SARASEHAN KEWIRAUSAHAAN SOSIAL BAGI UMUM DAN SUKARELAWAN PMI

Satu misi kampoeng Relawan adalah mewujudkan Kewirausahaan Sosial di kalangan sukarelawan PMI. Implementasinya adalah menyelenggarakan Sarasehan Kewirausahaan Sosial dalam kegiatan KBN 2014 di Ruang Theatre STIKes Muhammadiyah Gombong pada Jumat, 15 Agustus 2014 yang akan menghadirkan para pembicara kompeten di bidangnya.

KARYA BAKTI UNTUK NEGERI: KOPDAR ALA KAMPOENG RELAWAN - BAGIAN II

Silaturahmi sangat dianjurkan oleh agama, khususnya Islam. Selain akan memperpanjang umum, juga membawa rejeki. Karya Bakti untuk Negeri (KBN) 2014 di Kebumen oleh Komunitas Sosial Media Kampoeng Relawan akan menjadi ajang silaturahmi sukarelawan PMI se Indonesia yang dirancang membawa banyak nilai tambah.

KARYA BAKTI UNTUK NEGERI: KOPDAR ALA KAMPOENG RELAWAN - BAGIAN I

Sebagai implementasi tujuan berdirinya Komunitas Sosial Media Sukarelawan PMI Kampoeng Relawan yaitu menguatkan upaya untuk kebaikan dan perbaikan organisasi PMI, komunitas yang telah memberi warna khusus bagi PMI masa depan ini akan menyelanggarakan satu kegiatan bersamaan perayaan Idul Fitri 1435H dan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke 69 tahun 2014

LOMBA KREATIVITAS BAGI SUKARELAWAN REMAJA PMI (PMR) MADYA

Lomba Kreativitas bagi PMR Madya setingkat SMP/MTs ini dimaksudkan agar memberi nuansa yang lebih luas dan membuka wawasan baru bagi para Pembina Pangkalan PMR Madya tentang beragam potensi kreatif anggota PMI yang sangat mungkin akan memajukan Pangkalan dan anggotanya

LOMBA KREATIVITAS BAGI PMR MULA SETINGKAT SD

Salah satu cara mengenalkan kegiatan Kepalangmerahan di lingkungan sekolah atau madrasah setingkat SD dan MI adalah menghadirkan pola pembinaan PMR Mula yang cakupan kegiatannya lebih luas dan variatif untuk menguatkan kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah atau Dokter Kecil.

Tampilkan postingan dengan label relawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label relawan. Tampilkan semua postingan

25/01/14

PAHAMI KEJENGKELAN RELAWAN PMI


Kalau kita cermati berbagai komentar Relawan PMI di banyak media sosial dalam dua-tiga tahun terakhir nampak sekali nada kejengkelan yang berkepanjangan. Pertama jelas kepada pengurus di berbagai tingkat organisasi. Dan terakhir adalah kepada partai-partai politik yang telah "menghianati" amanat para pekerja kemanusiaan yang dalam menjalankan tugas-tugas bagi organisasi, negara maupun kemanusiaan universal acapkali dalam berhadapan dengan ancaman maut. Bahkan ada wacana untuk menguatkan sikap netral dalam Pemilu Legislatif 2014 yang akan berlangsung pada 9 April mendatang.

Netralitas atau kenetralan adalah satu dari  tujuh prinsip dasar Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah dan diadopsi dalam Anggaran Dasar serta Anggaran Rumah Tangga PMI. Intinya, dalam menjalankan tugas kemanusiaan tidak boleh berpihak kepada siapapun. Dalam konteks penguatan wacana tadi, sikap netral dapat diartikan sebagai hal yang dalam istilah umum disebut golput (golongan putih) atau tidak memberikan suaranya kepada calon manapun. Ini dengan gamblang dapat dilihat dari gambar karikatur berikut :




dengan catatan yang cukup panjang :  Menjelang Pemilu Legislatif pada 9 April 2014, adalah kesadaran bagi kita sebagai anggota PMI untuk menjaga kenetralan, agar PMI tetap dihormati, dipercaya dan dihargai oleh semua pihak.

