SARASEHAN KEWIRAUSAHAAN SOSIAL BAGI UMUM DAN SUKARELAWAN PMI

Satu misi kampoeng Relawan adalah mewujudkan Kewirausahaan Sosial di kalangan sukarelawan PMI. Implementasinya adalah menyelenggarakan Sarasehan Kewirausahaan Sosial dalam kegiatan KBN 2014 di Ruang Theatre STIKes Muhammadiyah Gombong pada Jumat, 15 Agustus 2014 yang akan menghadirkan para pembicara kompeten di bidangnya.

KARYA BAKTI UNTUK NEGERI: KOPDAR ALA KAMPOENG RELAWAN - BAGIAN II

Silaturahmi sangat dianjurkan oleh agama, khususnya Islam. Selain akan memperpanjang umum, juga membawa rejeki. Karya Bakti untuk Negeri (KBN) 2014 di Kebumen oleh Komunitas Sosial Media Kampoeng Relawan akan menjadi ajang silaturahmi sukarelawan PMI se Indonesia yang dirancang membawa banyak nilai tambah.

KARYA BAKTI UNTUK NEGERI: KOPDAR ALA KAMPOENG RELAWAN - BAGIAN I

Sebagai implementasi tujuan berdirinya Komunitas Sosial Media Sukarelawan PMI Kampoeng Relawan yaitu menguatkan upaya untuk kebaikan dan perbaikan organisasi PMI, komunitas yang telah memberi warna khusus bagi PMI masa depan ini akan menyelanggarakan satu kegiatan bersamaan perayaan Idul Fitri 1435H dan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke 69 tahun 2014

LOMBA KREATIVITAS BAGI SUKARELAWAN REMAJA PMI (PMR) MADYA

Lomba Kreativitas bagi PMR Madya setingkat SMP/MTs ini dimaksudkan agar memberi nuansa yang lebih luas dan membuka wawasan baru bagi para Pembina Pangkalan PMR Madya tentang beragam potensi kreatif anggota PMI yang sangat mungkin akan memajukan Pangkalan dan anggotanya

LOMBA KREATIVITAS BAGI PMR MULA SETINGKAT SD

Salah satu cara mengenalkan kegiatan Kepalangmerahan di lingkungan sekolah atau madrasah setingkat SD dan MI adalah menghadirkan pola pembinaan PMR Mula yang cakupan kegiatannya lebih luas dan variatif untuk menguatkan kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah atau Dokter Kecil.

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

24/05/13

Menelisik Perjalanan Diaspora Indonesia – Bagian II



Pro dan kontra pembentukan Jejaring Diaspora Indonesia (Indonesia Diaspora Network-IDN) mewarnai perjalanan mereka. Di tengah penyelenggaraan Kongres I Diaspora Indonesia di Los Angeles Convention Center, Amerika Serikat: 6 – 8 Juli 2012  yang menggunakan dua bahasa: Inggris dan Indonesia dan dibuka dengan lagu Tanah Air oleh anak penyanyi kondang Broery Pesolima, Laya Pesolima didampingi 3 penyanyi latar, ada demonstarsi kecil oleh sekelompok orang yang mengatas-namakan kaum minoritas Kristiani. Meski tidak mengganggu jalannya kongres itu, video demonstrasi yang ditayangkan You Tube ini menjadi bukti bahwa niat ribuan diaspora Indonesia untuk menyatukan pikiran, daya dan laku menuju satu Jejaring Diaspora Indonesia akan mengalami tantangan. Tentang adanya tantangan itu, inisiator Diaspora Indonesia yakni Dr. Dino Patti Djalal di tengah acara Lokakarya Nasional Diaspora Indonesia di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Selasa 26 Februari 2013. Tujuh tantangan itu adalah sebagai berikut:

1.      Pertama, adalah diaspora Indonesia harus mengerti dan memahami semua komunitas diaspora Indonesia.
2.      Pemerataan komunitas diaspora Indonesia di seluruh wilayah.
3.      Ketiga, anggota diaspora harus mulai bergaul di luar area komunitas mereka sendiri.
4.      Mencari cara untuk dapat memastikan gerakan ini akan bertahan lama. Menurut Dino, sebuah komunitas diaspora yang sukses adalah komunitas yang memulai gerakannya diam-diam. Setelah gerakannya dinilai besar, baru kemudian dipublikasikan.
5.      Tidak terjebak menjadi komunitas yang terlalu birokratis. Semua ide dan jaringan dari para anggota dapat mengalir dengan alami dan tidak dipaksakan.
6.      Harus menghindari konflik internal di antara anggota diaspora Indonesia.
7.      Sementara tantangan ketujuh adalah menghindari keterlibatan di dunia politik Indonesia.

