Satu misi kampoeng Relawan adalah mewujudkan Kewirausahaan Sosial di kalangan sukarelawan PMI. Implementasinya adalah menyelenggarakan Sarasehan Kewirausahaan Sosial dalam kegiatan KBN 2014 di Ruang Theatre STIKes Muhammadiyah Gombong pada Jumat, 15 Agustus 2014 yang akan menghadirkan para pembicara kompeten di bidangnya.
KARYA BAKTI UNTUK NEGERI: KOPDAR ALA KAMPOENG RELAWAN - BAGIAN II
Silaturahmi sangat dianjurkan oleh agama, khususnya Islam. Selain akan memperpanjang umum, juga membawa rejeki. Karya Bakti untuk Negeri (KBN) 2014 di Kebumen oleh Komunitas Sosial Media Kampoeng Relawan akan menjadi ajang silaturahmi sukarelawan PMI se Indonesia yang dirancang membawa banyak nilai tambah.
Sebagai implementasi tujuan berdirinya Komunitas Sosial Media Sukarelawan PMI Kampoeng Relawan yaitu menguatkan upaya untuk kebaikan dan perbaikan organisasi PMI, komunitas yang telah memberi warna khusus bagi PMI masa depan ini akan menyelanggarakan satu kegiatan bersamaan perayaan Idul Fitri 1435H dan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke 69 tahun 2014
Lomba Kreativitas bagi PMR Madya setingkat SMP/MTs ini dimaksudkan agar memberi nuansa yang lebih luas dan membuka wawasan baru bagi para Pembina Pangkalan PMR Madya tentang beragam potensi kreatif anggota PMI yang sangat mungkin akan memajukan Pangkalan dan anggotanya
Salah satu cara mengenalkan kegiatan Kepalangmerahan di lingkungan sekolah atau madrasah setingkat SD dan MI adalah menghadirkan pola pembinaan PMR Mula yang cakupan kegiatannya lebih luas dan variatif untuk menguatkan kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah atau Dokter Kecil.
Saya tak kenal
anda secara pribadi, tapi cukup dari perjalanan baik di dunia nyata maupun
maya. Dan saya kenal cukup baik satu orang yang saya yakin banyak memberi warna
pada kehidupan dan cara berpikir anda. Beliau adalah Pakde Koesnadi
Hardjasoemantri, begitu kami para generasi penerus eks Tentara Pelajar
memanggil namanya.
Sepanjang anda
mengikutsertakan diri dan menyatakan bahwa konvensi dalam menjaring pemimpin
untuk Indonesia masa depan melalui Partai Demokrat, saya memang memperhatikan
dengan saksama sebagian besar langkah yang anda lakukan.
1.Pertama,
anda selalu menekankan cara berpikir positif. Cara ini jauh lebih berarti
dibanding segala bentuk promosi lewat media apapun.
2.Kedua,
anda selalu menekankan pentingnya “membayar janji kemerdekaan”. Sementara itu,
tak ada calon lain dari partai atau pihak manapun yang melakukannya. Dari sini,
saya menilai anda mundur satu langkah tapi maju seribu langkah ke depan.
3.Ketiga,
anda selalu menekankan pentingnya makna kebersamaan dalam segala perkara
menyangkut kepentingan orang banyak. Gotong royong, ihlas dan mandiri itu yang
saya tangkap dari pola Gerakan Indonesia Mengajar maupun organisasi relawan
Turun Tangan.
4.Keempat,
anda senantiasa mengedepankan orang muda dan para terdidik. Ini modal besar
yang tiada banding dengan potensi kekuatan manapun.
5.Kelima,
anda memberi solusi atas permasalahan yang mengemuka dan menjadi sumber-sumber
kegelisahan kebanyakan masyarakat Indonesia dengan cara dan bahasa cukup
sederhana yang relatif mudah ditangkap artinya oleh segala lapis sosial
masyarakat Indonesia.
Dari
lima hal di atas, saya percaya anda akan mampu memimpin Indonesia untuk
meletakkan kembali dasar-dasar perikehidupan kebangsaan Indonesia sebagaimana
dicita-citakan oleh para pendiri Republik Indonesia.