Mengingatkan:

Penggunaan yang tidak tepat yaitu penggunaan lambang yang tidak sebagaimana mestinya, baik oleh pihak yang berhak maupun pihak yang tidak berhak.
Pihak yang berhak (seperti anggota PMI) menggunakan fasilitas yang berlambang palang merah namun dimanfaatkan di luar tugas-tugas kepalangmerahan, kepentingan pribadi atau melakukan aktivitas yang bisa meruntuhkan kepercayaan dari berbagai pihak, baik dalam situasi konflik bersenjata maupun damai.

Mohon dipahami oleh semua karena ini demi kemanusiaan.

Dalam pernyataan sikap tertulis yang saya bacakan mewakili teman-teman Relawan PMI se Indonesia di depan dan diserahkan kepada Ketua DPR RI di Ruang Pleno Gedung Nusantara II, pada butir 9 disebutkan bahwa jika permintaan Relawan PMI ini tidak diindahkan sebagai cara paling beradab berpegang pada prinsip dasar kemanusiaan dan kesamaan, maka tak tertutup kemungkinan, jumlah perwakilan yang semula sekitar 500 akan dilipat-gandakan jadi 10.000 sampai sejuta Relawan PMI dari berbagai elemen. Artinya, meskipun tetap berpegang pada prinsip-prinsip dasar yang relevan, sebagai Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia, Relawan PMI juga punya dan akan menggunakan hak kewarganegaraan tersebut. Sampai dengan pertengahan 2013, jumlah Relawan PMI se Indonesia yang telah diverifikasi keanggotaannya ada 2.150.000 orang lebih. Jumlah ini belum termasuk puluhan ribu relawan remaja yang telah memiliki hak pilih dan dalam pembinaan PMI di seluruh Kabupaten/Kota di Indonesia.

Gencarnya penyebarluasan informasi, terutama melalui media sosial tentang urgensi pengesahan #RUUKepalangmerahan semakin hari kian mendapat simpati dan dukungan masyarakat luas. Karena itu, tak kurang dari 5 juta orang tengah bersiap diri menentukan pilihan bersikap netral dalam artian umum pada seri pemilu tahun 2014. Dan semakin banyak jumlah Relawan PMI yang siap pasang badan seandainya cara-cara beradab yang ditempuh selama ini dianggap angin lalu. 

Terlalu banyak contoh yang bisa diberikan untuk menunjukkan dan membuktikan bahwa Relawan PMI tak pernah gentar menghadapi risiko maut sebesar apapun dari jaman ke jaman. Memang tidak semua, tapi mayoritas Relawan PMI yang berpegang teguh pada tujuan organisasi sebagai dapat dipastikan sebagai militan dalam pengertian umum. Apa artinya ? Di sinilah yang akan digambarkan sesuai judul tulisan di atas.

Seorang Tutur Priyanto yang bergabung sebagai anggota Tenaga Sukarela (TSR) PMI Kabupaten Bantul sekitar setahun sebelum Gempa Bumi yang berpusat di pantai Selatan Jogja berkekuatan 5,9 SR pada 27 Mei 2005 terjadi, adalah seorang mantan anggota Resimen Mahasiswa dan komandan Banser NU di wilayahnya. Dengan latar belakang itu, ia bukan orang yang asing dengan dunia kemiliteran dalam kadar tertentu. Ia juga tahu akan resiko ketika memutuskan naik ke rumah mBah Maridjan sang  juru kunci Gunung Merapi yang fenomenal itu untuk membujuk dan membawanya menjauh dari aliran lahar panas yang terus mengalir deras dari puncak gunung berapi teraktif di dunia tersebut. 

Almarhum Tutur Priyanto adalah satu dari ratusan, bahkan ribuan Relawan PMI militan yang sangat faham dengan segala risiko tugas dan konsistensi memelihara sikap sebagai suka relawan organisasi kemanusiaan yang menjalankan mandat Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Karena kecintaan pada organisasi mendorong para relawan bersedia mempertaruhkan nyawanya. Realitas ini telah terjadi sejak jaman perjuangan merebut dan menegakkan kemerdekaan sampai sekarang.