Dijelaskan oleh inisiator, bahwa saat ini masih belum mampu memastikan jumlah dan keberadaan para diaspora Indonesia itu. Perkiraan angka moderat 6 – 8 juta orang atau angka optimis sekitar 10 juta orang adalah satu angka prediktif melalui pengamatan dan hasil interaksi dengan berbagai komunitas diaspora Indonesia pasca pelaksanaan Kongres I. Hal ini saya anggap masuk akal karena pada sesi pembukaan yang seorang peserta dari Afrika Selatan yang masih bertalian darah dengan tokoh penyebaran Islam di sana, Syeh Yusuf yang berasal dari Makassar menceritakan secara antusias latar belakang diaspora Indonesia di bekas negeri apartheid itu. Ia seorang politisi dan anggota parlemen. Namanya Dr. Ibrahim Rasul (seperti nama mantan anggota KPK di jaman pak Bibit Samad jadi ketuanya).

Dalam paparannya yang cukup panjang tentang misi diaspora “ …we’re moslem, but Indonesian. We’re Indonesian, but the human being.. that’s enough. It’s our vision “. Sebelum mengucapkan hal itu, beliau memaparkan kisah perjuangan Syekh Yusuf (Makasar) dan Tuan Guru dari Tidore di bidang pendidikan dan kesetaraan hak (asasi) manusia. Yang tak kalah penting dari isi sambutannya ialah cerita para orang Indonesia di Afrika Selatan dalam mendukung perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme Belanda dan Inggris.  
Mengamati kisah-kisah perjalanan diaspora Indonesia di berbagai belahan penjuru dunia baik melalui berita on line, reportase televise dan video You Tube, ada satu kesamaan di antara banyak perbedaan yang mengemuka. Diaspora Indonesia cinta dan ingin berbuat sesuatu buat Indonesia. Bagi mereka, Indonesia bukan hanya tanah lahir yang layak dikenang dari sisi manisnya. Tapi ada kepercayaan besar bahwa Indonesia adalah satu kekuatan yang saat ini masih tercerai-berai. Satu diantaranya adalah mereka sendiri, diaspora Indonesia. Melalui ikatan batiniah yang sangat sulit diukur dengan angka baik jumlah orang maupun aset yang dimiliki, potensi kekuatan yang masih tersimbang dalam masing-masing Diaspora Indonesia akan coba dipadukan dengan kekuatan yang ada di tanah air, Indonesia Raya.

Seperti umumnya sebuah gerakan besar yang diawali dengan gagasan mulia, tentu akan banyak mengalami tantangan dan hambatan. Bagaimana seorang Henry Dunant yang sudah mapan secara sosial dan ekonomi pada awalnya dicibir dan ditentang oleh banyak orang di negerinya, justru mendapat apresiasi tinggi di luar negaranya dalam menumbuh-kembangkan Gerakan kemanusiaan yang sekarang telah mendunia sebagai Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional sebagai satu gerakan yang diakui derajat kepercayaannya sangat tinggi. Konsistensi memelihara nilai dasar (core value) gerakan dalam mengaktualisasikan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan, kesamaan, kenetralan, kemandirian, kesukarelaan, kesatuan dan kesemestaan adalah jaminan kepercayaan itu.

