SARASEHAN KEWIRAUSAHAAN SOSIAL BAGI UMUM DAN SUKARELAWAN PMI

Satu misi kampoeng Relawan adalah mewujudkan Kewirausahaan Sosial di kalangan sukarelawan PMI. Implementasinya adalah menyelenggarakan Sarasehan Kewirausahaan Sosial dalam kegiatan KBN 2014 di Ruang Theatre STIKes Muhammadiyah Gombong pada Jumat, 15 Agustus 2014 yang akan menghadirkan para pembicara kompeten di bidangnya.

KARYA BAKTI UNTUK NEGERI: KOPDAR ALA KAMPOENG RELAWAN - BAGIAN II

Silaturahmi sangat dianjurkan oleh agama, khususnya Islam. Selain akan memperpanjang umum, juga membawa rejeki. Karya Bakti untuk Negeri (KBN) 2014 di Kebumen oleh Komunitas Sosial Media Kampoeng Relawan akan menjadi ajang silaturahmi sukarelawan PMI se Indonesia yang dirancang membawa banyak nilai tambah.

KARYA BAKTI UNTUK NEGERI: KOPDAR ALA KAMPOENG RELAWAN - BAGIAN I

Sebagai implementasi tujuan berdirinya Komunitas Sosial Media Sukarelawan PMI Kampoeng Relawan yaitu menguatkan upaya untuk kebaikan dan perbaikan organisasi PMI, komunitas yang telah memberi warna khusus bagi PMI masa depan ini akan menyelanggarakan satu kegiatan bersamaan perayaan Idul Fitri 1435H dan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke 69 tahun 2014

LOMBA KREATIVITAS BAGI SUKARELAWAN REMAJA PMI (PMR) MADYA

Lomba Kreativitas bagi PMR Madya setingkat SMP/MTs ini dimaksudkan agar memberi nuansa yang lebih luas dan membuka wawasan baru bagi para Pembina Pangkalan PMR Madya tentang beragam potensi kreatif anggota PMI yang sangat mungkin akan memajukan Pangkalan dan anggotanya

LOMBA KREATIVITAS BAGI PMR MULA SETINGKAT SD

Salah satu cara mengenalkan kegiatan Kepalangmerahan di lingkungan sekolah atau madrasah setingkat SD dan MI adalah menghadirkan pola pembinaan PMR Mula yang cakupan kegiatannya lebih luas dan variatif untuk menguatkan kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah atau Dokter Kecil.

Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

09/05/14

Surat Terbuka untuk Saudara Anies Baswedan

Foto: gppgling.

Yth. Sdr. Anies Baswedan.

Saya tak kenal anda secara pribadi, tapi cukup dari perjalanan baik di dunia nyata maupun maya. Dan saya kenal cukup baik satu orang yang saya yakin banyak memberi warna pada kehidupan dan cara berpikir anda. Beliau adalah Pakde Koesnadi Hardjasoemantri, begitu kami para generasi penerus eks Tentara Pelajar memanggil namanya.

Sepanjang anda mengikutsertakan diri dan menyatakan bahwa konvensi dalam menjaring pemimpin untuk Indonesia masa depan melalui Partai Demokrat, saya memang memperhatikan dengan saksama sebagian besar langkah yang anda lakukan.
1.     Pertama, anda selalu menekankan cara berpikir positif. Cara ini jauh lebih berarti dibanding segala bentuk promosi lewat media apapun.
2.     Kedua, anda selalu menekankan pentingnya “membayar janji kemerdekaan”. Sementara itu, tak ada calon lain dari partai atau pihak manapun yang melakukannya. Dari sini, saya menilai anda mundur satu langkah tapi maju seribu langkah ke depan.
3.     Ketiga, anda selalu menekankan pentingnya makna kebersamaan dalam segala perkara menyangkut kepentingan orang banyak. Gotong royong, ihlas dan mandiri itu yang saya tangkap dari pola Gerakan Indonesia Mengajar maupun organisasi relawan Turun Tangan.
4.     Keempat, anda senantiasa mengedepankan orang muda dan para terdidik. Ini modal besar yang tiada banding dengan potensi kekuatan manapun.
5.     Kelima, anda memberi solusi atas permasalahan yang mengemuka dan menjadi sumber-sumber kegelisahan kebanyakan masyarakat Indonesia dengan cara dan bahasa cukup sederhana yang relatif mudah ditangkap artinya oleh segala lapis sosial masyarakat Indonesia.