Karena itu, ketika sebagian anggota DPR RI yang tengah membahas RUU Lambang yang kemudian mengalami jalan buntu setelah tidak tercapai kesepakatan politik bertamasya ke Denmark dan Turki dengan alasan studi banding sikap relawan PMI masih menahan diri meski kian sulit melepas kejengkelan atas "kebodohan yang terpelihara" itu. Sebagaimana kita, masyarakat awam tahu, bahwa studi banding ke luar negeri lebih banyak menjadi ajabf wisata gratis tanpa maslahat. Menghamburkan uang rakyat untuk memuaskan syahwat pribadi di balik alasan politiknya. 

Kejengkelan Relawan PMI kian menjadi khususnya kepada Ketua DPR RI, Marzuki Alie, yang terus mengumbar janji akan mengawal dengan serius perjalanan  tapi terus berkelit saat dikonfirmasi tentang #RUUKepalangmerahan menjadi UU Kepalangmerahan. Sebagai manusia biasa dan Warga Negara Indonesia, Relawan PMI memiliki keterbatasan dalam memberikan toleransi waktu dan kesempatan kepada DPR RI agar bekerja dengan sungguh-sungguh setelah membuang waktu lebih dari satu dasawarsa membiarkan RUU Lambang yang diinisiasi Pemerintah mengalami jalan buntu. Akankah kejengkelan tadi berubah menjadi kemarahan massal ? Bukan hal yang mustahil.        

18/11/13

RUU Kepalangmerahan, Bukan Sekadar Urusan Lambang - Bagian I


Elang, mahasiswa Universitas Trisakti Jakarta, adalah korban gerakan reformasi yang bertujuan menurunkan rejim otoritarian Orde Baru dengan representasi tokoh Jendral Besar (purnawirawan) Soeharto yang kasusnya dianggap sebagai "kecelakaan politik". Dan ditutup dari jalur hukum formal (case closed). Seperti serial TV, The X Files. Mengapa ? Alasan wakil rakyat di DPR (termasuk Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri), karena kasus itu telah masuk ranah politik. Meski yang bersangkutan kala itu tengah bertugas sebagai Relawan PMI dengan atribut yang sangat jelas. Banyak Elang lain sebelum dan sesudahnya yang "jadi tumbal" ketidak-jelasan (baca :  kepongahan !!!) sikap politisi. 

Dengan kerangka pikir yang sama, RUU Kepalangmerahan yang menurut informasi Ketua DPR RI Marzuki Alie baik secara langsung saat menjadi pembicara pada Temu Karya Nasional V Relawan PMI 2013. Via sms yang nomor telepon selularnya telah diketahui ribuan Relawan PMI maupun lewat di blognya ditargetkan akan disahkan tahun ini. Akankah "nasibnya" juga akan jadi X File seperti kasus Elang hanya karena Ketua Pansus yang (memaksakan diri jadi, sementara "jatah" semestinya bukan dari PKS) tidak setuju mengagendakan pembahasannya di akhir masa kerja DPR 2009 - 2014 ini ? Dalam blognya, Ketua DPR RI menyampaikan bahwa " PMI tidak perlu khawatir dengan komitmen DPR. RUU ini sudah sah menjadi inisiatif DPR dan telah dibentuk Pansus lintas Komisi, tahun ini target selesai dan semua kekhawatiran mengenai dana, lambang, sanksi, tidak perlu dikhawatirkan. RUU ini sudah bulat di DPR, tidak sebagaimana pembahasan di DPR periode lalu yang rumit. Masyarakat tidak perlu menggeneralisir beberapa oknum DPR yang tidak amanah dalam membahas RUU, tentu lebih banyak anggota DPR yang amanah dibanding yang tidak amanah ". 

