SARASEHAN KEWIRAUSAHAAN SOSIAL BAGI UMUM DAN SUKARELAWAN PMI

Satu misi kampoeng Relawan adalah mewujudkan Kewirausahaan Sosial di kalangan sukarelawan PMI. Implementasinya adalah menyelenggarakan Sarasehan Kewirausahaan Sosial dalam kegiatan KBN 2014 di Ruang Theatre STIKes Muhammadiyah Gombong pada Jumat, 15 Agustus 2014 yang akan menghadirkan para pembicara kompeten di bidangnya.

KARYA BAKTI UNTUK NEGERI: KOPDAR ALA KAMPOENG RELAWAN - BAGIAN II

Silaturahmi sangat dianjurkan oleh agama, khususnya Islam. Selain akan memperpanjang umum, juga membawa rejeki. Karya Bakti untuk Negeri (KBN) 2014 di Kebumen oleh Komunitas Sosial Media Kampoeng Relawan akan menjadi ajang silaturahmi sukarelawan PMI se Indonesia yang dirancang membawa banyak nilai tambah.

KARYA BAKTI UNTUK NEGERI: KOPDAR ALA KAMPOENG RELAWAN - BAGIAN I

Sebagai implementasi tujuan berdirinya Komunitas Sosial Media Sukarelawan PMI Kampoeng Relawan yaitu menguatkan upaya untuk kebaikan dan perbaikan organisasi PMI, komunitas yang telah memberi warna khusus bagi PMI masa depan ini akan menyelanggarakan satu kegiatan bersamaan perayaan Idul Fitri 1435H dan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke 69 tahun 2014

LOMBA KREATIVITAS BAGI SUKARELAWAN REMAJA PMI (PMR) MADYA

Lomba Kreativitas bagi PMR Madya setingkat SMP/MTs ini dimaksudkan agar memberi nuansa yang lebih luas dan membuka wawasan baru bagi para Pembina Pangkalan PMR Madya tentang beragam potensi kreatif anggota PMI yang sangat mungkin akan memajukan Pangkalan dan anggotanya

LOMBA KREATIVITAS BAGI PMR MULA SETINGKAT SD

Salah satu cara mengenalkan kegiatan Kepalangmerahan di lingkungan sekolah atau madrasah setingkat SD dan MI adalah menghadirkan pola pembinaan PMR Mula yang cakupan kegiatannya lebih luas dan variatif untuk menguatkan kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah atau Dokter Kecil.

Tampilkan postingan dengan label nilai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nilai. Tampilkan semua postingan

17/03/13

Buku Sejarah Bangsaku - Menggali Gundah Penyair Bambang Oeban




Inilah kabar negeriku
buku sejarah dijajah kemajuan hayalan
selera gemar baca yang disimpangkan
dipertuan buku impor berjubal
menawarkan nikmatnya kekerasan
berbonus pukulan dan tendangan
Darah jadi simbol decak kagum

Entah mulai dari mana kabar ini berembus, tapi kegelisahan Bambang Oeban adalah miniatur kegundahan banyak orang yang menyadari bahwa negeri ini merdeka karena perjuangan anak-anak bangsa. Bukan hadiah dari bangsa penjajah seperti negeri seberang pulau kita.  Dan tayangan kekerasan hampir jadi menu harian di televisi dan media massa lainnya. Dari kekerasan fisik yang menonjolkan kekuatan otot, sampai kekerasan mental berbuah teror dan penyingkiran orang-orang yang dianggap menghalangi hasrat kekuasan atas kehidupan dan penghidupan masyarakat.  “Preman” bukan lagi mewakili keadaan orang yang benar-benar “prei makan” alias kelaparan karena tak ada bahan pangan untuk mengganjal perut kosongnya. Justru sebaliknya, kebanyan dari mereka adalah orang-orang yang telah berkecukupan materi dan berkelebihan kalau sekadar untuk memakan makanan yang 4 sehat 5 sempurna. Mereka adalah para “preman berdasi” yang menduduki posisi atau hal penting di tengah masyarakat. Jika terusik kepentingannya, mereka tak segan memakai tangan sendiri atau orang lain untuk memaksa. Mulai dari intimidasi, penganiayaan dan kekerasan fisik lain. Sampai mematikan sumber-sumber penghidupan orang (orang-orang) yang mengusiknya. Sementara itu, derajat keterusikan itu tidak sebanding dengan “balasan” yang ia lakukan. Congkak dan pendendam yang mengemuka.