Dalam beberapa hal, gagasan menyelenggarakan Jejaring Diaspora Indonesia memiliki kesamaan dengan gerakan yang digagas oleh Henry Dunant. Terutama dalam asas kemanusiaan dan kesamaan. Memang banyak diaspora Indonesia yang dilatarbelakangi masalah ekonomi atau perbaikan nasib. Tetapi tidak sedikit yang asalnya atau faktor pendorong utama menjadi diaspora adalah sebagai korban konflik politik dan sosial di Indonesia.  Bagi korban konflik politik, tantangannya lebih besar dari pada yang menjadi korban konflik sosial. Faktor traumatiknya juga lebih besar ketimbang yang beralasan ekonomi atau perbaikan nasib dalam artian umum.

Di balik sejumlah tantangan yang diidentifikasikan oleh penggagasnya di atas tentu ada peluang yang dapat menambah bobot kekuatan (potensi kekuatan) mereka. Anggap dan perlakukan tantangan itu sebagai peringatan dini atau upaya mitigasi sebelum berubah menjadi bencana. Dan saya yakin mereka telah mengetahui serta mengantisipasi semua tantangan itu dengan cermat. Jebakan-jebakan pragmatis yang bernuansa politik seperti permintaan menjadi satu daerah pemilihan khusus saya yakin akan dihindari sebagai satu tema besar untuk sementara waktu. Pada tataran wacana, hal itu sangat dimungkinkan mendapat tempat. Tapi, menjadikan wacana itu sebagai satu keputusan konkret dan mendesak dalam Kongres II Diaspora Indonesia yang bertema “Pulang Kampung” di Jakarta bulan Agustus mendatang, nampaknya akan sulit diwujudkan. Terutama bagi korban konflik politik nasional maupun lokal.  

20/03/13

Menggali Gundah Sang Penyair: Tembang Negeri Jajahan



Dalam karyanya berjudul “Tembang Negeri Jajahan” dengan sangat jelas Bambang Oeban menyebut nama Rafles (Thomas Stamford Rafles). Orang Inggris pertama yang jadi Gubernur Letnan (bukan Jenderal, seperti dalam masa pemerintahan Belanda) di masa penjajahan bangsa-bangsa asing sekitar tahun 1812 – 1816. Kegeraman sang penyair kepada tokoh yang satu ini tercermin pada bait syair :

Raffles,
Dari Inggris kaubawa otakmu ke tanah Jawa
Kau tumbangkan kuasa raja pribumi dengan siasat
Keilmuan leluhur digilas oleh kemahiran membaca
peta budaya kehidupan bangsa yang lemah
lewat riset dan fakta informasi
Warna politikmu menghanyutkan
merubah pikiran para penguasa pribumi


Pantai pantai, Bandar-bandar, lalu lintas lautan
dalam gengaman dengan bahasamu
yang menghanyutkan
telah kau asingkan raja yang kalah,
lalu kau pelihara raja pribumi dengan mas kawin tipu daya perjanjian

Rafles, tajam bius akal hasutmu
Kau bangun kekuatan militer demi membela rakyat
yang tertindas dari raja pribumi yang kau hujat jahat,
padahal kau terus menumpuk rempah-rempah
di gudang terbuat dari keringat rakyat

Apa kuasamu, tentara kerajaan dalam pengawasan ?
Kedu, Pacitan, Jipang dan Grobogan jadi seserahan
Tata ekonomi kamu monopoli
Memang Rafles tlah mengungsi dikebumikan sejarah
Tapi sikapmu banyak yang meneladani
Bagaimana ini?

Mengapa hanya Rafles ? Bukan Daendels? Kedua tokoh utama dalam sejarah penjajahan bangsa asing di Indonesia punya kerserupaan: memerintah dengan tipu daya. Rafles mungkin otaknya lebih encer karena mampu menemukan “cara halus” dalam hal pemetaan budaya.  Cara ini juga mengandaikan ia akan bersekutu dengan para bangsawan keraton untuk memuluskan jalan menginvasi pulau Jawa. Kerja rodi yang sangat ditentang oleh para sultan/ kasunanan  di masa kekuasaan Daendels diganti dengan sistem sewa tanah secara proporsional.