Benarkah apa yang disampaikan oleh Marzuki Alie itu? Mengapa saat relawan menanyakan hal itu lewat sms selalu dijawab dengan informasi sebaliknya? Bahkan, ini jawabannya yang sudah ditengara oleh para relawan PMI berdedikasi. Kelihatannya pansus tidak ada niat untuk menyelesaikannya, saya sudah berusaha maksimal ( ini jawaban langsung dari pak Marzuki Ali ke SMS Alvis Syamsi seorang relawan yang saat itu mendokumentasikan secara rinci semua ucapan dan tindakan Ketua DPR RI tersebut). Atas jawaban sms bapak yang telah Alvis forward ke teman2 Relawan Palang Merah mereka sangat berharap mohon kiranya bapak Marzuki Ali berkenan menerima kami untuk Audensi dlm rangka sikap dan upaya Relawan PMI terhadap pansus, waktu dan tempat kami tunggu kesedian Bapak. 

Selain itu, upaya lain juga tengah dilakukan oleh Relawan PMI Bali, Taufan K. Berupa sebuah petisi kepada Ketua Pansus RUU Kepalangmerahan lewat dunia maya (media sosial) yang isi lengkapnya ada di sini. Di akhiri kalimat " Dahulukan kepentingan Negara, abaikan kepentingan Golongan===== Sahkan RUU Kepalangmerahan ===== Untuk menjamin perlindungan atas pengguna lambang palang merah yaitu dinas medis TNI dan PMI, terutama saat menolong korban ketika perang / konflik. 

Kedua upaya persuasif dan demokratis di atas adalah cara awal untuk mengingatkan kedua pejabat politik yang telah menikmati fasilitas dan uang milik rakyat Indonesia yang harus dipertanggung-jawabkan dunia dan akhirat. Tetapi, mencermati jawaban Ketua DPR RI dan kecenderungan kepentingan golongan lebih dominan, maka terdapat indikasi kuat bahwa memang tidak ada itikad baik Pansus RUU Kepalangmerahan akan mengagendakannya dalam sisa waktu persiadangan tahun 2013/2014.  Jika benar, ada cara efektif yang tidak bisa ditawar. Selayaknya semua Relawan PMI menyiapkan diri untuk menolak segala bentuk penugasan karena tanpa kejelasan akan dilindungi payung hukum nasional. Meski sangat mencederai rasa kemanusiaan yang telah tertanam dalam jiwa dan raga. Memang benar juga bahwa relawan PMI tak pernah takut mati.  Silakan dibuktikan!!!

11/07/13

Kampoeng Relawan: Jembatan Masa Depan Relawan PMI



Kampoeng Relawan memang hanya sebuah nama grup sosial media di Facebook.com dengan jumlah anggota sangat kecil. Grup yang semula bernama Reuni Relawan Gempa Bantul 2006 dimaksudkan untuk menjadi satu lingkungan semacam kampung di dunia nyata. Sebuah tempat yang mengedepankan adab sebagai filter sosial. Karena itu, proses interaktif warga diharapkan juga mengedepannya cara-cara beradab. Saling menghormati, gotong royong dan senantiasa bersikap positif. Dengan visi selalu ada yang lebih baik berarti bahwa segenap warga Kampoeng Relawan menyadari fitrah kemanusiaannya memiliki kekurangan dan berupaya memperbaiki serta menyempurnakan agar tetap mampu bermanfaat buat diri, lingkungan dan umat manusia pada umumnya.

Dalam banyak hal, relawan PMI tumbuh dan berkembang mengikuti dinamika kehidupan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Banyak hal positif yang selama ini kurang diketahui oleh masyarakat awam. Bahwa relawan PMI sesungguhnya merupakan pribadi-pribadi pilihan yang senantiasa bekerja dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal sebagaimana dilakukan oleh Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari peran dan tindakan Sang Pelopor, Sir Henry Dunant. Seorang warga negara Swiss yang juga pengusaha sukses tapi memiliki nurani kemanusiaan yang sangat tinggi. Perilaku mulia sang pelopor menjadi cermin utuh pola kehidupan yang ingin dihadirkan di Kampoeng Relawan. 

