13/05/13

Kenangan Malam Pertama Operasi Tanggap Darurat Gempa Jogja 2006



Menjadi relawan kemanusiaan di berbagai bencana alam maupun kemanusiaan adalah panggilan jiwa. Bukan karena surat tugas atau beragam formalitas lainnya. Norma, etika dan kapasitas pribadi menguatkan dorongan naluriah itu. Sikap ini acapkali menimbulkan salah paham dengan orang-orang kantoran yang biasanya hanya tahu hal-hal formal dan menunggu instruksi. Karena itu, pengalaman di masa lalu, para relawan “non formal” yang sering disebut sebagai Tenaga Suka Rela (TSR) dan berasal dari kalangan profesional di PMI sering mengalami perlakuan diskriminatif dari staf maupun pengurus PMI yang kebanyakan diisi oleh para pejabat lokal.  Sehingga, para relawan profesional yang menyumbangkan tenaga, pikiran, kemampuan pribadi dan akses sering merasa terasing di rumah sendiri.


Gempa DIY dan Jateng pada 27 Mei 2013 adalah sebuah momentum penting dalam proses perjalanan kerelawanan TSR. Ketika semua tengah bersiaga mengantisipasi erupsi Gunung Merapi, gempa yang berkekuatan 5,9SR mengagetkan semua orang. Pada saat kejadian, saya baru “turun gunung” sekitar 20 jam dari lokasi TPA (Tempat Pengungsian Aman) Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang. Dari kontak telepon selular dengan teman di lokasi itu, saya mendapat kepastian bahwa letusan itu bukan dari Gunung Merapi. Sambil memantau perkembangan di televisi, saya coba melakukan kontak telepon PSTN ke Markas Cabang PMI Bantul setelah mendapat informasi bahwa kejadian itu berasal dari gempa di pesisir Jogja. Petrus yang menerima kontak, meminta bantuan obat, ambulan dan relawan segera. Saat itu jam 06.30-an dan tak ada kontak lagi karena semua jaringan telepon maupun radio komunikasi 2 m-an yang frekuensinya dipinjami secara gratis oleh Lanal (Landasan Angkatan Laut) Jogja lewat Pak Suryadi Melati 2 juga terputus.  Sebagai rasa solidaritas dan tanggungjawab kemanusiaan, saya laporkan isi kontak terakhir itu ke Markas Cabang PMI Kebumen. 

Ketemu mas Kusmantoro (kakak kandung) di Piyungan n tukar rompi sementara


Menunggu jawaban dari laporan ke institusi PMI perlu waktu tidak sedikit. Sayapun mengambil inisiatif menghubungi beberapa teman yang punya informasi seperti permintaan Petrus. Sekitar jam 9 pagi, kami berhasil mengumpulkan sejumlah obat dan dua sepeda motor trail beserta pengemudinya. Keduanya tak punya bekal penanganan darurat dan pertolongan pertama. Tapi mereka sanggup melaksanakan tugas. Setelah berdiskusi sebentar dengan beberapa TSR Kebumen yang cukup paham jalur-jalur tikus ke arah Bantul, mereka berdua kami berangkatkan dengan satu pesan. “Apapun yang terjadi di jalan, prioritaskan ke Markas Cabang PMI Bantul dan temui Petrus atau orang-orang yang ada di dalam daftar “ yang kami sertakan.

Rombongan relawan PMI Cab Kebumen berjumlah 8 orang, diberangkatkan dengan satu mobil ambulans yang membawa peralatan dapur umum dan pertolongan pertama (first aid kit) dilepas oleh Ketua Bidang Humas yang juga seorang wartawan koran Suara Merdeka, Sdr, K. Wardopo (kini Ketua PMI Kabupaten Kebumen) dengan upacara sangat sederhana jam 13.00 WIB. Perjalanan sampai ke perbatasan Kabupaten Purworejo relatif lancar. Setelah itu tersendat sampai ke Markas Cabang PMI Bantul sekitar jam 17.00 WIB dan melaporkan kedatangan. Di sana sudah ada Pak Bambang Puspo yang menjabat Sekretaris PMI Kabupaten Bantul dan telah saling mengenal cukup lama. Setelah berdiskusi kecil, kami dibagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok berjumlah 6 orang menyiapkan tenda-tenda pengungsian. Saya dan M. Kamal (sekarang Kepala Markas PMI Cabang Bantul) membantu kesekretariatan.

Tugas pertama adalah memberi penjelasan kepada seseorang yang mengaku sebagai wakil sebuah partai politik yang sejak kedatangannya membuat suasana kerja di ruang secretariat sangat terganggu. Dia merasa sebagai wakil rakyat “berhak” mendapat prioritas. Saya paham tugas ini sulit dilakukan oleh teman-teman dari Bantul. Akhirnya, setelah saya jelaskan posisi PMI dalam situasi darurat mengutamakan korban hidup dan tidak ada kaitan dengan kepentingan politik maupun pemerintah, maka pilihan terakhir adalah mengusir ! Dengan nada keras dan tegas saya katakan. “ Jika anda memaksa, mohon maaf..anda harus keluar dari ruangan ini dengan atau tanpa paksaan. Kami diperbolehkan melakukannya…dan lihat yang ada di lapangan belakang sana! Mereka yang harus segera kami bantu, bukan anda…!”.  Setelah orang itu keluar dengan cara paksa, Sekretariat saya minta ditutup sementara untuk menyiapkan ruang dan alat.