Dari beragam sumber yang berhasil dihimpun, gaya kepemimpinan Rafles cenderung reformatif. Menata-ulang bangunan tanpa mengganti fondasinya. Fondasi yang ditinggalkan oleh pendulunya, Daendels, ingin ditata seperti suasana di negerinya: Britania Raya. Ada perpaduan antara humanis yang tercermin dari kecintaannya pada budaya lokal, imperialis sesuai dengan misi utama menduduki tanah Jawa dan petualang yang romantik. Di tataran ekonomi, ia ternyata pengagum berat Adam Smith tentang pasar bebas. Perpaduan kepribadian yang sangat unik inikah yang menjadikan dirinya jadi obsesif?

Cukup sulit menerjemahkan “kegeraman” Bambang Oeban dengan kondisi faktual di Indonesia saat ini. Satu hal yang dapat saya pahami dari “nuansa Rafles” adalah seorang reformis melankolik. Di satu sisi, ia sangat menginginkan adanya pembaruan di dalam pemerintahannya dengan menerapkan kebijakan berbeda dari pendahulunya. Reformasi birokrasi yang ia lakukan adalah membagi Pulau Jawa menjadi 16 karesidenan, menurunkan kekuasaan bupati jadi setingkat wedana (pembantu bupati di masa Orba) atau camat. Dan memaksa pola administrasi pertanahan dikelola langsung di tingkat desa oleh lurah yang sebagian besar buta huruf menggantikan pola tanam paksa dan kerja rodi di jaman Daendels. Inilah yang dikenal sebagai kebijakan landrente  (kontrak sewa tanah). Akibat salah sasaran, kebijakan ini berubah menjadi “penguasaan hak atas tanah” diberikan kepada para pemodal kuat dari suku Cina dan India. Lurah yang semula dianggap sebagai figur pemimpin  demokratis kemudian diposisikan sebagai “tukang stempel/ cap jempol” karena kebuta-hurufannya. Boleh jadi, perubahan pola kebijakan itulah yang membuat para juragan jadi tuan tanah. Dan akhirnya jadi raja-raja kecil.

Di masa reformasi sekarang, pola pikir Rafles yang berlandaskan pada kekuatan pasar bebas di tangan raja-raja kecil dapat diterjemahkan sebagai “teladan” yang berlaku umum. Raja-raja kecil ada di mana-mana. Gedung DPR/DPRD, pemerintah dari pusat sampai ke pelosok. Di jalanan sampai ke rumah-rumah keluarga dsb. Jika opini tak mampu berpihak, maka “otot” harus jadi panglima. Artinya, kekerasan dalam segala bentuk dan skalanya adalah wujud dari keteladanan itu. Rakyak boleh dibodohi dengan sejumlah pelipur lara: BLT, Jamkesmas, beras gakin dll. Toh kuasa tetap berpihak pada proses tawar menawar yang menghasilkan keuntungan tinggi.   

Kecintaan luar biasa pada sang istri yang usianya lebih tua dan diakui cerdas (pintar) diwujudkan dengan mendirikan monumen di salah satu sudut Istana Bogor adalah satu bukti kepribadian Rafles yang melankolik. Dan kesukaannya pada budaya lokal: bahasa, artefak (penelitian candi-candi dan peninggalan kuno) serta pendirian lembaga ilmu pengetahuan dan budaya nampaknya tak jauh dari pribadi melankoliknya. Ia menentang perbudakan fisik, tapi membiarkan “penjajahan intelektual”. Kontroversial!

Memahami kegundahan sang penyair sama sulitnya dengan mendalami kepribadian seseorang “hanya” dari karya-karyanya. Masa perkenalan yang sangat pendek membuat subyektivitas saya lebih dominan. Dalam cerita sekilasnya, Bambang Oeban pernah merasakan “keterjajahan” ketika ia akan dilenyapkan dengan cara misterius. Bukan sekadar penyingkiran sistematis seperti dialami Bung Hatta di jaman Nasakom maupun Orba dan orang-orang yang dianggap sebagai “the enemy of the state”.

Subyektivitas saya memang banyak didorong oleh “kesamaan nasib” sebagai anak pejuang yang selalu memegang prinsip kejuangannya. Mungkin, di sisi inilah, kepekaan sosial kami terasah. Merdeka itu soal prinsip karena itu hak hidup manusia yang paling asasi. Hanya Sang Mahakuasa yang berhak mengambilnya, bukan manusia. Apalagi penjajah, dalam segala rupa dan caranya tentu saja. Hanya diingat ketika situasi darurat (dalam rerangka yang narsistis juga tentunya). 