Mungkin,
jika anda kelak dipercaya memimpin negeri kita untuk masa 10 tahun ke depan,
tidak semua “janji kemerdekaan” dapat dilunasi. Tapi saya sangat yakin kalau
anda akan meletakkan fondasi yang sangat kuat untuk memperbaiki 5 hal berikut:
a) Integritas
nasional.
b)Mengembalikan
cita-cita Republik Indonesia sebagai negara berdasarkan hukum dan keadilan
sosial.
c)Mengendalikan
aset-aset nasional dari berbagai sumber.
d)Menempatkan
kembali posisi Republik Indonesia dalam kancah pergaulan internasional.
e)Menata
kembali organisasi TNI dan Polri.
Jika
anda belum dapat memimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia pada periode
sekarang, selaku tetua para suka relawan Palang Merah Indonesia (PMI), kami
berharap anda dapat menerima tawaran untuk dicalonkan sebagai Ketua Umum PMI
Pusat periode 2014 – 2019. Juga menjadi penasihat bagi Himpunan Perajin Anyaman
Indonesia (Hipando).
Musibah hilangnya pesawat komersial Malaysian Air MH370 dan pencalonan Jokowi sebagai presiden hampir menyita seluruh perhatian publik melebihi porsi berita seputar kampanye pemilu legislatif 2014. Tentang pesawat hilang, banyak spekulasi muncul dari beragam kalangan. Dari orang biasa sampai mantan orang-orang intelejen. Tak jauh beda dengan pencapresan Jokowi yang masih mengandung sejumlah kontroversi. Media sosial jadi ajang panas kedua berita itu. Indonesia hari ini tengah menghadapi sejumlah tantangan besar menyangkut keutuhan negeri yang kian hari bukan bertambah baik. Justru sebaliknya, masalah ketahanan nasional masih dibayangi isu perpecahan karena beragam sebab. Pertama, praktik politik sektarian yang memunculkan sejumlah daerah pemekaran tanpa pertimbangan strategis yang matang. Kecenderungan ini ditengara hanya merupakan penyaluran syahwat politik orang-orang yang hanya ingin berkuasa. Sehingga mereka bisa jadi raja kecil di wilayah itu. Biasanya isu lokal yang diangkat adalah efektivitas daya jangkau ke pusat pemerintahan. Atau kedekatan budaya masyarakat lokal yang ingin dibawa serta dalam isu pemekaran itu.
Hal ini karena evaluasi yang dilakukan oleh pemerintah
menunjukkan bahwa dari 217 daerah otonomi baru (DOB), 80% di antaranya
berkinerja buruk dan tidak mampu menghimpun pendapatan asli daerah (PAD).Beberapa DOB tersebut bahkan dinilai gagal.
Daerah-daerah itu hanya sibuk membentuk pemerintahan dan berbelanja peralatan
serta bergantung pada pada pendanaan dari transfer pemerintah pusat. Tetapi pada
saat bersamaan mereka mengabaikan peningkatan pelayanan masyarakat.
Pendulum ternyata berat sebelah. Otonomi daerah selama
sepuluhtahun lebih ternyata sering mengalami defisit serta penuh paradoks dan
anomali dalam kebijakan maupun implementasi. Selain nihilnya aspek
kesejahteraan sebagai parameter dan output final otonomi, semakin tampak
kelihatan wajah bopengnya daripada peningkatan kesejahteraan masyarakat setelah
diberlakukannya otonomi daerah.
Sebut saja sejumlah di antaranya, seperti maraknya kasus
korupsi, banyaknya perda yang tidak kondusif bagi iklim investasi dan
pemerintah daerah yang cenderung menggunakan “segala cara” untuk menggenjot
PAD, perubahan pelayanan publik yang tak signifikan, suburnya oligarki elite
politik di tingkat lokal, serta rendahnya komitmenelite daerah dalam mewujudkan kesejahteraan jelas
menunjukkan melencengnya arah desentralisasi.Kebijakan dan Implementasi Kebijakan otonomi daerah
yang diatur undang-undang memang merupakan langkah pembaruan besar dalam
sejarah desentralisasi dan pemerintahan daerah di Indonesia. Tetapi, dari segi
kebijakan maupun aspek implementasi, UU tersebut memiliki sejumlah kelemahan,
yang mengakibatkan seringnya terjadi irasionalisasi politik dalam
pelaksanaannya.