Caci maki jadi warna hidup sehari-hari
mengendap di otak anak bangsa
Medan laga berdarah
dianggap arena permainan
yang mengasyikkan.

Para orang tua kepusingan
mencari hiburan di lampu remang
menghamburkan uang hasil serabutan
Wajah rumah tinggal pucat pasi
Bangunan mewah hanya pameran
buku sejarah tak kelihatan
terkalahkan buku hiburan


Yah… buku sejarah adalah jurnal kehidupan yang berisi aneka ragam nilai. Ada yang bertambah, ada juga yang berkurang. Boleh jadi akan ada koreksi atas catatan keliru di masa lalu. Tujuan utamanya adalah menjaga akuntabilitas. Itu yang semestinya. Tapi, yang banyak terjadi, justru isi jurnal kehidupan menampilkan hal-hal negatif. Sementara itu, sisi positif sering diabaikan karena alasan yang mengada-ada. Mengasihani diri jadi pegangan. Minta belas kasihan tak lagi jadi nyanyi orang-orang papa di jalanan. Tanpa ragu dan malu, orang-orang yang berkecukupan harta benda itu menjadi pengemis. Penghasilan tambahan ini menjadi modal dugem (dunia gemerlap di tempat-tempat hiburan malam: diskotik, karaoke, pesta seks bebas dll). Bambang Oeban menyebutnya dengan hiburan di lampu remang. Di tempat seperti itu, uang hasil serabutan (mengemis, korupsi, manipulasi dan sejenisnya) dihabiskan untuk membuang kepenatan (kepusingan). Jangankan buku sejarah yang biasanya juga berisi nasihat dan teladan. Buku-buku pengetahuan umum yang mencerahkan cakrawala pandang manusia dan menguatkan derajat kemanusiaannya tentu akan diabaikan. Paling mungkin majalah hiburan semacam Playboy yang mempertontonkan aurat dan mengundang nafsu birahi. Imbas dari keabu-abuan sumber penghasilan dan kini semakin jelas dengan kasus tindak pidana pencucian uang  hasil korupsi (Irjenpol Djoko Susilo), tindak pidana penggelapan pajak (Gayus Tambunan dll). Belum lagi sejumlah kasus korupsi yang melibatkan para pejabat publik, PNS atau warga masyarakat biasa. Keremangan lampu hanya satu bahasa kias dari ketidak-jelasan pengungkapan dan penyelesaian KKN (kolusi, korupsi dan nepotisme). Termasuk di dalamnya adalah kasus-kasus konstitusional yang menguntungkan sebagian orang di lembaga legislatif, eksekutif maupun yudikatif.

Inilah nasib buku sejarah bangsaku
sudah lama disingkirkan jadi pengangguran
Pengenangan perjuangan diabaikan
Para pahlawan dianggap jembatan
di abad kemajuan zaman

Di ruang perpustakaan
buku sejarah utuh bentuknya
terbengkelai terbungkus debu
terdiam dan dianggap bisu
dimakan waktu berlalu

Buku sejarah bangsaku
dibiarkan tertindas kemalangan
Buku-buku menggiurkan
membuat anak-anak jadi keranjingan
membuahkan imaji aa ii uu

menicu nafsu sebelum waktu
praktik uji coba berlaku tak ragu
orang tua sibuk mengisi saku
Buku sejarah bangsaku
selalu memendam
seribu gerutu

Inilah kabar negeriku
budaya tontonan jadi ladang persaingan
demi menjaring iklan meraup keuntungan
Aurat diperdagangkan
tak peduli nasib moral anak bangsa
sudah plesiran tak tentu arah mau ke mana?
Uang orang tua jadi sasaran
demi hasrat mengikuti
gaya hidup modern


Benang merah kegeraman Bambang Oeban kepada Rafles nampak mulai dapat dibentangkan dengan syair lain: “ Tembang Negeri Jajahan”. Ini yang akan jadi bahan galian berikutnya agar lebih memudahkan jalan dalam mereflesikan syair-syair kebangsaannya. 