19/03/13

Buku Sejarah Bangsaku - Menggali Gundah Penyair Bambang Oeban-Bagian Dua



Layar kaca telah kehilangan warna
cerita sejarah bangsa tiada berguna
musuhnya cuma remote control

Inilah kabar negeriku
cerita sejarah bangsa tersingkir
oleh anak bangsanya sendiri
Warisan suci nenek moyang
dibiarkan menggelandang di bawah jembatan
pada peradaban tehnologi modern

Buku sejarah kebudayaan bangsa,
dibumihanguskan oleh robot penakluk
produk impor atas nama pemujaan
akan selera kemaksiatan

Mesin-mesin waktu terus memburu
menggilas bacaan dan tatanan kebangsaan
Anak bangsa jadi dibutakan sudut pandang
Situasi negeri dibanjiri bacaan dan tontonan
kiriman bangsa asing yang menjajah
tata budaya yang jelas tak sama
Norma susila bangsa dirubah ujudnya
digilas pasar serba bebas !
Inikah cerita tragedi sejarah anak bangsa
Tanggung jawab siapa?



Gundah penyair Bambang Oeban adalah realita kehidupan saat ini. Ketika tontonan jadi tuntunan. Lihat dan simak program acara di semua saluran televisi.  Monoton dan penuh plagiat. Menghujat sana atau menghakimi sini.  Dari terbit sampai tenggelam matahari dan berganti hari. Saluran yang semula ingin fokus pada sisi edukatif, berubah jadi saluran yang mengklaim sebagai saluran bagi penggemar aliran musik tertentu sebelum diambil alih satu grup perusahaan yang tengah naik daun.  Apalagi kalau bukan untuk alasan kocek dan meraup iklan.

Coba perhatikan di sekeliling kita. Berapa banyak anak dan orangtua (terutama ibu) yang menghabiskan waktu menonton televisi dengan remote control selalu di tangan? Apa yang ditonton dan bagaimana dampaknya buat keluarga? Soal yang ditonton, bisa menu acara apapun. Tetapi dampak yang ditimbulkan akan berbeda-beda, tetapi kita akan sangat mudah mendapati orang-orang yang autis (asyik dengan dirinya, lupa atau menunda tanggung-jawab utama). Jangankan membaca buku sebagai sumber ilmu dan pengetahuan. Memilih program acara yang bukan berita dan gosip selebriti dan sinetron duplikatif opera sabun dan sejenisnya saja sudah agak baik.

Dunia hiburan di jaman modern ini telah menembus dinding budaya, etika, moral dan agama. Filter budaya tak lagi mampu menyaring desakan produk dan jasa teknologi digital. Imbauan atau batasan intenet sehat  hanya sebaris iklan layanan masyarakat sekadar memenuhi anjuran pemerintah bagi penyedia jasa (seperti peringatan pemerintah dalam bungkus rokok!). Dari telepon selular, seorang anak SD kelas I dapat dengan mudah mengakses situs-situs porno atau permainan online yang penuh kekerasan. Bahkan, dalam blog-blog yang sebenarnya berisi hal-hal bermanfaat semisal pemahaman ahlak yang baik, tata cara beragama yang benar dan sejenisnya terselit satu atau beberapa iklan seronok yang menampilkan aurat perempuan secara terbuka.

Dampak teknologi digital terhadap budaya lokal maupun nasional  bukan saka melemahkan, tetapi telah memasuki tahap penghancuran. Lebih parah lagi, para pegiat budaya banyak yang terjebak pada sisi artefak (artifisial)  ketimbang “isi” yang merupakan hasil pergulatan keadaban manusia dalam komunitas nasional. Dalam pertunjukan wayang misalnya, nilai-nilai luhur peradaban manusia yang melatar-belakangi cerita kurang menarik perhatian penonton ketimbang karaoke campursari yang banyak diisi tampilan suara dan gerak sinden atau penyanyi bersuara mendesah serta mengundang selera seksual. Suri teladan pada tokoh-tokoh pewayangan acapkali tertutup gebyar panggung hiburan yang disukai penonton untuk melepas kepenatan hidup.