Ketahanan nasional di bidang ekonomi memang merupakan indikator yang sangat penting dalam memajukan kesejahteraan umum. Praktik politik sektarian yang terjadi di berbagai lini dan sisi kehidupan membuat banyak upaya mencapai derajat kemakmuran rakyat berjalan tertatih-tatih. Pihak yang memiliki kedekatan hubungan dengan penguasa lokal lebih banyak diuntungkan dibanding masyarakat umum yang jumlahnya jauh lebih besar. Meski telah menerapkan mekanisme lelang online misalnya, sejumlah proyek yang menguras sisa APBD yang telah dikuras oleh alokasi belanja rutin antara 50 - 70% dinikmati oleh sekte atau klan penguasa lokal. Praktik ini telah menjadi rahasia umum dan masyarakat pada umumnya tak bisa berbuat banyak untuk mengoreksinya.
Kolaborasi antara penguasa lokal, politisi sektarian dan pengusahaan jejadian (dalam bentuk jual beli stempel atau nama perusahaan). Ada beberapa pos anggaran yang menjadi incaran utama kelompok ini. Proyek-proyek pembangunan gedung pemerintahan dan sarana fisik, hibah atau bantuan sosial serta biaya perjalanan dinas. Banyak kasus korupsi Bupati Kebumen misalnya yang dilakukan di awal masa pasca reformasi dan tidak ditindak-lanjuti dengan alasan klasikal kurang bukti formal. Sementara itu, dana bantuan banjir tahun 2000 dari sebuah lembaga kemanusiaan luar negeri yang pernah menjadi bahan gurauan para relawan di lapangan tak jelas ujung pangkalnya. Baru pada kasus korupsi pembangunan ruas jalan Soka - Klirong yang menyeret tersangka Plt. Kepala Dinas PU Kabupaten Kebumen diteruskan pada tahap penyidikan setelah ada audit BPK.
Kasus di atas hanya sebuah sisi gelap yang tengah berusaha diterangkan kepada publik tentang kolaborasi praktik politik sektarian yang terjadi di sebuah wilayah kecil dan masih berada di empat besar kelompok daerah miskin di satu provinsi pada 2010. Dengan tingkat pendapatan asli daerah yang sekitar 6-7%, target ambisius pengurangan kemiskinan menjadi 15,7% di akhir masa jabatan bupati sekarang (2015) dari 22,71 % (2010); 21,37% (2011) dan pada tahun 2012 sebesar 20,03 % ibarat mengarungi samudera raya dengan ban bekas. Besar harap dari pada usaha dan pencapaiannya. Apalagi setelah terjadinya penggrebekan terduga teroris di Kecamatan Kutowinangun beberapa waktu lalu.
Integritas wilayah dan kesejahteraan ekonomi adalah dua tantangan besar bersamaan waktu berlakunya AFTA (Asean Free Trade Area) 2015 bukan sebuah pekerjaan ringan yang bisa diselesaikan sekejap baik dengan atau tanpa pencitraan tokoh yang kelak akan memimpin Indonesia. Entah Joko Widodo ( mobil murah dan proyek gagal Esemka Jokowi) yang dicitrakan dengan gaya "demokrasi jalanan" atau lebih dikenal dengan istilah blusukan (jadi ingat proyek Dara Putih (Ratih TV) di masa pemerintahan Rustriningsih yang saat itu dijuluki Srikandi Indonesia oleh Megawati SP). Siapapun dia, masalah Indonesia adalah kompleks.
Pulang kampung atau mudik adalah
tradisi masyarakat Indonesia yang berulang setiap menyambut datangnya perayaan
hari besar keagamaan, khususnya Idul Fitri atau popular disebut Lebaran.
Seperti tahun-tahun lalu, fenomena Mudik Lebaran 2013 yang berdekatan dengan
peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke 68 boleh jadi hanya merupakan hal
biasa. Penuh dengan nuansa dan romantika.
Ada sisi lain yang mungkin juga
akan tertutup beragam kemeriahan dari dua peringatan tadi. Yaitu hadirnya sejumlah
orang yang memiliki keterkaitan sejarah, lebih tetapnya budaya dengan
Indonesia. Mereka adalah para diaspora, orang-orang yang hidup di negeri lain
dan memiliki rasa keterikatan kuat dengan tradisi dan budaya Indonesia.