24/07/12

Catatan Perjalanan Kebangsaan, Renungan Jelang Hari Merdeka



Perjalanan Indonesia mewujudkan diri sebagai Bangsa merdeka yang bersatu, adil dan makmur semakin terseok dalam ketidak-berdayaan karena anak-anaknya kian menjauh dari jati dirinya. Bung Karno pernah berujar “ jas merah.. jangan lupakan sejarah”. Sejarah sebagai alur cerita perjalanan hidup manusia mengandung beragam makna. Ada yang mengangkat sisi obyektif agar menjadi bahan pembelajaran tentang kejujuran dan kearifan. Ada pula yang mengedepankan sisi subyektif karena kapasitas pengetahuan dan pengalaman yang sangat terbatas, penonjolan diri berlebihan atau pelibatan faktor emosional yang begitu mendalam.

Dalam satu kesempatan diskusi antar unsur DHC 45 setempat, saya (mewakili ex Tentara Pelajar) pernah melontarkan pendapat yang kemudian dinilai menohok. Bahwa sesungguhnya umur negara Indonesia hanya 5 (lima) tahun yaitu dari 1945 – 1950. Selebihnya kita dijajah oleh bangsa sendiri. Meski tidak ada tanggapan baik sanggahan maupun pertanyaan, saya telah menyiapkan jawaban yang ringkasannya sebagai berikut.

1.      Masa pemerintahan Presiden Soekarno yang dipopularkan dengan sebutan Orde Lama (orla) 1950 – 1965 adalah fase transisional. Masih diliputi oleh suasana heroisme patriotik, Bung Karno dan para pemuka politik nasional melakukan banyak eksperimen untuk meyakinkan bantuk ideal Indonesia yang memiliki beragam sumber daya. Kompromi politik dengan para petinggi NIT (Negara Indonesia Timur) menimbulkan adanya UUDS 1950 dan RIS (Republik Indonesia Serikat) yang berumur sekitar satu dasawarsa. Karena dinilai makin menyimpang dari cita – cita Proklamasi 17-8-1945, muncul  Dekrit Presiden 1959 yang intinya berisi keputusan mengembalikan UUD 1945 dan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Lima tahun berikutnya, kekuasaan Soekarno selaku Presiden dihentikan paksa yang konon karena Supersemar. Peristiwa ini masih menyisakan beberapa pertanyaan besar dan luka teramat dalam bagi sebagian orang. 

2.      Jendral Soeharto yang menjadi figur sentral di masa Orde Baru berkuasa selama hampir empat dasawarsa cenderung narsistik. “Gue banget” istilah popularnya. Sampai hal mendasar yakni Pancasila yang menjadi dasar negara, filosofi ( core values ) bangsa dan pedoman hidup bermasyarakat Indonesia tak luput dari hal itu. Muncul gerakan indoktrinasi massal melalui P4, menina-bobokan dengan beragam subsidi, memisahkan dunia pendidikan dari induknya (kebudayaan) yang menyebabkan proses erosi mental dan moral kebangsaan secara sistemik. Dan yang sangat ekslusif adalah reinkarnasi budaya feodalistik dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Pegawai Negeri Sipil dan sejenisnya dikondisikan sebagai ambtenaar (pegawai pemerintah), bukan abdi negara. Tidak mengherankan jika perilaku para petinggi di lingkungan pemerintah (dan dunia politik) cenderung menjadi penguasa. Bukan pemimpin. Imbasnya tentu saja sampai ke lapisan terbawah. Praktik KKN adalah wujud nyatanya.