Dari lima hal di atas, saya percaya anda akan mampu memimpin Indonesia untuk meletakkan kembali dasar-dasar perikehidupan kebangsaan Indonesia sebagaimana dicita-citakan oleh para pendiri Republik Indonesia.

Mungkin, jika anda kelak dipercaya memimpin negeri kita untuk masa 10 tahun ke depan, tidak semua “janji kemerdekaan” dapat dilunasi. Tapi saya sangat yakin kalau anda akan meletakkan fondasi yang sangat kuat untuk memperbaiki 5 hal berikut:
a) Integritas nasional.
b) Mengembalikan cita-cita Republik Indonesia sebagai negara berdasarkan hukum dan keadilan sosial.
c)  Mengendalikan aset-aset nasional dari berbagai sumber.
d)Menempatkan kembali posisi Republik Indonesia dalam kancah pergaulan internasional.
e) Menata kembali organisasi TNI dan Polri.

Jika anda belum dapat memimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia pada periode sekarang, selaku tetua para suka relawan Palang Merah Indonesia (PMI), kami berharap anda dapat menerima tawaran untuk dicalonkan sebagai Ketua Umum PMI Pusat periode 2014 – 2019. Juga menjadi penasihat bagi Himpunan Perajin Anyaman Indonesia (Hipando).

Demikian surat terbuka ini.
Kebumen, 9 Mei 2014

Saya;
   ttd
   Toto Karyanto 

20/03/14

Indonesia Bicara Indonesia - Bagian Satu


Musibah hilangnya pesawat komersial Malaysian Air MH370 dan pencalonan Jokowi sebagai presiden hampir menyita seluruh perhatian publik melebihi porsi berita seputar kampanye pemilu legislatif 2014.  Tentang pesawat hilang, banyak spekulasi muncul dari beragam kalangan. Dari orang biasa sampai mantan orang-orang intelejen. Tak jauh beda dengan pencapresan Jokowi yang masih mengandung sejumlah kontroversi. Media sosial jadi ajang panas kedua berita itu.

Indonesia hari ini tengah menghadapi sejumlah tantangan besar menyangkut keutuhan negeri yang kian hari bukan bertambah baik. Justru sebaliknya, masalah ketahanan nasional masih dibayangi isu perpecahan karena beragam sebab. Pertama, praktik politik sektarian yang memunculkan sejumlah daerah pemekaran tanpa pertimbangan strategis yang matang. Kecenderungan ini ditengara hanya merupakan penyaluran syahwat politik orang-orang yang hanya ingin berkuasa. Sehingga mereka bisa jadi raja kecil di wilayah itu. Biasanya isu lokal yang diangkat adalah efektivitas daya jangkau ke pusat pemerintahan. Atau kedekatan budaya masyarakat lokal yang ingin dibawa serta dalam isu pemekaran itu. 


Hal ini karena evaluasi yang dilakukan oleh pemerintah menunjukkan bahwa dari 217 daerah otonomi baru (DOB), 80% di antaranya berkinerja buruk dan tidak mampu menghimpun pendapatan asli daerah (PAD).  Beberapa DOB tersebut bahkan dinilai gagal. Daerah-daerah itu hanya sibuk membentuk pemerintahan dan berbelanja peralatan serta bergantung pada pada pendanaan dari transfer pemerintah pusat. Tetapi pada saat bersamaan mereka mengabaikan peningkatan pelayanan masyarakat.

Pendulum ternyata berat sebelah. Otonomi daerah selama sepuluhtahun lebih ternyata sering mengalami defisit serta penuh paradoks dan anomali dalam kebijakan maupun implementasi. Selain nihilnya aspek kesejahteraan sebagai parameter dan output final otonomi, semakin tampak kelihatan wajah bopengnya daripada peningkatan kesejahteraan masyarakat setelah diberlakukannya otonomi daerah.