Memandu Stand Up Volunteer di TKN V 2013. 1
 Memandu Stand Up Volunteer di TKN V 2013. 2
Memandu Stand Up Volunteer di TKN V 2013. 3

Mencermati situasi terakhir di dalam organisasi PMI serta Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah berkaitan dengan adanya tantangan aktual terhadap nilai-nilai kemanusiaan sebagai dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, masalah pemanasan global, konflik politik dan isu-isu terorisme serta berbagai masalah kemanusiaan lain yang kian rumit maka diperlukan penyikapan yang lebih arif dan berorientasi masa depan sebagaimana pernah dilakukan sang Pelopor di jamannya. Tantangan khusus bagi Relawan PMI adalah adanya RUU Kepalangmerahan (Lambang Perhimpunan Nasional) yang telah memasuki tahap akhir untuk menjadi UU. 

Semangat Relawan PMI menguatkan dukungan 1 Negara 1 Lambang buat PMI

Relawan PMI adalah ujung tombak semua aktivitas lapangan (operasional) PMI. Sementara itu, posisi strategis ini acapkali kurang disikapi sewajarnya oleh Pengurus Kabupaten/Kota yang akhir-akhir ini banyak diisi oleh para pejabat dan mantan pejabat daerah. Sehingga, potensi konflik internal kadangkala muncul akibat kesenjangan pengetahuan, pengalaman maupun orientasi antara kedua komponen utama organisasi PMI. Dengan seabreg kesibukan dan tanggung-jawab jabatan di dinasnya, banyak Pengurus PMI Kabupaten/Kota belum mendapatkan  orientasi kepalangmerahan secara layak dan mendasar. Sementara itu, staf yang cukup bekal tak mampu memberi pencerahan atas hal ini karena posisinya sebagai karyawan. 

Dalam menyikapi kondisi rumit ini, banyak relawan PMI yang cenderung bersikap konfrontatif terhadap pengurus maupun staf. Dari pengalaman pribadi mengawal beberapa gerakan relawan yang (sering) dianggap radikal ini serta adanya upaya intervensi politik ke dalam organisasi PMI, saya dan teman-teman yang telah berkecimpung di dalam organisasi kemanusiaan Palang Merah Indonesia rata-rata di atas (lebih dari) 20 tahun mengambil inisiatif untuk memanfaatkan media sosial Facebook, Twitter dan Blog sebagai wahana pencerahan serta penggalangan upaya meluruskan kembali jalan yang semestinya ditempuh PMI selaku Perhimpunan Nasional Palang Merah di Indonesia yang telah diakui oleh Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah serta Komite Internasional Palang Merah sebagai anggotanya. 

Banyak tantangan eksternal yang harus mampu dijawab dengan karya nyata kemanusiaan dalam organisasi PMI di seluruh lini. Khususnya di Kabupaten/Kota yang merupakan pusat sumber daya manusia utama relawan PMI. Hadirnya beragam LSM Kemanusiaan Internasional dan beragam badan keselamatan nasional yang dikelola swasta (masyarakat) yang sering kali bekerja sama dengan organisasi PMI untuk masalah-masalah khusus semisal operasi tanggap darurat bencana alam, program peningkatan kualitas sanitasi dan air bersih, serta berbagai program maupun proyek kerja sama lainnya tentu memerlukan kesiapan sumber daya manusia yang sesuai dengan kualitas sebanding. 

Kampoeng Relawan dengan visi : selalu ada yang lebih baik (would be better) dan misi : socio-preneurship (kewirausahaan sosial), entreprenurship (kewirausahaan) serta technopreneurship  (kewirausahaan berbasis teknologi) menyadari tantangan besar eksternal maupun internal PMI itu dan berupaya maksimal memberi kontribusi positif bagi PMI. Dengan jumlah relawan yang telah memasuki usia produktif dari jajaran Korps Suka Rela (KSR) maupun Tenaga Suka Rela (TSR) sekitar 3,5 juta orang, potensi besar ini perlu diorganisasi sumber-sumber dayanya. Tanpa sedikitpun keinginan mengambil alih peran organisasi PMI, Kampoeng Relawan justru ingin melakukan hal-hal produktif, konstruktif dan inovatif bagi keberadaan dan kemajuan PMI di masa depan. Semoga niat dan langkah ini dimudahkan oleh Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Amien.     