Kehadiran mereka bukan sekadar bernostalgi dengan beragam “rasa keindonesiaan”, tanah leluhur, makanan khas,
kekerabatan dan banyak sisi kemanusiaan lainnya. Dengan mengangkat tema “Pulang
Kampung” diaspora Indonesia yang jumlahnya ditengara lebih dari 6,5
juta orang tersebut di seluruh penjuru dunia akan menyelenggarakan Kongres II
melanjutkan agenda pertama yang berlangsung di Los Angeles, Amerika Serikat pada Juli 2012 yang
lalu.
Apa yang menarik dari kehadiran
para diaspora itu ? Pertama, mungkin rasa heran sekaligus kagum karena hadir
dalam kondisi Bangsa Indonesia yang sering diberitakan tengah mengalami
keterpurukan di hampir semua sisi kehidupan di dalam negeri. Terutama dalam hal
moral yang membuat tata kehidupan di tanah air nampak carut marut tanpa bentuk
yang jelas. Ada harapan baru karena para diaspora relatif memiliki mental cukup
tangguh dan berani menghadapi tantangan kehidupan di negeri lain. Meski tidak
semua, tapi gambaran besarnya kurang lebih begitu.
Yang kedua, setiap tahun mereka
mengirim uang ke Indonesia sekitar $7 miliyar. Satu jumlah yang cukup besar
untuk menggerakkan perekonomian beberapa daerah miskin semacam Kabupaten
Kebumen atau wilayah setingkat provinsi. Angka itu mungkin tidak termasuk nilai
ekspor barang melalui Jaringan Diaspora Indonesia (Indonesia Diaspora Network).
Ketiga dan yang terpenting,
mereka banyak yang memiliki kapasitas sumber daya manusia yang diakui sekelas
dunia. Tak heran jika muncul pujian dari penggagas, Dr. Dino Pati Jalal, bahwa
mereka punya kekuatan otak (brain power)
luar biasa sebagai inovator, pelopor
maupun edukator. Ia memberi contoh
seorang Sehat Sutarja, pemilik Marvell Technology Group yang merupakan
tiga besar perusahaan semikonduktor di Silicon Valley yang sangat kondang itu. Ia
berjanji akan merekrut para inovator dalam negeri melalui perusahaan afiliasi yang akan dibuka di Jakarta. Dari satu contoh ini saja kita dapat menggambarkan
betapa besar nilai manfaat yang akan diterima masyarakat dalam negeri ketika
para diaspora Indonesia yang telah meraih sukses di manca negara membuka
peluang pengembangan kapasitas perekonomian nasional.
Keempat, berkait dengan suksesi
kepemimpinan nasional yang gaungnya telah menyebar di media massa khususnya TV,
suara para peserta Kongres II di Jakarta 18 -20 Agustus 2013 mendatang
nampaknya akan menjadi satu titik
perhatian para calon presiden mendatang. Dengan aset yang diperkirakan bernilai
sekitar lima kali GDP Indonesia, mereka memiliki posisi tawar yang tidak dapat
diabaikan begitu saja. Apalagi, dari satu survey nasional, diketahui bahwa
derajat kepercayaan masyarakat dalam negeri kepada partai politik hanya tersisa
kurang dari 50%. Peluang bagi calon independen akan lebih besar dari periode
sebelumnya. Boleh jadi, jika suara para diaspora dapat diakomodasi secara
khusus, tidak seperti periode sebelumnya yang merupakan bagian dari daerah
pemilihan DKI Jakarta di luar negeri, kantong suara mereka cukup besar meskipun
di dalam negeri ada Jokowi yang punya peluang besar jadi calon terpopular saat
ini.
Terlepas dari persoalan suksesi
kepemimpinan tadi, diaspora Indonesia adalah kekuatan besar yang kelak akan mewarnai banyak sisi kehidupan Bangsa Indonesia. Mereka punya program
khusus Young Diaspora 2050 yang rinciannya baru akan diketahui publik
di tengah atau akhir acara “ Pulang Kampung”. Komitmen mereka
bukan seperti janji politisi lokal yang seringkali dilanggar sendiri. Karena
mereka brain drain atau saluran
cerdas yang tak mudah diprovokasi oleh suara-suara angin para pembisik dan
calo-calo politik yang hanya berpikir sempit dan sesaat.
