenis senjata yang dipegangnya (ketika ditangkap) laras panjang dan La Sinrang
memegang stendgun.
“ Tapi tak mengapa..
adik (La Sinrang) jangan takut mati. Mati ditembak Belanda lebih baik dari pada
mati konyol”, kata Herman Fernandez.
“ Mungkin saya tak kan
hidup lama lagi. Pastor Belanda telah memberi kitab dan menyuruh saya akan
segera bersembahyang”.
“Pastor pernah
menawarkan pertolongan jika saya mau mengakui sangkaan itu. Tapi saya selalu
menolaknya”
“Saya sering bermimpi
buruk. Adik saya doakan agar tetap selamat..”
“Kalau nanti saya mati
ditembak, tolong sampaikan salam kepada teman-teman dan tunangan saya yang ada
di asrama Katholik Magelang”, kata Herman Fernandez dengan tabah.
Suatu malam, La
Sinrang mendengar kabar bahwa Herman Fernandez dibawa pergi oleh tentara
Belanda dan tidak kembali lagi. Sementara itu, dirinya dua kali dipindahkan
sebagai tawanan di Sumpyuh dan Banyumas. Atas ijin Tuhan Yang Maha Kuasa, dalam
pemeriksaan lanjutan dan sangat menentukan, ia ditolong seorang anggota Tentara
Belanda asal pulau Buton bernama Lambia yang memberi kesaksian meringankan.
Akhirnya La Sinrang urung dieksekusi mati.
Pasukan Maulwi Saelan
Lolos dari Lubang Jarum
Setelah mengetahui
tentang kabar anak buahnya banyak yang gugur di medan laga Sidobunder dan
kehabisan peluru, Maulwi Saelan mencari jalan untuk meloloskan diri dari
pembantaian tentara Belanda. Karena postur tubuh dan warna kulitnya yang kuning
langsat, ia berpikir dapat mengelabuhi patroli Belanda dengan cara bertelanjang
dada dan mengibarkan baju di antara pematang sawah. Seolah mereka tengah
mengejar gadis desa layaknya para sinyo Belanda. Taktik ini ternyata jitu.
Jam 12.45, dua anggota
TP yakni Soemitro dan Wahju Widodo bertemu dua orang desa berpakaian tani yang
sedang memikul usungan di jalan sebelum masuk desa Tegalsari. Ternyata yang
mereka usung adalah jenasah Sorjoharjono. Selang waktu spuluh menit berikutnya,
kedua anggota TP ini berpapasan dengan dua pengusung lain di desa Tegalsari. Di
dalamnya terdapat tubuh Alex Rumambi yang terluka parah dengan lubang bekas
tertembus peluru dan banyak sayatan di sekujur tubuh.
Sesampai di markas TP
Karanganyar, Maulwi Saelan diperintahkan kembali ke desa Sidobunder untuk
menemukan jenasah para pejuang. Didampingi anggota International Brigade dari
India dan sejumlah anggota TP, ia berangkat. Tetapi karena situasinya masih
rawan dengan sejumlah tentara Belanda yang sering berpatroli serta sawah yang
tergenang air, pencarian itu ditunda sampai esok hari.
Tanggal 3 September
1947, ditemukan sejumlah jenasah pejuang
yang berserakan di sawah dan pekarangan penduduk. Setelah dikumpulkan dan
dibungkus dengan daun pisang, semua jenasah itu diangkut dengan usungan bambu
dan dibawa ke desa Sugihwaras menggunakan perahu-perahu rakyat. Kemudian
semuanya dipindahkan ke markas Karanganyar untuk disemayamkan dan menunggu
kedatangan kereta api yang akan membawanya ke Jogja.unakan perahu-perahu rakyat. Kemudian semuanya dipindahkan ke
markas Karangayadibungkus dengan daun pisatuasinya masih rawa
Staf Putri: Tugas
Penting di Balik Layar
Markas Pusat Tentara
Pelajar di Jogja memiliki Staf Putri yang dipimpin oleh Sri Daruni, pelajar SMA
B Kotabaru. Mbak Daruni, begitu panggilan yang biasa diberikan kepada beliau,
sebagaimana dituturkan oleh Atiatoen yang saat itu selaku anggota staf dan
siswi di Sekolah Guru Putri (SGP) adalah “kanca wingking” – nya anggota TP
laki-laki yang berlaga di garis depan. Ada dua hal yang biasa mereka urus yakni
dapur umum dan kepalang-merahan. Untuk angkatan pertama dan kedua, anggota staf
putri diberikan pelatihan dasar kemiliteran seperti baris berbaris, mengenal
dan menggunakan beberapa senjata serta bela diri militer. Sesuai ingatan
Atiatoen, ada beberapa nama siswi SGP yang pernah mengikuti latihan dasar
kemiliteran di Militair Academie (MA) Kotabaru Jogjakarta yaitu Retno
Sriningsih, Retno Triningsih, Oemijatoen dan Koeshartini yang pernah bersamanya
ditugaskan di rumah sakit darurat PMI Mojoagung Mojokerto Jawa Timur bersama
teman-teman dari Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) membantu perawatan
korban pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
Demikian pula
penugasan di Markas Darurat Tentara Pelajar di lingkungan Gereja Kristen Jawa
jalan stasiun Kebumen pada Perang Kemerdekaan I tahun 1947. Markas yang
dipimpin Moedojo (mahasiswa HESP di sekolah tinggi hukum yang sekarang bernama
Universitas Gadjahmada) dan wakilnya Tjiptardjo yang pelajar Sekolah Menengah
Teknik (STM Jetis Jogjakarta). Kantor markas berada di sebuah rumah di kanan
gereja yang sekarang dipakai untuk kantor pemasaran produk rangka baja.