3.      Periode terakhir yang dipopularkan dengan istilah Orde Reformasi tak jauh berbeda dari dua fase perjalanan sejarah kebangsaan sebelum itu. Kesan sebagai ajang “balas dendam” semakin hari kian menampakkan diri secara telanjang. Dunia politik yang begitu diagungkan, banyak diisi oleh para petualang yang enggan bersusah payah memahami konsep dasar kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang diinginkan oleh para pendiri Indonesia Merdeka. Partai tak pernah diusahakan secara bersungguh-sungguh selaku “ pusat pendidikan politik “ masyarakat oleh para pengurusnya. Ia tak lebih dari sekadar “ kendaraan menuju puncak kekuasaan”. Omong kosong untuk yang memastikan adanya “basis politik”. Kalaupun ada, mereka adalah  “kantong suara” yang setiap saat bisa bolong karena minimnya pemeliharaan. Lebih khusus lagi, hal itu hanya terjadi dalam partai tertentu yang memiliki kadar militansi tinggi.
 
Jelang usia republik ini 67 tahun, beraneka upaya untuk memelihara cita-cita kemerdekaan Bangsa Indonesia memang terus dan akan selalu dilakukan oleh beragam kalangan dengan berbagai macam bentuk dan isinya. Tapi ada satu hal penting yang selalu menjadi ganjalan yakni ketika upaya yang ingin diwujudkan atau sedang diusahakan itu bermotif perebutan kekuasaan dalam segala bentuknya kecuali di bidang kebudayaan. Karena budaya adalah representasi kehendak atas keutamaan budi pekerti, tumbuh dari kesadaran hakiki dan berkembang dalam ruang-ruang  kalbu. Dalam dan sangat luas. Semoga.

21/06/12

Antara Marah, Nilai dan Harga




Marah adalah salah satu ungkapan rasa yang ada dalam jiwa manusia. Seperti halnya sedih, gembira, senang dan lain-lain, marah bisa terjadi dalam segala suasana kehidupan. Dalam suasana kehidupan yang cenderung materialistik akhir-akhir ini membuat kita sering mengambil jalan pintas atau cara yang praktis. Memandang semua hal dari sisi ekonomi, perhitungan untung rugi. Cara pandang seperti ini sebenarnya tidak salah. Yang sering menjadi masalah ketika kita keliru menerapkan tata nilai atau ukuran untung atau rugi itu.

Beragam pendekatan yang saya tahu, baik ekonomi, sosial dan lain-lain,  untung atau rugi diukur dari nilai tambah atau manfaat yang diperoleh. Jika diperoleh manfaat maka akan dinilai sebagai keuntungan, demikian juga sebaliknya.
Lalu, apa hubungan antara perhitungan untung – rugi dan marah? Marah seringkali terjadi karena hasil perhitungan kita merugi. Rugi karena kadar nilai yang jadi pegangan kita berkurang. Jika pemahaman ini benar, acapkali tengat waktunya memang diukur pendek atau sangat pendek alias instan. Mungkin agak jarang yang melakukan perhitungan untuk jangka panjang. Saat marah, biasanya kita akan berpikir pendek, tensi meninggi dan kontrol diri berkurang.

Islam memberi solusi dengan metode relaksasi. Jika kita marah saat berdiri, segera duduk. Ketika kita marah saat duduk maka berbaringlah. Kalau cara-cara itu belum meredakan, ambil air wudhu dan segera dirikan shalat. Setelah shalat, minta ampun dan berdoa agar kita diberi kekuatan lagi untuk mampu mengendalikan diri. Dalam keadaan tenang, pikiran jadi bening serta mampu menembus batas ruang dan waktu.



Marah dapat menjadi energi positif atau sebaliknya. Marah atas ketidak-adilan misalnya, akan mendorong kita memiliki rasa solidaritas sosial yang lebih tinggi. Dan berupaya melakukan tindakan nyata untuk memperbaikinya di lingkungan sekitar. Bahkan sangat mungkin akan menjadi suatu gerakan yang membawa dampak luar biasa besar sepanjang kendali diri kuat dan tetap pada tujuan awal.