Teknologi selalu bias terhadap budaya. Produk-produk teknologi memang ditujukan untuk memudahkan dan menurunkan kadar risiko celaka fisik pada manusia. Di sisi lain, produk teknologi selalu membawa sejumlah nilai budaya masyarakat yang menghasilkannya. Seiring dengan masuknya produk dan jasa teknologi digital ke Indonesia dari “peradaban modern”, masuk pula nilai-nilai budaya efisien (murah) dan instan (cepat jadi/matang). Anak-anak perempuan di Indonesia jadi lebih cepat matang karena telah mengalami haid pertama di usia 9 – 10 tahun. Belum genap usia 11, mereka telah merasakan “tanda-tanda kedewasaan”. Organ-organ seksualnya mulai muncul dan menarik perhatian lawan jenis. Hal yang sama juga terjadi pada anak laki-laki. Mereka telah memiliki dorongan seksual yang cukup kuat. Tanda-tanda ini banyak yang lupa dipahami oleh para orang tua karena keasyikan bekerja atau beraktivitas di luar rumah. Bagi yang ada di dalam rumah, banyak juga orang tua yang autis secara sosial. Akibatnya, anak (seolah) dibiarkan tumbuh dan berkembang tanpa pola asuh yang terarah dari orang tuanya. Semakin banyak kasus perkosaan, pelecehan seksual dan beragam bentuk tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bersumber dari autisme tadi.

Kegundahan Bambang Oeban pada praktik “pasar bebas”, bila ditangkap maknanya, bukan  sekadar dalam konteks ekonomi. Tetapi meluas ke sisi-sisi rentan dalam peradaban manusia. Moralitas kini bisa diperdagangkan sebagai komoditas sosial, politik dan budaya.  Bahkan telah masuk ke ruang “sakral “ agama. Apapun bisa diperdagangkan sepanjang “pasar bebas” tetap buka. Akibatnya, pasar bebas telah membumi-hanguskan bangunan yang disebut bangsa Indonesia. Tanggung jawab siapa ? 

17/03/13

Buku Sejarah Bangsaku - Menggali Gundah Penyair Bambang Oeban




Inilah kabar negeriku
buku sejarah dijajah kemajuan hayalan
selera gemar baca yang disimpangkan
dipertuan buku impor berjubal
menawarkan nikmatnya kekerasan
berbonus pukulan dan tendangan
Darah jadi simbol decak kagum

Entah mulai dari mana kabar ini berembus, tapi kegelisahan Bambang Oeban adalah miniatur kegundahan banyak orang yang menyadari bahwa negeri ini merdeka karena perjuangan anak-anak bangsa. Bukan hadiah dari bangsa penjajah seperti negeri seberang pulau kita.  Dan tayangan kekerasan hampir jadi menu harian di televisi dan media massa lainnya. Dari kekerasan fisik yang menonjolkan kekuatan otot, sampai kekerasan mental berbuah teror dan penyingkiran orang-orang yang dianggap menghalangi hasrat kekuasan atas kehidupan dan penghidupan masyarakat.  “Preman” bukan lagi mewakili keadaan orang yang benar-benar “prei makan” alias kelaparan karena tak ada bahan pangan untuk mengganjal perut kosongnya. Justru sebaliknya, kebanyan dari mereka adalah orang-orang yang telah berkecukupan materi dan berkelebihan kalau sekadar untuk memakan makanan yang 4 sehat 5 sempurna. Mereka adalah para “preman berdasi” yang menduduki posisi atau hal penting di tengah masyarakat. Jika terusik kepentingannya, mereka tak segan memakai tangan sendiri atau orang lain untuk memaksa. Mulai dari intimidasi, penganiayaan dan kekerasan fisik lain. Sampai mematikan sumber-sumber penghidupan orang (orang-orang) yang mengusiknya. Sementara itu, derajat keterusikan itu tidak sebanding dengan “balasan” yang ia lakukan. Congkak dan pendendam yang mengemuka.