14/06/13

Gundahku..


"Kenapa kau menghujat ..kawan ?"
Karena aku perkasa, jawabnya.
"Apa yang membuat dirimu perkasa?"
Aku orang hebat, masih bersikukuh.
"Kehebatan seperti apakah yang kau punyai ?"
Aku lebih berani dibanding yang lain.
"Oohhhhhh... hanya itukah kehebatanmu?" 


Manusia adalah mahluk yang paling: mulia tapi juga hina, bahkan nista. Kemuliaan manusia ada pada perilakunya yang beradab. Adab itu batas maya antara manusia dengan mahluk lain, terutama binatang dan setan atau jin. Adab lebih dari sekadar sopan santun dan tradisi. Semakin kuat seseorang memahami dirinya sebagai pemimpin dunia, semakin kuat pula adab itu menjadi pegangan hidup. Begitu yang sebaliknya.

Dari dialog ilustratif di atas, sebenarnya dapat diukur seberapa kuatnya penjawab memahami peradaban manusia. Akhir-akhir ini banyak muncul orang yang merasa dirinya hebat atau sangat hebat (supermania) hanya karena ia merasa punya keberanian lebih dibanding yang lain meski pada dasarnya hal itu hanya sesuatu yang konyol. Pemberani berbeda seperti langit dan bumi dengan orang konyol. Pemberani berhitung risiko dan manfaat. Sedangkan orang konyol mungkin berhitung risiko dengan penekanan pada nyali (dorongan berani berbuat seperti binatang buas) tapi sering lupa berhitung manfaat. Dan orang hebat dalam berhitung manfaat tidak sekadar menghitung nilai atau harga. Ia akan menggali arti untuk mendapatkan makna dari manfaat itu.

Pada umumnya, manusia adalah pejuang. Arena yang dihadapi adalah kehidupan nyata di tengah masyarakat yang sangat majemuk. Dalam situasi normal, medan atau arena utama dan penting sekali ialah berusaha menyukupi hajat hidup atau bekerja, berkarya. Cukup menjadi kata kunci. Tidak kurang atau lebih. Pas, bukan nol atau kosong. Kata ini mengandung nilai relativitas yang sangat tinggi. Cukup bagi seseorang mungkin saja kurang atau justru berlebih bagi yang lain. 

Pejuang sejati tak pernah minta peng -"aku"-an. Ia atau mereka yakin selalu akan mendapat imbalan yang dapat diperoleh sepanjang hayat masih dikandung badan. Tetapi lebih yakin, imbalan itu akan diterima sebagai tabungan masa depan setelah kita meninggalkan hiruk pikuknya dunia. Pengakuan yang simbolistik itu  hanya sebuah asesori, pelengkap. Obyeknya adalah manfaat, lebih tepatnya maslahat.

Karena itu, predikat pahlawan kesiangan merupakan pengaburan makna dan merupakan ekspresi dari sebuah kekonyolan. Pahlawan atau hero adalah apresiasi atas tugas suci manusia sebagai pemimpin dunia yang dikenal dengan istilah suka rela atau ihlas. Dan pahala itu merupakan hak prerogatif Khalik, Sang Maha Pencipta atas segala sesuatu yang ada di jagat raya ini. Manusia hanya bisa berharap, tapi tak bisa memaksa karena memang tiada daya untuk itu. 

Bagi orang-orang yang menyatakan diri sebagai sukarelawan kemanusiaan, pengakuan bukan hal yang sangat mendasar. Itu merupakan sebagian sisi formal dalam proses interaktif dengan manusia lain selaku individu atau bagian masyarakat. Formalitas akan bergerak mengikuti dinamika. Yang perlu dijaga adalah suasana kehidupannya. Tentu dengan mengedepankan semua energi positif yang ada di dalam proses interaksi tadi. Dimulai dari sikap selalu berprasangka baik, berkerangka pikir membangun peradaban dan benar-benar berpegang pada kedudukan manusia yang sejatinya adalah pemimpin. 