Situasi kehidupan saat ini yang cenderung serba instan acapkali menutup saluran munculnya energi positif tadi. Mengasihani diri dengan menganggap masalah sosial di sekitar bukan urusan kita adalah contoh nyata yang mudah ditemui. Sebenarnya, mengasihani diri adalah satu pintu utama yang menutup saluran energi positif itu. Sebaliknya, memiliki kepekaan sosial tinggi dan memberi banyak manfaat justru akan menguatkan struktur saluran dan daya dorong energi positif. Karena kita adalah mahluk sosial yang akan selalu berhubungan dengan manusia lain dalam berbagai suasana dan kesempatan.

Ada satu ungkapan rasa yang mungkin dapat menjadi renungan kita. Yakni, nilai tidak selamanya berharga. Dan harga tidak selalu akan bernilai. Beda nilai dan harga adalah ukuran kepekaan sosial kita. Karena nurani yang mengemuka. Semoga. 

24/03/10

Antara Yang Banyak dan Yang Baik




Dalam catatan harian ibu saya ketika akan pindah tempat mengabdi selaku guru SD dari kota kelahiran Ibu Kartini ke kota kelahirannya di Purworejo, ada tulisan atau lebih tepat disebut pesan pribadi Kepala Sekolah Guru Putri (SGP) Yogyakarta akhir tengah tahun 1949. Isinya pendek saja. ” Pelan tapi pasti.. bukan yang banyak itu baik, tapi yang baik pastilah yang banyak“. Berkali-kali saya tanyakan arti dan maknanya, ibu selalu berkata, ” coba kamu pikir dan renungkan sendiri“.

Secara umum, arti banyak itu lebih dari satu. Dan baik sama dengan tidak buruk. Suatu yang banyak tidak selalu mengandung kebaikan. Apalagi jika berlebihan. Contoh sederhana adalah makan. Naluri kemanusiaan ini jika diisi untuk satu atau dua porsi mungkin masih cukup baik bagi tubuh kita. Lebih dari itu, biasanya menimbulkan gangguan pada sistem pencernaan manusia pada umumnya. Keluhan demi keluhan akan bermunculan dalam jangka pendek atau panjang.

Baik merupakan wujud penilaian. Ada yang obyektif, subyektif atau transedental. Nilai obyektif dan subyektif adalah bagian dari hubungan antar manusia. Sementara itu, nilai transedental merupakan wujud hubungan antara manusia dan Tuhan yang Maha Pencipta. Keduanya acapkali dipisahkan dengan beragam alasan.

Dalam tulisan ini, kedua pola hubungan tidak dipisahkan sesuai pandangan hidup bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila. Akhir-akhir ini banyak disebut dalam berbagai kesempatan, bahwa bangsa Indonesia tengah mengalami situasi krisis multidimensional. Kata multi berarti banyak. Ketika harus bersanding dengan kata krisis maknanya jadi tidak baik. Dari sini kita dapatkan kesimpulan bahwa yang banyak itu tidak baik. Apakah semua hal dan selamanya akan muncul kesimpulan seperti itu ?
Tentu saja tidak. Ada banyak kebaikan yang dapat kita lakukan di dunia ini. Memberi seteguk air bagi yang kehausan, menunjukkan arah yang benar ketika ditanyakan tujuan yang kita tahu, dan banyak hal lain yang berujung pada kebaikan untuk diri sendiri serta orang lain. Jika kebanyakan orang Indonesia berbuat satu kebaikan saja, niscaya krisis yang mencakup banyak dimensi ini akan berakhir dengan banyak kebaikan. Sebaliknya, jika kebanyakan dari kita mengabaikan satu kebaikan saja, dapat dipastikan krisis multidimensional yang tengah mengelilingi kehidupan sosial, ekonomi, politik dan budaya masyarakat Indonesia akan menimbulkan masalah yang lebih besar, rumit dan berkepanjangan. Pilihan ada di tangan kita.

Catatan:
Tulisan ini pernah dimuat di Kompasiana, 21 Oktober 2009..saya munculkan kembali sebagai hadiah khusus. Terima kasih atas segala apresiasinya. Salam.

Google Pagerank
totokaryantowirjosoemarto. Diberdayakan oleh Blogger.