Sebut saja sejumlah di antaranya, seperti maraknya kasus korupsi, banyaknya perda yang tidak kondusif bagi iklim investasi dan pemerintah daerah yang cenderung menggunakan “segala cara” untuk menggenjot PAD, perubahan pelayanan publik yang tak signifikan, suburnya oligarki elite politik di tingkat lokal, serta rendahnya komitmen elite daerah dalam mewujudkan kesejahteraan jelas menunjukkan melencengnya arah desentralisasi. Kebijakan dan Implementasi Kebijakan otonomi daerah yang diatur undang-undang memang merupakan langkah pembaruan besar dalam sejarah desentralisasi dan pemerintahan daerah di Indonesia. Tetapi, dari segi kebijakan maupun aspek implementasi, UU tersebut memiliki sejumlah kelemahan, yang mengakibatkan seringnya terjadi irasionalisasi politik dalam pelaksanaannya.

Ketahanan nasional di bidang ekonomi memang merupakan indikator yang sangat penting dalam memajukan kesejahteraan umum. Praktik politik sektarian yang terjadi di berbagai lini dan sisi kehidupan membuat banyak upaya mencapai derajat kemakmuran rakyat berjalan tertatih-tatih. Pihak yang memiliki kedekatan hubungan dengan penguasa lokal lebih banyak diuntungkan dibanding masyarakat umum yang jumlahnya jauh lebih besar. Meski telah menerapkan mekanisme lelang online misalnya, sejumlah proyek yang menguras sisa APBD yang telah dikuras oleh alokasi belanja rutin antara 50 - 70% dinikmati oleh sekte atau klan penguasa lokal. Praktik ini telah menjadi rahasia umum dan masyarakat pada umumnya tak bisa berbuat banyak untuk mengoreksinya.

Kolaborasi antara penguasa lokal, politisi sektarian dan pengusahaan jejadian (dalam bentuk jual beli stempel atau nama perusahaan). Ada beberapa pos anggaran yang menjadi incaran utama kelompok ini. Proyek-proyek pembangunan gedung pemerintahan dan sarana fisik, hibah atau bantuan sosial serta biaya perjalanan dinas. Banyak kasus korupsi Bupati Kebumen misalnya yang dilakukan di awal masa pasca reformasi dan tidak ditindak-lanjuti dengan alasan klasikal kurang bukti formal. Sementara itu, dana bantuan banjir tahun 2000 dari sebuah lembaga kemanusiaan luar negeri yang pernah menjadi bahan gurauan para relawan di lapangan tak jelas ujung pangkalnya. Baru pada kasus korupsi pembangunan ruas jalan Soka - Klirong   yang menyeret tersangka Plt. Kepala Dinas PU Kabupaten Kebumen diteruskan pada tahap penyidikan setelah ada audit BPK. 

Kasus di atas hanya sebuah sisi gelap yang tengah berusaha diterangkan kepada publik tentang kolaborasi praktik politik sektarian yang terjadi di sebuah wilayah kecil dan masih berada di empat besar kelompok daerah miskin di satu provinsi pada 2010.  Dengan tingkat pendapatan asli daerah yang sekitar 6-7%, target ambisius pengurangan kemiskinan menjadi 15,7% di akhir masa jabatan bupati sekarang (2015) dari 22,71 % (2010); 21,37% (2011) dan pada tahun 2012 sebesar 20,03 % ibarat mengarungi samudera raya dengan ban bekas. Besar harap dari pada usaha dan pencapaiannya. Apalagi setelah terjadinya penggrebekan terduga teroris di Kecamatan Kutowinangun beberapa waktu lalu. 

Integritas wilayah dan kesejahteraan ekonomi adalah dua tantangan besar bersamaan waktu berlakunya AFTA (Asean Free Trade Area) 2015 bukan sebuah pekerjaan ringan yang bisa diselesaikan sekejap baik dengan atau tanpa pencitraan tokoh yang kelak akan memimpin Indonesia. Entah Joko Widodo ( mobil murah dan proyek gagal Esemka Jokowi) yang dicitrakan dengan gaya "demokrasi jalanan" atau lebih dikenal dengan istilah blusukan (jadi ingat proyek Dara Putih (Ratih TV) di masa pemerintahan Rustriningsih yang saat itu dijuluki Srikandi Indonesia oleh Megawati SP). Siapapun dia, masalah Indonesia adalah kompleks. 