Berpolitik dalam kerangka policy yakni bersikap bijak dalam menyikapi keadaan apapun akan lebih bermakna ketimbang sekadar berebut kuasa atau pengakuan. Dialektika yang perlu digarisbawahi adalah mengarahkan (sepenuh daya dan asa) agar proses interaktif senantiasa berada dalam kerangka memelihara kehidupan, bukan kematian. Apalagi mengenai nilai kemanusiaan yang sifatnya sangat kompleks dan kini tengah mengalami proses degradatif karena tingginya kadar kecenderungan meng-atas nama-kan pengakuan. Karena aku hanyalah bagian dari kami atau kita.

Melalui tulisan ini, saya sangat berharap agar segala pertemuan yang menyandang predikat kesuka-relaan dapat dipahami maknanya sebagai upaya mendudukkan nilai-nilai kemanusiaan sesuai dengan posisi yang semestinya. PMI sebagai organisasi atau tepatnya perhimpunan  perlu dibangun sesuai posisi yang pas mengikuti budaya Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah. Yakni organisasi kemanusiaan yang dapat dipercaya oleh masyarakat luas, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Sendi-sendi kemandirian perlu diperkuat oleh semua bagian : pengurus, staf dan terutama para relawan. 

Membangun kemandirian organisasi di tengah menguatnya arus sektarianisme akhir-akhir ini bukan hal yang ringan. Terutama dalam manajemen sumber daya manusia. Perlu pemahaman yang sama tentang posisi masing-masing bagian organisasi. Mulai dari anggota selaku syarat wajib keberadaan suatu organisasi, pengurus dan staf yang menerima mandat atau kepercayaan dari anggota untuk menjalankan roda organisasi agar lebih banyak bergerak ke depan serta  relawan selaku motor organisasi.   

Saatnya kita berpikir jenih dan visioner dengan ide-ide serta karya-karya inovatif. Sepanjang masih terkungkung dalam suasana "remang-remang", PMI hanya akan menjadi obyek praktik sektarianisme entah berlabel politik, ekonomi dsb. Tak akan pernah mampu mencapai derajat penerima amanat kemanusiaan yang menjadi roh sekaligus identitas Gerakan. Dan kemandirian organisasi PMI bukan sekadar untuk bahan olok-olok yang menghabiskan energi positif (kecuali memang itu yang jadi tujuan). Tak penting lagi siapa aku, tapi apa yang mampu aku lakukan agar daya hidup terus terpelihara di PMI. Salam kemanusiaan. Siamo tutti frately. 


Selalu ada jalan yang lebih baik !

13/06/13

KAMPOENG RELAWAN: ANTARA SOCIOPRENEURSHIP DAN OVOP



Wirausaha sosial adalah individu yang memiliki solusi inovatif untuk mengatasi masalah sosial dengan cara mengubah sistem, memberikan solusi dan memengaruhi masyarakat untuk melakukan perubahan. Awalnya ia bertindak dalam skala lokal kemudian dapat diperluas. Inovasi yang dikembangkan adalah solusi inovatif dan menciptakan kesempatan baru. Misi sosialnya mengatasi masalah sosial yang paling menekan. Dampak dari adanya wirausaha sosial ini adalah perubahan skala luas, mengubah sistem dan menyebar luaskan solusi (Bill Drayton, CEO and Chair of Ashoka).

OVOP pada dasarnya adalah upaya pengembangan sumber daya lokal berbasis budaya dalam suatu bentuk produk atau jasa yang dapat diterima secara global (local yet global), kepercayaan diri dan kreativitas (self reliance and creativity) serta pengembangan sumber daya manusia. OVOP digagas untuk mengatasi masalah lokal perfektur Oita di Jepang yang tidak memiliki sumber daya yang memungkinkan investasi untuk pengembangan ekonomi berbasis teknologi tinggi. Akhirnya diputuskan untuk mengembangkan bidang pertanian dan perikanan yang pada akhirnya membawa kemakmuran bagi masyarakatnya.