Selamat Datang di kampung halaman
dan selamat berkongres. Semoga kita dapat saling memberi manfaat bagi masa
depan Indonesia Raya. Dirgahayu Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke
68. Jayalah negeri, tanah air dan bangsa Indonesia.
Keprihatinan anak-anak negeri di mana pun atas situasi Indonesia
hari ini, mengutip Immanuel Kant, mencerminkanempirical apperception. Perasaan getir
warga bangsa melampaui apa yang dibayangkan kalangan elite. Maka, ketimbang
berharap kepada negara yang berpilin dengan ragam kompleksitas, inisiatif
berupa gerakan-gerakan kecil berkualitas, berdaya jangkau mondial, dapat
disodorkan sebagai alternatif keluar dari perangkap kejumudan struktural.
Kutipan tulisan Kordinator Forum Menjadi Indonesia, Suwidi Tono tentang dilema Diaspora Indonesiadi atas adalahfaktor pemicu saya untuk menelisik perjalanan gerakan mudik Indonesia terbesar di dunia menjadi serangkaian tulisan mengenai kehidupan, penghidupan dan beragam sisi menarik lainnya dari orang-orang yang memiliki keterkaitan batin dengan tanah air dan budaya Indonesia dari seluruh penjuru dunia. Gerakan mudik semacam ini menggapai sukses di RR Cina, India dan berbagai negara lainnya. Melalui tulisan ini, saya berharap ada pencerahan atas berbagai hal yang akan mengubah citra Indonesia di mata dunia. Karena gerakan ini lebih menyentuh sisi kemanusiaan dan budaya. Semoga.
Istilah Diaspora
Istilahdiaspora, dalam situs Wikipedia ini, berasal dari bahasa Yunani kunoδιασπορά, berarti penyebaran atau
penaburan benih. Ha ini digunakan (tanpa huruf besar) untuk merujuk kepada
bangsa atau penduduketnismanapun yang terpaksa atau terdorong untuk meninggalkantanah airetnis tradisional mereka; penyebaran
mereka di berbagai bagian lain dunia, dan perkembangan yang dihasilkan karena
penyebaran dan budaya mereka.
Mulanya, istilahDiaspora(dengan huruf besar) digunakan oleh
orang-orang Yunani untuk merujuk kepada warga suatu kota kerajaan yang
bermigrasi ke wilayah jajahan dengan maksud kolonisasi untuk mengasimilasikan
wilayah itu ke dalam kerajaan.
Pada abad ke-20 khususnya telah terjadi krisis pengungsi etnis
besar-besaran, karena peperangan dan bangkitnya nasionalisme, fasisme, komunisme dan rasisme serta karena berbagai bencana alam
dan kehancuran ekonomi. Pada paruh pertama abad ke-20
ratusan juta orang terpaksa mengungsi di seluruh Eropa,
Asia, dan Afrika Utara. Banyak dari para pengungsi ini mampu bertahan hidup dari faktor kelaparan atau perang, kemudian pergi ke benua Amerika.
Diaspora Indonesia
Pergolakan politik
selalu menimbulkan korban, terutama pada orang-orang yang sama sekali tak
pernah tahu kepentingan yang ada di dalamnya. Pengiriman sejumlah mahasiswa di
negara-negara Eropa Timur oleh Presiden Soekarno sebagai upaya memajukan
kehidupan dan penghidupan bangsa pada tahun 1956 adalah satu diantaranya.
Gagasan Bung Karno itu diilhami oleh keberhasilan Jepang yang melakukan hal
serupa dan gemilang. Sementara itu, meletusnya peristiwa Gerakan
30 September 1965 (G 30 S) yang selama ini diidentifikasikan (cenderung
diindoktrinasikan) sebagai perbuatan kaum komunis lewat partai mereka (PKI)
menjadi penyebab utama sebagian mahasiswa dan ilmuwan tadi memutuskan tidak
kembali ke tanah air. Ada yang menetap di negara itu, ada juga yang menjadi
imigran di berbagai negara.