27/07/13

Menanti Buah Tangan Para Diaspora Indonesia Di Kongres II “Pulang Kampung”


Pulang kampung atau mudik adalah tradisi masyarakat Indonesia yang berulang setiap menyambut datangnya perayaan hari besar keagamaan, khususnya Idul Fitri atau popular disebut Lebaran. Seperti tahun-tahun lalu, fenomena Mudik Lebaran 2013 yang berdekatan dengan peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke 68 boleh jadi hanya merupakan hal biasa. Penuh dengan nuansa dan romantika.

Ada sisi lain yang mungkin juga akan tertutup beragam kemeriahan dari dua peringatan tadi. Yaitu hadirnya sejumlah orang yang memiliki keterkaitan sejarah, lebih tetapnya budaya dengan Indonesia. Mereka adalah para diaspora, orang-orang yang hidup di negeri lain dan memiliki rasa keterikatan kuat dengan tradisi dan budaya Indonesia. Kehadiran mereka bukan sekadar bernostalgi dengan beragam “rasa keindonesiaan”, tanah leluhur, makanan khas, kekerabatan dan banyak sisi kemanusiaan lainnya. Dengan mengangkat tema “Pulang Kampung” diaspora Indonesia yang jumlahnya ditengara lebih dari 6,5 juta orang tersebut di seluruh penjuru dunia akan menyelenggarakan Kongres II melanjutkan agenda pertama yang berlangsung di Los Angeles, Amerika Serikat pada Juli 2012 yang lalu.

Apa yang menarik dari kehadiran para diaspora itu ? Pertama, mungkin rasa heran sekaligus kagum karena hadir dalam kondisi Bangsa Indonesia yang sering diberitakan tengah mengalami keterpurukan di hampir semua sisi kehidupan di dalam negeri. Terutama dalam hal moral yang membuat tata kehidupan di tanah air nampak carut marut tanpa bentuk yang jelas. Ada harapan baru karena para diaspora relatif memiliki mental cukup tangguh dan berani menghadapi tantangan kehidupan di negeri lain. Meski tidak semua, tapi gambaran besarnya kurang lebih begitu.

Yang kedua, setiap tahun mereka mengirim uang ke Indonesia sekitar $7 miliyar. Satu jumlah yang cukup besar untuk menggerakkan perekonomian beberapa daerah miskin semacam Kabupaten Kebumen atau wilayah setingkat provinsi. Angka itu mungkin tidak termasuk nilai ekspor barang melalui Jaringan Diaspora Indonesia (Indonesia Diaspora Network).

Ketiga dan yang terpenting, mereka banyak yang memiliki kapasitas sumber daya manusia yang diakui sekelas dunia. Tak heran jika muncul pujian dari penggagas, Dr. Dino Pati Jalal, bahwa mereka punya kekuatan otak (brain power) luar biasa sebagai inovator, pelopor maupun edukator. Ia memberi contoh seorang Sehat Sutarja, pemilik Marvell Technology Group yang merupakan tiga besar perusahaan semikonduktor di Silicon Valley yang sangat kondang itu. Ia berjanji akan merekrut para inovator dalam negeri melalui perusahaan afiliasi  yang akan dibuka di Jakarta. Dari  satu contoh ini saja kita dapat menggambarkan betapa besar nilai manfaat yang akan diterima masyarakat dalam negeri ketika para diaspora Indonesia yang telah meraih sukses di manca negara membuka peluang pengembangan kapasitas perekonomian nasional.

Keempat, berkait dengan suksesi kepemimpinan nasional yang gaungnya telah menyebar di media massa khususnya TV, suara para peserta Kongres II di Jakarta 18 -20 Agustus 2013 mendatang nampaknya akan menjadi  satu titik perhatian para calon presiden mendatang. Dengan aset yang diperkirakan bernilai sekitar lima kali GDP Indonesia, mereka memiliki posisi tawar yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Apalagi, dari satu survey nasional, diketahui bahwa derajat kepercayaan masyarakat dalam negeri kepada partai politik hanya tersisa kurang dari 50%. Peluang bagi calon independen akan lebih besar dari periode sebelumnya. Boleh jadi, jika suara para diaspora dapat diakomodasi secara khusus, tidak seperti periode sebelumnya yang merupakan bagian dari daerah pemilihan DKI Jakarta di luar negeri, kantong suara mereka cukup besar meskipun di dalam negeri ada Jokowi yang punya peluang besar jadi calon terpopular saat ini.