Kisah sukses OVOP diadopsi dalam beragam aplikasi di berbagai negara. Thailand bahkan dianggap sebagai satu diantara berbagai negara yang mampu menyerap dan mengembangkan gagasan OVOP melalui OTOP (One Tambon One Product). Tambon adalah istilah lokal untuk sebutan desa atau kawasan pedesaan. Mereka menghadirkan internet disetiap tambon agar aktivitas produktif dan kreatif masyarakat dapat disajikan secara nyata dan terbaru. Satu prestasi yang kini diunggulkan dalam OTOP adalah paket wisata air Chao Praya River. Paket yang sebenarnya tak begitu istimewa ini dikemas dalam beragam bentuk pertunjukan dan festival.

Indonesia adalah sebuah komunitas besar, Indonesia adalah sebuah kekayaan, jika kita mampu memadukan berbagai potensi dan daya yang kita miliki untuk pembangunan sosial. Kerjasama dan hubungan yang saling memajukan perlu kita perkuat di berbagai lini di sini. Dalam konteks pembangunan sosial, ada suatu kebutuhan untuk memadukan upaya-upaya dalam rangka mengentaskan kemiskinan dan memberdayakan masyarakat dengan pendekatan-pendekatan yang berkesinambungan. Atau dengan kata lain melakukan upaya pembangunan sosial melalui langkah-langkah kewirausahaan. Demikian isi sambutan Ketua Dewan Pembina AKSI (Asosisasi Kewirausahaan Sosial Indonesia) yang juga pendiri LSM Bina Swadaya yang menerbitkan majalah pertanian terkenal “Trubus”.

Berkembangnya aktivitas kewirausahaan di tengah masyarakat Indonesia akhir-akhir ini menunjukkan gejala yang sangat menarik. Kehadiran internet membuat banyak peluang terjadinya transaksi online. Bahkan bila kita cermati di dua media sosial terbanyak penggunanya yakni Facebook dan Twitter, aneka penawaran bisnis online hampir setiap saat terjadi dengan beragam jenis komoditas dan transaksi. Sayangnya, kesempatan besar itu belum mampu dimanfaatkan secara optimal karena pengguna media sosial tadi cenderung pasif dan tidak kreatif. Kebiasaan copy paste dan menjadi partisipan pasif yang hanya memberi apresiasi sederhana dengan cara menyukai produk atau hasil karya orang lain (tanda suka/like) adalah keadaan yang tidak mendukung penggalian potensi kreatif dan pengembangan upaya inovatif.

Di jejaring Facebook misalnya, ada ribuan grup komunitas dengan beragam latar belakang. Di lingkungan PMI yang memiliki jumlah relawan sekitar 4 – 5 juta orang di seluruh wilayah Indonesia misalnya, ada puluhan atau ratusan grup komunitas relawan. Grup atau komunitas ini adalah potensi besar yang belum diberdayakan. Karena itu, Kampoeng Relawan berupaya menggali potensi itu dengan menghadirkan Kedai KAWAN. Pendekatan sociopreneurship sangat sesuai dengan karakter dasar komunitas yang memiliki kedekatan emosional antar anggota dan masalah krusial  optimalisasi potensi kreatif dan inovatif relawan.

Konsep kampung sebenarnya mengadopsi gagasan OVOP. Banyak relawan PMI yang berkelas dunia (local yet global). Paling tidak, adanya beberapa orang Relawan PMI yang mampu membangun jejaring dengan relawan internasional adalah satu entry point aplikasi OVOP sekaligus sociopreneurship. Selain itu, kepercayaan diri dan kreativitas bukan sesuatu yang asing. Nah, faktor kunci ketiga dalam aplikasi OVOP yaitu pengembangan sumber daya manusia. Dengan terbiasa melakukan kemandirian, kebanyakan relawan PMI memiliki sebagian besar syarat untuk mewujudkan sociopreneurship berbasis OVOP. Kampoeng Relawan akan berperan sebagai jembatan. Dengan semboyan “selalu ada jalan yang lebih baik”, jembatan itu dapat bermanfaat. Semoga.  
Google Pagerank
totokaryantowirjosoemarto. Diberdayakan oleh Blogger.