Hal serupa terjadi
pula pada peristiwa kerusuhan massa pada Mei – September 1998 di berbagai
tempat di Indonesia. Tak hanya di kota-kota besar: Jakarta, Surabaya dan Solo. Di kota kecil dan miskin seperti Kebumen mengalami hal serupa. Peristiwa kelam dalam sejarah peradaban manusia Indonesia modern tentu tak akan melupakan Tragedi Semanggi dan Trisakti yang menimbulkan korban jiwa dan harta
benda, sepertinya menjadi pengulangan atas peristiwa sejarah hitam pergolakan
elit politik seperti di masa kejatuhan Bung Karno sebagai Presiden RI dan Pemimpin Besar Revolusi. Jika di masa akhir pemerintahan Bung Karno yang “dituduh
sebagai dalang” adalah PKI dan Dewan Revolusi, peristiwa tragis 1998 tak pernah
jelas siapa dalangnya.
Ilustrasi di atas
menggambarkan betapa besar pengorbanan yang harus ditanggung oleh orang awam
untuk “membayar” sebuah perubahan peta politik di negeri ini. Para korban
pergolakan atau konflik politik yang terpaksa harus meninggalkan masa lalunya
di tanah kelahiran, Ibu Pertiwi Indonesia, dan masih memiliki perasaan
bertumpah darah Indonesia itu ada yang
masih berstatus WNI atau telah jadi WNA. Orang-orang itu biasa disebut dengan diaspora.
Satu diantaranya adalah artis kondang Taiwan kelahiran Bogor dan besar di
Jakarta, Margareth Wang. Ia terpaksa meninggalkan Indonesia di awal
peristiwa kerusuhan massa Mei 1998 di tengah santernya isu sentimen sosial
“anti China”.
Diaspora Indonesia difasilitasi kehadirannya oleh Dr.Dino Patti Djalal yang menjabat
sebagai Duta besar RI di Amerika Serikat. Gagasan menghadirkan diaspora
Indonesia dicatat sebagai peristiwa bersejarah bagi jutaan orang Indonesia yang
hidup di berbagai belahan dunia. Dalam berbagai proyeksi masa depan Indonesia di abad
ke-21, ada satu faktor yang sering luput dalam kalkulasi bangsa : diaspora
Indonesia. "Diaspora" disini merujuk pada semua orang di luar
negeri yang berdarah, berjiwa dan berbudaya Indonesia - baik yang masih WNI
maupun yang sudah menjadi WNA. Selama ini, belum ada pendekatan dan
atensi sistematis dari Indonesia terhadap kelompok diaspora ini.Yang pasti, jumlah
diaspora Indonesia jauh lebih banyak dari yang diperkirakan, dan jauh lebih
besar dari jumlah WNI di luar negeri yang tahun 2010 tercatat sekitar 3 juta
orang. Yang menarik, diaspora Indonesia - apakah WNI maupun WNA -
mempunyai brain poweryang
luar biasa. Selama di AS, saya tak kunjung habis bertemu inovator,
entrepreneur, pelopor, edukator dari diaspora Indonesia. Karena itu,
"diaspora Indonesia" lebih dari sekedar perantau, namun suatu
komunitas besar yang padat ilmu, ide, modal dan jaringan. Saya
percaya, secara hitungan kasar, jumlah diaspora Indonesia paling tidak 2 kali
jumlah penduduk Singapura, dengan pendapatan per kapita 5 kali lipat per kapita
di Indonesia. Itulah penggalan Catatan Penggagas yang membuka cakrawala dan minat saya untuk menelisik lebih dalam apa, siapa dan bagaimana kiprah mereka. Begitu juga dengan pengklasifikasian identitas diaspora Indonesia yang menambah keyakinan atas potensi besar mereka.
Terlebih dengan munculnya Dekarasi Diaspora Indonesia yang muncul di akhir Kongres Diaspora Indonesia ( Congress of Indonesia Diaspora ) yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar RI di Los Angeles Amerika Serikat pada 6 - 8 Juli 2012 lampau. Isi deklarasi itu secara lengkap adalah sebagai berikut:
Deklarasi Diaspora
Indonesia
Kami diaspora
Indonesia.