Terlepas dari persoalan suksesi kepemimpinan tadi, diaspora Indonesia adalah kekuatan besar yang kelak akan mewarnai banyak sisi kehidupan Bangsa Indonesia. Mereka punya program khusus Young Diaspora 2050 yang rinciannya baru akan diketahui publik di tengah atau akhir acara “ Pulang Kampung”. Komitmen mereka bukan seperti janji politisi lokal yang seringkali dilanggar sendiri. Karena mereka brain drain atau saluran cerdas yang tak mudah diprovokasi oleh suara-suara angin para pembisik dan calo-calo politik yang hanya berpikir sempit dan sesaat.


Selamat Datang di kampung halaman dan selamat berkongres. Semoga kita dapat saling memberi manfaat bagi masa depan Indonesia Raya. Dirgahayu Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke 68. Jayalah negeri, tanah air dan bangsa Indonesia.    

23/05/13

Menelisik Perjalanan Diaspora Indonesia - Bagian I




Keprihatinan anak-anak negeri di mana pun atas situasi Indonesia hari ini, mengutip Immanuel Kant, mencerminkan empirical apperception. Perasaan getir warga bangsa melampaui apa yang dibayangkan kalangan elite. Maka, ketimbang berharap kepada negara yang berpilin dengan ragam kompleksitas, inisiatif berupa gerakan-gerakan kecil berkualitas, berdaya jangkau mondial, dapat disodorkan sebagai alternatif keluar dari perangkap kejumudan struktural. 


Kutipan tulisan Kordinator Forum   Menjadi Indonesia, Suwidi Tono tentang dilema Diaspora Indonesia  di atas adalah faktor pemicu saya untuk menelisik perjalanan gerakan mudik Indonesia terbesar di dunia menjadi serangkaian tulisan mengenai kehidupan, penghidupan dan beragam sisi menarik lainnya dari orang-orang yang memiliki keterkaitan batin dengan tanah air dan budaya Indonesia dari seluruh penjuru dunia. Gerakan mudik semacam ini menggapai sukses di RR Cina, India dan berbagai negara lainnya. Melalui tulisan ini, saya berharap ada pencerahan atas berbagai hal yang akan mengubah citra Indonesia di mata dunia. Karena gerakan ini lebih menyentuh sisi kemanusiaan dan budaya. Semoga.

Istilah Diaspora 

Istilah diaspora, dalam situs Wikipedia ini, berasal dari bahasa Yunani kuno διασπορά, berarti penyebaran atau penaburan benih. Ha ini digunakan (tanpa huruf besar) untuk merujuk kepada bangsa atau penduduk etnis manapun yang terpaksa atau terdorong untuk meninggalkan tanah air etnis tradisional mereka; penyebaran mereka di berbagai bagian lain dunia, dan perkembangan yang dihasilkan karena penyebaran dan budaya mereka.
Mulanya, istilah Diaspora (dengan huruf besar) digunakan oleh orang-orang Yunani untuk merujuk kepada warga suatu kota kerajaan yang bermigrasi ke wilayah jajahan dengan maksud kolonisasi untuk mengasimilasikan wilayah itu ke dalam kerajaan.
Pada abad ke-20 khususnya telah terjadi krisis pengungsi etnis besar-besaran, karena peperangan dan bangkitnya nasionalisme, fasisme, komunisme dan rasisme  serta karena berbagai bencana alam dan kehancuran ekonomi. Pada paruh pertama abad ke-20 ratusan juta orang terpaksa mengungsi di seluruh Eropa, Asia, dan Afrika Utara. Banyak dari para pengungsi ini mampu bertahan hidup dari faktor kelaparan atau perang, kemudian pergi ke benua Amerika.

Diaspora Indonesia
Pergolakan politik selalu menimbulkan korban, terutama pada orang-orang yang sama sekali tak pernah tahu kepentingan yang ada di dalamnya. Pengiriman sejumlah mahasiswa di negara-negara Eropa Timur oleh Presiden Soekarno sebagai upaya memajukan kehidupan dan penghidupan bangsa pada tahun 1956 adalah satu diantaranya. Gagasan Bung Karno itu diilhami oleh keberhasilan Jepang yang melakukan hal serupa dan  gemilang. Sementara itu, meletusnya peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G 30 S) yang selama ini diidentifikasikan (cenderung diindoktrinasikan) sebagai perbuatan kaum komunis lewat partai mereka (PKI) menjadi penyebab utama sebagian mahasiswa dan ilmuwan tadi memutuskan tidak kembali ke tanah air. Ada yang menetap di negara itu, ada juga yang menjadi imigran di berbagai negara.