Sementara itu, rumah dinas kapandhitan yang saat itu dikelola bapak Pendeta
Reksodihardjo digunakan sebagai asrama di bagian aula dan dapur umum di
bangunan sayapnya. Secara kebetulan, keluarga bapak Reksodihardjo memiliki
kedekatan hubungan dengan keluarga Atiatoen. Selain menjadi pelanggan beras
yang dijual oleh almarhumah ibu kandung dan mesin jahit yang disediakan oleh
ayahnya, Moch. Djadjuli, dua kakak kandung Atiatoen yakni Affandi yang akrab
disapa Pandi Gondhek dan Achmad Dimjatie (letnan TRI, penguasa militer di Front
Barat) adalah teman bermain putra bapak pendeta Reksodihardjo yang bernama
Agustinus. Karena itu, penugasan Atiatoen di markas darurat TP ini mendapat
dukungan penuh dari keluarga pendeta Reksodihardjo. Di antaranya adalah
mempekerjakan tukang masak keluarga bernama Fathonah dan seorang tukang kebun
gereja yang ditugaskan menanak nasi, membersihkan lingkungan yang dipakai
asrama dan dapur serta mencari kayu bakar.
Selama menjalankan
tugas di markas darurat ini, Atiatoen dibantu oleh beberapa teman sesama siswi
SGP asal Kebumen yaitu Rasini dan Oemijaton (adik kandung Martono, Komandan
Detasemen III TP Jogja, mantan Menteri Transmigrasi), Oemi Wasilah (mantan
Kepala SD N 5 Kebumen) dan Haryati yang rumahnya dekat gereja. Ia bertugas
sepanjang masa libur kenaikan kelas sekitar pertengahan Juli – pertegahan
September 1947. Sementara itu, markas darurat telah dioperasikan sekitar tiga
minggu sebelumnya.
Menjelang akhir
Agustus 1947, terjadi pengerahan pasukan TP secara besar-besaran ke arah Barat
kota Kebumen membantu pemusatan kekuatan tempur pasukan TRI yang dipimpin oleh
Letnan Achmad Dimjatie di sekitar wilayah Gombong Selatan (Kuwarasan, Puring
dan Buayan). Selain dari Jogja yang dikerahkan dari Markas Pusat di Tugu Kulon,
pasukan TP diperkuat oleh TGP, TP Solo, SA/CSA, TRIP dan TP Purworejo. Tentu
saja dari markas TP Kebumen yang sekarang menjadi SMP Muhammadiyah 1 saat itu
dipimpin Sadar, Samijo dan David Sulistjo juga mengerahkan pasukannya.
Kebanyakan dari mereka adalah para siswa Sekolah Teknik (sekarang SMP N 7
Kebumen) dari berbagai daerah. Tidak hanya sekitar Kedu dan Banyumas. Tapi
banyak juga yang berasal dari luar Pulau Jawa seperti Flores dan Ambon.
Menurut penuturan
Atiatoen, seminggu menjelang pertempuran besar di sekitar Sidobunder, hampir
setiap hari Markas Pusat TP di Jogja mengirim dua sampai tiga gerbong pasukan.
Ada yang berasal dari Pelajar Kalimantan, Sulawesi (PERPIS) dan pelajar dari
berbagai daerah di Indonesia (kecuali Papua) yang tengah menjalani studi di
Jogjakarta. Dari banyak anggota TP yang
singgah di asrama dan mengambil jatah makan di dapur umum, ada tiga nama yang
sangat diingatnya. Pertama, seorang yang disebut Lowo. Ia diingat karena
sikapnya yang urakan dan suka mengganggu teman-teman putrinya di dapur umum.
Alex Rumambi yang berperawakan pendek dan pendiam. Tapi disegani oleh
rekan-rekannya. Dan satu lagi adalah seorang pelajar Kalimantan yang membantu
dirinya memetik nangka di halaman belakang rumahnya untuk persediaan sayur,
menu malam nanti. Sampai sekarang, ia tak mengenal nama pelajar Kalimantan ini.
Dari keterangan kakak kandungnya, Pandi Gondhek, ia bernama Losung. Jika benar
keterangan itu, kebersamaan memetik nangka adalah kesempatan pertemuan
terakhir. Karena Losung merupakan salah satu korban yang gugur pada pertempuran
di desa Sidobunder.