Kami tersebar di
lima benua, terdiri dari warganegara Indonesia dan warga bangsa-bangsa dunia
yang berketurunan Indonesia.
Kami merupakan
komunitas-komunitas yang besar dan beragam dan terikat oleh tali hubungan dan
rasa kecintaan terhadap Indonesia.
Kami terdiri dari
para profesional, buruh, perawat, awak kapal, insinyur, arsitek, guru,
mahasiswa, politikus dan aktivitis, artis, wiraswasta, inovator, atlit, pemuka
agama, pemuda, ibu rumah tangga dan banyak lagi.
Kami berkumpul di
Los Angeles untuk menumbuhkan dan mengembangkan persaudaraan dengan diaspora
Indonesia di seluruh dunia, dan untuk menghubungkan sesama diaspora guna
memperbaharui dan memperkuat keterikatan dengan Indonesia.
Dengan ini kami
menyatakan:
Kami bertekad untuk
membangun sebuah komunitas global diaspora Indonesia. Untuk tujuan ini, kami
membentuk Network Diaspora Indonesia.
Kami bertekad untuk
bersinergi dengan Indonesia. Menjawab himbauan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono kepada Kongres, dan diperkuat oleh kehadiran anggota parlemen,
pemimpin masyarakat madani dan wiraswasta Indonesia, kami siap dan berkomitmen
untuk mengembangkan kemitraan dan kerjasama yang dinamis untuk kesejahteraan
bersama dengan Indonesia.
Kami berbesar hati
dengan kemajuan demokrasi, ekonomi, posisi internasional Indonesia dan budaya
Indonesia yang semakin men-dunia, dan kami percaya bahwa Indonesia akan
mengatasi tantangan yang masih ada, seperti memajukan kesejahteraan umum,
meningkatkan good governance, dan menegakkan hukum.
Kami menaruh
harapan tinggi pada masa depan cerah Indonesia yang penuh potensi, dan kami
terus percaya pada nilai-nilai Indonesia terbaik : toleransi dan harmoni,
bhineka tunggal ika, pluralisme, dan tradisi yang menghormati lingkungan.
Kami berpandangan
bahwa warisan nilai-nilai yang penuh kearifan ini perlu selalu dilestarikan
karena tanpa ini Indonesia akan kehilangan makna. Kami akan berupaya
keras untuk bersama-sama melestarikan nilai-nilai tersebut.
Kami meyakini bahwa
abad ke-21 akan menjadi abad terbaik untuk Indonesia. Untuk memenuhi harapan ini, Indonesia harus
percaya diri, adaftif, terbuka pada ide-ide baru, meritokratis, dan secara
cerdas mengelola kekayaan sumber daya alam, sumber daya manusia dan warisan
budayanya.
Diaspora Indonesia
akan menjadi penghubung (HUB) untuk gagasan, solusi, sumber-daya dan jaringan
guna membangun kesejahteraan bersama, dan kami akan menjadi suatu
kekuatan untuk perdamaian dan kemajuan.
Kami akan
mempromosikan budaya Indonesia.
Kami akan
menyebarluaskan visi ini dan bekerjasama dengan komunitas diaspora Indonesia
lainnya, dan akan berupaya untuk terus tumbuh bersama dan membantu satu sama
lain.
Ini merupakan babak
baru bagi Indonesia, dan diaspora Indonesia.
Kami mengundang
semua diaspora Indonesia untuk maju bersama kami.
Los Angeles, 8 Juli 2012
Peirstiwa bersejarah
Banyak hal menarik dari sebuah deklarasi itu. Kepercayaan atas nilai-nilai terbaik Indonesia : harmoni, bhineka tunggal ika, tradisi yang menghormati lingkungan yang penuh kearifan ini perlu dilestarikan dengan makna. Nilai-nilai yang justru tengah mengalami degradasi maknawi di dalam negeri. Budaya sinis ( cultureof cinism ) atas "nasib", kondisi aktual dan faktual Bangsa Indonesia yang sarat caci maki dan curiga karena dampak pertikaian elit politik yang tak pernah dewasa memahami kearifan itu. Persis seperti sinyalemen sastrawan Bambang Oeban yang diekspresikan dalam Sajak Tembang Negeri Jajahan. (bersambung)