Hal serupa terjadi pula pada peristiwa kerusuhan massa pada Mei – September 1998 di berbagai tempat di Indonesia. Tak hanya di kota-kota besar: Jakarta, Surabaya dan Solo. Di kota kecil dan miskin seperti Kebumen mengalami hal serupa. Peristiwa kelam dalam sejarah peradaban manusia Indonesia modern tentu tak akan melupakan Tragedi Semanggi dan Trisakti yang menimbulkan korban jiwa dan harta benda, sepertinya menjadi pengulangan atas peristiwa sejarah hitam pergolakan elit politik seperti di masa kejatuhan Bung Karno sebagai Presiden RI dan Pemimpin Besar Revolusi. Jika di masa akhir pemerintahan Bung Karno yang “dituduh sebagai dalang” adalah PKI dan Dewan Revolusi, peristiwa tragis 1998 tak pernah jelas siapa dalangnya.

Ilustrasi di atas menggambarkan betapa besar pengorbanan yang harus ditanggung oleh orang awam untuk “membayar” sebuah perubahan peta politik di negeri ini. Para korban pergolakan atau konflik politik yang terpaksa harus meninggalkan masa lalunya di tanah kelahiran, Ibu Pertiwi Indonesia, dan masih memiliki perasaan bertumpah darah Indonesia  itu ada yang masih berstatus WNI atau telah jadi WNA. Orang-orang itu biasa disebut dengan diaspora. Satu diantaranya adalah artis kondang Taiwan kelahiran Bogor dan besar di Jakarta, Margareth Wang. Ia terpaksa meninggalkan Indonesia di awal peristiwa kerusuhan massa Mei 1998 di tengah santernya isu sentimen sosial “anti China”.

Diaspora Indonesia difasilitasi kehadirannya oleh Dr.Dino Patti Djalal yang menjabat sebagai Duta besar RI di Amerika Serikat. Gagasan menghadirkan diaspora Indonesia dicatat sebagai peristiwa bersejarah bagi jutaan orang Indonesia yang hidup di berbagai belahan dunia.   Dalam berbagai proyeksi masa depan Indonesia di abad ke-21, ada satu faktor yang sering luput dalam kalkulasi bangsa : diaspora Indonesia. "Diaspora" disini merujuk pada semua orang di luar negeri yang berdarah, berjiwa dan berbudaya Indonesia - baik yang masih WNI maupun yang sudah menjadi WNA.  Selama ini, belum ada pendekatan dan atensi sistematis dari Indonesia terhadap kelompok diaspora ini.  Yang pasti, jumlah diaspora Indonesia jauh lebih banyak dari yang diperkirakan, dan jauh lebih besar dari jumlah WNI di luar negeri yang tahun 2010 tercatat sekitar 3 juta orang. Yang menarik, diaspora Indonesia - apakah WNI maupun WNA - mempunyai brain power yang luar biasa.  Selama di AS, saya tak kunjung habis bertemu inovator, entrepreneur, pelopor, edukator dari diaspora Indonesia.  Karena itu, "diaspora Indonesia" lebih dari sekedar perantau, namun suatu komunitas besar yang padat ilmu, ide, modal dan jaringan.  Saya percaya, secara hitungan kasar, jumlah diaspora Indonesia paling tidak 2 kali jumlah penduduk Singapura, dengan pendapatan per kapita 5 kali lipat per kapita di Indonesia. Itulah penggalan Catatan Penggagas yang membuka cakrawala dan minat saya untuk menelisik lebih dalam apa, siapa dan bagaimana kiprah mereka. Begitu juga dengan  pengklasifikasian identitas diaspora Indonesia yang menambah keyakinan atas potensi besar mereka. 

Terlebih dengan   munculnya Dekarasi Diaspora Indonesia yang muncul di akhir Kongres Diaspora Indonesia ( Congress of Indonesia Diaspora ) yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar RI di Los Angeles Amerika Serikat pada 6 - 8 Juli 2012 lampau. Isi deklarasi itu secara lengkap adalah sebagai berikut: 

Deklarasi Diaspora Indonesia

Kami diaspora Indonesia.
Kami tersebar di lima benua, terdiri dari warganegara Indonesia dan warga bangsa-bangsa dunia yang berketurunan Indonesia.