Caci maki jadi warna hidup sehari-hari
mengendap di otak anak bangsa
Medan laga berdarah
dianggap arena permainan
yang mengasyikkan.

Para orang tua kepusingan
mencari hiburan di lampu remang
menghamburkan uang hasil serabutan
Wajah rumah tinggal pucat pasi
Bangunan mewah hanya pameran
buku sejarah tak kelihatan
terkalahkan buku hiburan


Yah… buku sejarah adalah jurnal kehidupan yang berisi aneka ragam nilai. Ada yang bertambah, ada juga yang berkurang. Boleh jadi akan ada koreksi atas catatan keliru di masa lalu. Tujuan utamanya adalah menjaga akuntabilitas. Itu yang semestinya. Tapi, yang banyak terjadi, justru isi jurnal kehidupan menampilkan hal-hal negatif. Sementara itu, sisi positif sering diabaikan karena alasan yang mengada-ada. Mengasihani diri jadi pegangan. Minta belas kasihan tak lagi jadi nyanyi orang-orang papa di jalanan. Tanpa ragu dan malu, orang-orang yang berkecukupan harta benda itu menjadi pengemis. Penghasilan tambahan ini menjadi modal dugem (dunia gemerlap di tempat-tempat hiburan malam: diskotik, karaoke, pesta seks bebas dll). Bambang Oeban menyebutnya dengan hiburan di lampu remang. Di tempat seperti itu, uang hasil serabutan (mengemis, korupsi, manipulasi dan sejenisnya) dihabiskan untuk membuang kepenatan (kepusingan). Jangankan buku sejarah yang biasanya juga berisi nasihat dan teladan. Buku-buku pengetahuan umum yang mencerahkan cakrawala pandang manusia dan menguatkan derajat kemanusiaannya tentu akan diabaikan. Paling mungkin majalah hiburan semacam Playboy yang mempertontonkan aurat dan mengundang nafsu birahi. Imbas dari keabu-abuan sumber penghasilan dan kini semakin jelas dengan kasus tindak pidana pencucian uang  hasil korupsi (Irjenpol Djoko Susilo), tindak pidana penggelapan pajak (Gayus Tambunan dll). Belum lagi sejumlah kasus korupsi yang melibatkan para pejabat publik, PNS atau warga masyarakat biasa. Keremangan lampu hanya satu bahasa kias dari ketidak-jelasan pengungkapan dan penyelesaian KKN (kolusi, korupsi dan nepotisme). Termasuk di dalamnya adalah kasus-kasus konstitusional yang menguntungkan sebagian orang di lembaga legislatif, eksekutif maupun yudikatif.

Inilah nasib buku sejarah bangsaku
sudah lama disingkirkan jadi pengangguran
Pengenangan perjuangan diabaikan
Para pahlawan dianggap jembatan
di abad kemajuan zaman

Di ruang perpustakaan
buku sejarah utuh bentuknya
terbengkelai terbungkus debu
terdiam dan dianggap bisu
dimakan waktu berlalu

Buku sejarah bangsaku
dibiarkan tertindas kemalangan
Buku-buku menggiurkan
membuat anak-anak jadi keranjingan
membuahkan imaji aa ii uu

menicu nafsu sebelum waktu
praktik uji coba berlaku tak ragu
orang tua sibuk mengisi saku
Buku sejarah bangsaku
selalu memendam
seribu gerutu

Inilah kabar negeriku
budaya tontonan jadi ladang persaingan
demi menjaring iklan meraup keuntungan
Aurat diperdagangkan
tak peduli nasib moral anak bangsa
sudah plesiran tak tentu arah mau ke mana?
Uang orang tua jadi sasaran
demi hasrat mengikuti
gaya hidup modern


Benang merah kegeraman Bambang Oeban kepada Rafles nampak mulai dapat dibentangkan dengan syair lain: “ Tembang Negeri Jajahan”. Ini yang akan jadi bahan galian berikutnya agar lebih memudahkan jalan dalam mereflesikan syair-syair kebangsaannya. 


Google Pagerank
totokaryantowirjosoemarto. Diberdayakan oleh Blogger.