Ada peristiwa yang tak mungkin dapat saya lupakan di hari pertama kejadian. Ketika dititipi sejumlah tenda dan peralatan yang masih tebungkus rapi dalam kotak kayu dan plastik bertuliskan Japan Red Cross, datang dua orang yang meminta saya untuk menyerahkan barang-barang tadi. Saya ngotot minta surat tugas mereka. Merekapun tak kalah “garang”. Akhirnya saya bilang, “Silakan anda bawa dokter Indonesia yang anda kenal ke sini. Saya tunggu !”, mereka berlalu sambil menggerutu dalam bahasa Jepang. Selang seperempat jam kemudian, mereka mengajak doker Agus Zuliyanto dari PMI Banyumas yang oleh teman-teman dijuluki Dogil  (doker gila, karena kelakukannya memang gila-gilaan ). Setelah doker Agus meminta, saya melepas barang tersebut dengan permintaan maaf. Mereka paham dan kami saling berpelukan. Dalam hati saya bilang. “ rasain …  enak amat  ngaku-ngaku milikmu dan menganggap semua orang Indonesia gampangan..? Enak aja……..buktikan dunk!”, sambil berlalu.

 Kiri-kanan: dr. Agus-dr.Seno n Kepala RS Darurat + staf


Hari mulai gelap. Satu-satunya genset yang ada dan bisa dipakai telah dibawa ke Rumah Sakit Darurat di Lapangan Dwi Windu belakang markas. Di sana ada dua orang tenaga medis yang tengah menangani luka serius pasien korban gempa. Kaki kanan dan lengan kirinya remuk. Entah yang ke berapa, pasien itu meraung kesakitan. Saya bertanya kepada perawat yang mendampingi. Katanya, tim medis kehabisan bius dan pasien yang harus ditangani tambah terus. Ini pasien ke 30 yang ditangani satu dokter dan asistennya dari Jogja. Mereka berdua berasal dari sebuah klinik swasta yang bangunannya hancur akibat gempa. Semua pasien dan tenaga medis diungsikan di RS Darurat PMI ini. Kelalah nampak sekali di wajah kedua tenaga medis itu. Terutama sang dokter yang usianya sekitar 40an tahun. Ia adalah dokter pertama yang memprakarsai pendirian RS Darurat (sebelum diganti nama menjadi Rumah Sakit Lapangan atau RSL yang dikelola bersama Departemen Kesehatan Republik Indonesia) yang mulai beroperasi sejak siang hari dengan tempat seadanya.
Ruang operasi adalah sebuah tenda seng (tarub/terop) yang semula akan dipakai untuk tribun kehormatan turnamen sepak bola se Kab. Bantul pada esok hari, 28 Mei 2005. Meja operasinya adalah deretan meja belajar yang dipinjam dari sebuah SD di Selatan lapangan bola itu. Hanya dilandasi karpet dan ruang itu juga dibatasi dengan karpet yang berbeda ketebalannya. Benar-benar darurat dalam segala hal.     

Ada yang hampir terlewati. Hari pertama sampai satu minggu, listrik di Bantul secara umum padam. Komandan KSR PMI Bantul saat itu, Suwandi yang akrab dipanggil Wondo dan beberapa teman tengah menyiapkan sambungan-sambungan kabel ke berbagai titik. Tiba-tiba hujan turun sangat deras. Air seperti ditumpahkan dari langit. Relawan terpecah konsentrasinya antara menerima bantuan kemanusiaan yang terus mengalir, menyiapkan makan malam di dapur umum dan melakukan evakuasi korban yang ada di tenda perawatan darurat. Untuk beberapa saat suasana sekitar lokasi pengungsian dan RS Darurat PMI kacau.
Ada kepanikan yang cukup membuat repot para relawan ketika air terus meninggi dan hampir menutup sisi paling atas jajaran kotak kayu yang jadi lantai buat ruang rawat sementara pasien di bawah tenda. Kepanikan bertambah dengan masuknya beberapa pengungsi yang mengendarai mobil ke kawasan lapangan Dwi Windu di tengah arus evakuasi dan suasana gelap gulita. Sebagian pasien yang tengah di ruang rawat sementara telah berhasil dievakuasi ke tenda-tenda perawatan yang kondisinya lebih baik di atas lapangan tenis sebelah Barat lapangan. Berkali-kali  kami beritahu lewat megaphone kalau lingkungan sekitar Lapangan Dwi Windu khusus untuk menampung pasien dan aktivitas RS Darurat. Akhirnya, di tengah yang hujan kian lebat, harapan melakukan evakuasi maksimal tercapai karena kesigapan teman-teman relawan Satgana PMI yang terus berdatangan dari berbagai kota di Pulau Jawa. Sekitar jam 9 malam hujan reda, saya kembali ke sekretariat membantu penerimaan bantuan logistik. Satu diantara beberapa bagian yang nantinya merupakan tantangan dan kisah tersendiri. Tubuh memang terasa sangat lelah dan bersin-bersin. Tapi ada yang melintas di benak, saya bawa Bodrex di tas pribadi sebagai antisipasi ketidak-pastian cuaca di lapangan. Cakup satu dan terus maju, melangkah ke ladang pengambian pada kemanusiaan bersama Bodrex. 


Santai sejenak bersama Sudarti Bantul di depan gudang logistik



Tulisan ini juga ada di Kompasiana. 

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Min, persyaratannya masih kurang ya... belum mencantumkan screen shoot bukti follow twitter @keluargabodrex, @VIVA_log dan like fanpage facebook keluarga bodrex..

Google Pagerank
totokaryantowirjosoemarto. Diberdayakan oleh Blogger.