Kami merupakan komunitas-komunitas yang besar dan beragam dan terikat oleh tali hubungan dan rasa kecintaan terhadap Indonesia.
Kami terdiri dari para profesional, buruh, perawat, awak kapal, insinyur, arsitek, guru, mahasiswa, politikus dan aktivitis, artis, wiraswasta, inovator, atlit, pemuka agama, pemuda, ibu rumah tangga dan banyak lagi.

Kami berkumpul di Los Angeles untuk menumbuhkan dan mengembangkan persaudaraan dengan diaspora Indonesia di seluruh dunia, dan untuk menghubungkan sesama diaspora guna memperbaharui dan memperkuat keterikatan dengan Indonesia.

Dengan ini kami menyatakan:

Kami bertekad untuk membangun sebuah komunitas global diaspora Indonesia. Untuk tujuan ini, kami membentuk Network Diaspora Indonesia.
Kami bertekad untuk bersinergi dengan Indonesia.  Menjawab himbauan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada Kongres, dan diperkuat oleh kehadiran anggota parlemen, pemimpin masyarakat madani dan wiraswasta Indonesia, kami siap dan berkomitmen untuk mengembangkan kemitraan dan kerjasama yang dinamis untuk kesejahteraan bersama dengan Indonesia.
Kami berbesar hati dengan kemajuan demokrasi, ekonomi, posisi internasional Indonesia dan budaya Indonesia yang semakin  men-dunia, dan kami percaya bahwa Indonesia akan mengatasi tantangan yang masih ada, seperti memajukan kesejahteraan umum, meningkatkan good governance, dan menegakkan hukum.
Kami menaruh harapan tinggi pada masa depan cerah Indonesia yang penuh potensi, dan kami terus percaya pada nilai-nilai Indonesia terbaik : toleransi dan harmoni, bhineka tunggal ika, pluralisme, dan tradisi yang menghormati lingkungan.
Kami berpandangan bahwa warisan nilai-nilai yang penuh kearifan ini perlu selalu dilestarikan karena tanpa ini Indonesia akan kehilangan makna.  Kami akan berupaya keras untuk bersama-sama melestarikan nilai-nilai tersebut.

Kami meyakini bahwa abad ke-21 akan menjadi abad terbaik untuk Indonesia.
Untuk memenuhi harapan ini, Indonesia harus percaya diri, adaftif, terbuka pada ide-ide baru, meritokratis, dan secara cerdas mengelola kekayaan sumber daya alam, sumber daya manusia dan warisan budayanya.
Diaspora Indonesia akan menjadi penghubung (HUB) untuk gagasan, solusi, sumber-daya dan jaringan guna  membangun kesejahteraan bersama, dan kami akan menjadi suatu kekuatan untuk perdamaian dan kemajuan.
Kami akan mempromosikan budaya Indonesia.
Kami akan menyebarluaskan visi ini dan bekerjasama dengan komunitas diaspora Indonesia lainnya, dan akan berupaya untuk terus tumbuh bersama dan membantu satu sama lain.
Ini merupakan babak baru bagi Indonesia, dan diaspora Indonesia.
Kami mengundang semua diaspora Indonesia untuk maju bersama kami.

Los Angeles, 8 Juli 2012

Peirstiwa bersejarah

Banyak hal menarik dari sebuah deklarasi itu. Kepercayaan atas nilai-nilai terbaik Indonesia : harmoni, bhineka tunggal ika, tradisi yang menghormati lingkungan yang penuh kearifan ini perlu dilestarikan dengan makna. Nilai-nilai yang justru tengah mengalami degradasi maknawi di dalam negeri. Budaya sinis ( culture of cinism ) atas "nasib", kondisi aktual dan faktual Bangsa Indonesia yang sarat caci maki dan curiga karena dampak pertikaian elit politik yang tak pernah dewasa memahami kearifan itu. Persis seperti sinyalemen sastrawan Bambang Oeban yang diekspresikan dalam Sajak Tembang Negeri Jajahan. (bersambung)

Google Pagerank
totokaryantowirjosoemarto. Diberdayakan oleh Blogger.